Jurnalisme Warga
Sebelum Lupa, Ayo Bangun Museum Smong
Kota Banda Aceh menjadi pusat peringatan nasional HKB Tahun 2026. HKB kali ini mengusung tema “Siap untuk Selamat.”
Unen ne alek linon
(awalnya terjadi gempa)
suruik wek sahuli
(surut air laut)
Fesang bakat ne malli
(Disusul ombak yang besar sekali)
Tibo-tibo mawi
(Tiba-tiba saja).
Demikianlah bait syair smong dalam bahasa Devayan, karya Mohd Riswan R, sang maestro
bahasa Devayan.
Awalnya, alarm alam itu muncul seusai bencana gempa dan tsunami dahsyat yang meluluhlantakkan Pulau Simeulue pada tahun 1907, 97 tahun silam sebelum tsunami menggulung Bumi Aceh pada 26 Desember 2004.
Berbekal ingatan sejarah melalui syair smong itulah banyak nyawa di Simeulue terselamatkan. Korban jiwa hanya tiga orang, padahal Simeulue sangat dekat dengan episentrum gempa yang memicu tsunami.
Di Aceh, ingatan tentang bencana bukan sekadar catatan sejarah, tapi ia adalah pengalaman kolektif yang pernah mengguncang dunia, terutama sejak smong Aceh 2004 silam menggulung daratan dan meluluhlantakkan pesisir dan kehidupan.
Namun ironisnya, di tengah gempuran arus globalisasi dan pergeseran budaya, dikhawatirkan pengetahuan tentang smong justru terancam hilang sebagai suatu sistem peringatan alami yang telah teruji zaman; sederhana, tapi menyelamatkan. Oleh karenanya, edukasi
kebencanaan dibutuhkan untuk menyelamatkan generasi selanjutnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ALEX-ARAO-OKE.jpg)