Selasa, 9 Juni 2026

KUPI BEUNGOH

Lapangan Tangkulo dan Masa Depan Energi Aceh: Peluang Strategis yang Tak Boleh Disia-siakan

Namun peluang itu hadir bukan tanpa syarat. Ia datang bersama tuntutan, kesiapan regulasi, kedewasaan kelembagaan, dan keberanian politik

Tayang:
Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Dr. Muhammad Ridwansyah, Dosen Tetap Fakulas Hukum Universitas Sains Cut Nyak Dhien 

Oleh: Dr. Muhammad Ridwansyah*)

PADA tanggal 9 Maret 2026, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, Bahlil Lahadalia, menandatangani surat bernomor T-85/MG.04/MEM.M/2026 sebuah dokumen yang secara resmi memberikan persetujuan atas Rencana Pengembangan Lapangan yang Pertama (Plan of Development/POD I) Lapangan Tangkulo pada Wilayah Kerja South Andaman

Persetujuan itu diteruskan empat hari kemudian oleh Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, kepada Presiden Direktur Mubadala Energy (South Andaman) RSC. Ltd. 

Dua lembar kertas itu, beserta lampirannya yang penuh dengan angka dan tabel produksi, menyimpan konsekuensi besar: Aceh berpeluang kembali menjadi provinsi produsen gas bumi terkemuka di Indonesia.

Namun peluang itu hadir bukan tanpa syarat. Ia datang bersama tuntutan, kesiapan regulasi, kedewasaan kelembagaan, dan keberanian politik dari seluruh pemangku kepentingan di Aceh. 

Baca juga: Eksplorasi Blok Andaman Dinilai Berpotensi Ulangi Trauma Arun, ACPD Desak Bangun Sistem Islanding

Pertanyaannya bukan sekadar apakah gas Tangkulo akan mengalir berdasarkan dokumen yang ada, jawabannya sudah jelas: ya, ia akan mengalir. 

Pertanyaannya adalah: untuk siapa gas itu mengalir, dan bagaimana Aceh memposisikan dirinya dalam rantai nilai yang akan terbentuk?

Bukan Sumur Gas Biasa

Dokumen SKK Migas mengungkap angka-angka yang tidak boleh dibaca sambil lalu. 

Lapangan Tangkulo menyimpan cadangan gas terpulihkan (recoverable reserve) sebesar 1.129 BSCF pada skenario economic limit, dengan target reservoir utama Formasi Bampo pada kedalaman lebih dari 1.200 meter di bawah dasar laut. 

Initial Gas in Place mencapai 2.008 BSCF (P1+P2). Produksi puncak diproyeksikan mencapai 312 MMSCFD rata-rata pada periode 2030–2033, dengan first sales gas dijadwalkan pada Q1 2029. 

Di samping gas, lapangan ini juga akan memproduksi kondensat sebesar 26,6 MMSTB dengan laju produksi puncak 7.416 BOPD.

Baca juga: Wagub Aceh dan Mensos RI Disambut Antusias di Sekolah Rakyat

Untuk mengekstraksi cadangan sebesar itu, Kontraktor Mubadala Energy (South Andaman) RSC. Ltd. selaku operator bersama Premier Oil South Andaman Limited berencana mengebor 8 (delapan) sumur pengembangan bawah laut yang dihubungkan ke sebuah Floating Production Storage and Offloading (FPSO). 

Gas yang dihasilkan akan diproses di FPSO, dikompresi, lalu dialirkan melalui pipa bawah laut sepanjang 84-kilometer ke Onshore Receiving Facility (ORF) baru yang berlokasi di dekat Terminal Arun, Aceh Utara. Dari situ, gas akan disalurkan ke pasar domestik.

Total biaya investasi yang dibutuhkan mencapai US$ 1,82 miliar (tanpa eskalasi), atau US$ 1,95 miliar dengan eskalasi 2,3 persen per tahun. 

Baca juga: 2.640 Cama Ikut UM-PTKIN, Pendaftar di UIN Ar-Raniry Terbanyak di Sumatera

Biaya operasi kumulatif hingga economic limit tahun 2043 mencapai US$ 4,6–5,5 miliar. Adapun sunk cost eksplorasi yang telah dikeluarkan Kontraktor sejak blok ini mulai dikerjakan sebesar US$ 338,16 juta, terdiri atas pengeboran eksplorasi, survei seismik, dan administrasi. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved