Breaking News
Selasa, 9 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Sebelum Lupa, Ayo Bangun Museum Smong

Kota Banda Aceh menjadi pusat peringatan nasional HKB Tahun 2026. HKB kali ini mengusung tema “Siap untuk Selamat.”

Tayang:
Editor: mufti
IST
ALEX ARAO, S.Pd., Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Provinsi Aceh dan pegiat literasi Rumah Baca Simeulue Cerdas, melaporkan dari Sinabang 

Unen ne alek linon

(awalnya terjadi gempa)

suruik wek sahuli

(surut air laut)

Fesang bakat ne malli

(Disusul ombak yang besar sekali)

Tibo-tibo mawi

(Tiba-tiba saja).

Demikianlah bait syair smong dalam bahasa Devayan, karya Mohd Riswan R, sang maestro

bahasa Devayan.

Awalnya, alarm alam itu muncul seusai bencana gempa dan tsunami dahsyat yang meluluhlantakkan Pulau Simeulue pada tahun 1907, 97 tahun silam sebelum tsunami menggulung Bumi Aceh pada 26 Desember 2004.

Berbekal ingatan sejarah melalui syair smong itulah banyak nyawa di Simeulue terselamatkan. Korban jiwa hanya tiga orang, padahal Simeulue sangat dekat dengan episentrum gempa yang memicu tsunami.

Di Aceh, ingatan tentang bencana bukan sekadar catatan sejarah, tapi ia adalah pengalaman kolektif yang pernah mengguncang dunia, terutama sejak smong Aceh 2004 silam menggulung daratan dan meluluhlantakkan pesisir dan kehidupan.

Namun ironisnya, di tengah gempuran arus globalisasi dan pergeseran budaya, dikhawatirkan pengetahuan tentang smong justru terancam hilang sebagai suatu sistem peringatan alami yang telah teruji zaman; sederhana, tapi menyelamatkan. Oleh karenanya, edukasi

kebencanaan dibutuhkan untuk menyelamatkan generasi selanjutnya.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved