Jurnalisme Warga
Sebelum Lupa, Ayo Bangun Museum Smong
Kota Banda Aceh menjadi pusat peringatan nasional HKB Tahun 2026. HKB kali ini mengusung tema “Siap untuk Selamat.”
ALEX ARAO, S.Pd., Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Provinsi Aceh dan pegiat literasi Rumah Baca Simeulue Cerdas, melaporkan dari Sinabang
Setiap tanggal 26 April di Indonesia, diperingati sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB). Tujuannya, untuk meningkatkan kesadaran, kewaspadaan, dan budaya sadar bencana.
Kota Banda Aceh menjadi pusat peringatan nasional HKB Tahun 2026. HKB kali ini mengusung tema “Siap untuk Selamat.”
Seperti yang diberitakan di laman Harian Serambi Indonesia edisi Senin (27/4/2026), ada judul “Seni Adaptasi Nandong Smong Meriahkan Panggung HKB Banda Aceh.”
Menurut kabarnya, seni Nandong, budaya pitutur warisan leluhur dari tanah kelahiran saya, Simeulue tersebut, turut ditampilkan untuk memeriahkan agenda peringatan HKB Tahun 2026 di area Car Free Day Kota Banda Aceh, Minggu, 26 April 2026.
Menariknya, pada pemberitaan itu, penampilan seni Nandong smong di panggung HKB tersebut tidak dipertunjukkan oleh seniman Nandong asli Simeulue, melainkan dilakoni oleh tim kolaborasi yang terdiri atas Generasi Edukasi Nanggroe Aceh atau GEN-A, Fastana-TDMRC
Universitas Syiah Kuala (USK), mahasiswa Magister Ilmu Kebencanaan USK, serta alumni Student Exchange KMITL-USK.
Panggung pertunjukan yang diinisiasi kaum intelektual Kampus USK Darussalam itu, menyalakan imajinasi pengunjung dan warga yang melintas di kawasan Car Free Day.
Sebuah kabar yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan pesan yang jauh lebih dalam dari sekadar peristiwa serimonial. Dari berita itu, terasa bahwa di tengah upaya modern mengedukasi publik tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami, ada warisan lokal yang lebih awal mengajarkan cara bijak mengenali tanda-tanda alam (sasmita) dan mitigasi yang tepat dalam menyelamatkan diri, seperti yang dinukilkan dalam bait syair Nandong. Hanya saja, kita sering kali terlambat untuk sungguh-sungguh mendengarkan.
Kearifan lokal smong yang ditampilkan pada agenda penting tersebut, bisa menjadi alarm alam untuk kesiapsiagaan kita ketika terjadi bencana alam gempa dan tsunami.
Pesan edukasi dalam menghadapi gempa dan tsunami/smong, ditemukan dalam bait syair bahasa Devayan, Simolol, dan Sigulai:
“Enggelan mon sao surito (Dengarlah sebuah cerita)
Inang maso semonan
(Pada zaman dahulu) Malokngop sao ne fano (Tenggelam seluruh kampung) Uwilah da sesewan
(Cerita para leluhur)
Unen ne alek linon
(awalnya terjadi gempa)
suruik wek sahuli
(surut air laut)
Fesang bakat ne malli
(Disusul ombak yang besar sekali)
Tibo-tibo mawi
(Tiba-tiba saja).
Demikianlah bait syair smong dalam bahasa Devayan, karya Mohd Riswan R, sang maestro
bahasa Devayan.
Awalnya, alarm alam itu muncul seusai bencana gempa dan tsunami dahsyat yang meluluhlantakkan Pulau Simeulue pada tahun 1907, 97 tahun silam sebelum tsunami menggulung Bumi Aceh pada 26 Desember 2004.
Berbekal ingatan sejarah melalui syair smong itulah banyak nyawa di Simeulue terselamatkan. Korban jiwa hanya tiga orang, padahal Simeulue sangat dekat dengan episentrum gempa yang memicu tsunami.
Di Aceh, ingatan tentang bencana bukan sekadar catatan sejarah, tapi ia adalah pengalaman kolektif yang pernah mengguncang dunia, terutama sejak smong Aceh 2004 silam menggulung daratan dan meluluhlantakkan pesisir dan kehidupan.
Namun ironisnya, di tengah gempuran arus globalisasi dan pergeseran budaya, dikhawatirkan pengetahuan tentang smong justru terancam hilang sebagai suatu sistem peringatan alami yang telah teruji zaman; sederhana, tapi menyelamatkan. Oleh karenanya, edukasi
kebencanaan dibutuhkan untuk menyelamatkan generasi selanjutnya.
Peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana tahun ini, harusnya menjadi momentum untuk menyegarkan kembali ingatan itu, tidak sekadar mengenang, akan tetapi menginternalisasi, dan bukan sekadar mendengar, melainkan mewariskan pengetahuan dan pengalaman tentang itu untuk generasi sekarang dan mendatang.
Di Kota Banda Aceh, ada Museum Tsunami, Museum Kapal Apung, dan beberapa objek sejarah lainnya yang bisa mengedukasi dan merawat ingatan kita tentang bencana alam gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada Minggu pagi tanggal 26 Desember 2004 itu.
Lalu, bagaimana dengan smong, apakah perlu “dirumahkan” di tanah asalnya, Simeulue?
Jawabannya: tentulah sangat perlu. Gagasan untuk membangun Museum Smong di Simeulue, bukan tanpa alasan. Ada beberapa alasan yang menguatkan ide tersebut:
- smong sebagai warisan pengetahuan
Smong tidak hanya sekadar cerita rakyat, tetapi ia adalah sitem peringatan dini berbasis kearifan lokal. Ketika gempa besar terjadi dan air laut tiba-tiba surut, penduduk yang bermukim di pulau yang terletak di tengah samudra ini tidak menunggu sirene dan instruksi, spontan mereka berlari ke tempat-tempat yang lebih tinggi.
Pengetahuan itu menjadi bukti nyata bahwa petuah dalam syair smong menyelamatkan puluhan ribu nyawa manusia;
- menjadi ruang edukasi kebencanaan berbasis budaya
Melalui tradisi smong ingatan lisan menjadi arsip ilmiah;
- menjadi pengingat sejarah agar tidak dilupakan oleh generasi kini dan mendatang;
- penguatan identitas budaya Simeulue
Keberadaannya memperkuat rasa bangga masyarakat Simeulue terhadap budaya sendiri dan menjadi bukti bahwa masyarakat lokal memiliki sistem pengetahuan yang cerdas dan adaptif;
- potensi jadi destinasi wisata edukatif dan menggerakkan ekonomi masyarakat;
- menjadi pusat dokumentasi ilmiah kebencanaan;
- peluang digitalisasi dan museum modern; dan
- kontribusi Simeulue untuk dunia.
Nantinya Museum Smong Simeulue diharapkan lebih dari sekadar menyimpan arsip
Sejarah. Keberadaannya harus lebih dari itu. Dari Simeulue, dunia teredukasi bahwa kearifan lokal smong bukan sesuatu yang usang dan ketinggalan zaman, melainkan sumber pengetahuan yang hidup dan menyelamatkan.
Biasanya museum dibangun untuk mengenang masa lalu. Namun, beda dengan Museum Smong, ia dibangun untuk menjaga masa depan, melestarikan kearifan lokal smong yang terintegrasi dengan nilai-nilai religius.
Museum Smong, dari Simeulue untuk dunia.
Sebelum lupa, apakah smong dibiarkan hanya hidup dalam cerita atau memberinya rumah
yang layak?
Museum Smong tidak hanya mengabarkan kepada dunia tentang bencana alam gempa
dan gelombang laut yang dahsyat itu, tetapi juga mengingatkan seluruh penduduk yang mendiami
kolong Bumi ini, untuk mamastikan bahwa ketika bencana datang lagi, kita semua sudah siap untuk selamat, bukan karena takut, melainkan karena kita tahu apa yang harus dilakukan.
Membuatkan rumah untuk smong Simeulue adalah menjadi sesuatu yang penting dan mendesak, dan harus menjadi prioritas utama bagi Pemerintah Kabupaten Simeulue dan Pemerintah Aceh.
Rumah Smong Simeulue, bukan sekadar menghadirkan bangunan fisik belaka, melainkan menciptakan ruang hidup bagi pengetahuan lokal untuk bertahan di tengah perubahan zaman.
Museum Smong Simeulue akan menjadi penghubung masa lalu, kini, dan masa depan. Semoga!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ALEX-ARAO-OKE.jpg)