Kupi Beungoh
Sulaiman Tripa: Dari Pantee Raja ke Mimbar Profesor
Prof. Dr. Sulaiman Tripa, S.H., M.Hum. dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala pada 9 Juni 2026
Ringkasan Berita:
- Prof. Dr. Sulaiman Tripa, S.H., M.Hum. dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala pada 9 Juni 2026
- Beliau dikenal sebagai akademisi yang sangat produktif dengan tradisi meluncurkan buku baru setiap hari ulang tahunnya
- Pidato pengukuhannya menyoroti reorientasi pengakuan hukum tanah adat dalam sistem hukum nasional Indonesia
- Perjalanan kariernya dimulai dari penulis opini di media massa hingga menjadi pengelola jurnal ilmiah bereputasi
Oleh: Prof. Dr. dr. Rajuddin, SpOG(K), Subsp.FER
Di tengah derasnya arus informasi dan semakin singkatnya rentang perhatian masyarakat terhadap bacaan panjang, masih ada segelintir orang yang memilih bertahan dalam sunyi dunia literasi. Mereka tidak sekadar membaca, tetapi juga menulis. Tidak hanya sesekali, melainkan menjadikannya jalan hidup.
Salah satu di antaranya adalah Prof. Dr. Sulaiman Tripa, S.H., M.Hum., yang pada 9 Juni 2026 mencapai puncak karier akademiknya setelah dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala dalam sidang senat terbuka yang dipimpin oleh Rektor USK, Prof. Dr. Mirza Tabrani, S.E., M.B.A.
Pengukuhan guru besar lazimnya dipahami sebagai puncak karier akademik seseorang. Namun, bagi Sulaiman Tripa, capaian itu tampaknya bukan titik akhir, melainkan salah satu penanda perjalanan panjang yang telah ditempuhnya sejak masa kuliah.
Perjalanan yang dibangun bukan hanya melalui ruang kuliah dan jurnal ilmiah, tetapi juga melalui ribuan halaman tulisan yang lahir dari kegelisahan intelektual dan kepedulian terhadap masyarakat.
Nama Sulaiman Tripa tidak asing bagi pembaca media di Aceh. Sejak masih menjadi mahasiswa pada akhir 1990-an, tulisannya telah menghiasi halaman opini berbagai surat kabar, terutama Serambi Indonesia. Pada masa itu, tidak banyak mahasiswa yang mampu secara konsisten menembus ruang opini di media massa.
Beliau mampu mempertahankan konsistensi tersebut hingga puluhan tahun kemudian. Menulis bagi Sulaiman bukan aktivitas sambilan. Menulis adalah bagian dari identitas dirinya. Karena itu, tidak mengherankan jika setiap tanggal 2 April, yang merupakan hari kelahirannya, ia memiliki tradisi unik: meluncurkan buku baru.
Tradisi itu telah berlangsung selama lebih dari dua dekade. Pada ulang tahunnya pada tahun 2026, beliau mempersembahkan buku Bencana Hukum dan Ekologi Berketuhanan. Setahun sebelumnya, menerbitkan "Mengapa Bernegara Hukum". Sebelumnya, puluhan karya lain lahir dari tangannya.
Tradisi tersebut mengandung pesan yang mendalam. Di saat banyak orang merayakan usia dengan pesta dan seremoni, Sulaiman memilih merayakannya dengan gagasan. Beliau menjadikan hari lahir sebagai momentum untuk memberi manfaat bagi publik melalui tulisan.
Jejak kepenulisannya dimulai sejak masa kuliah. Buku pertamanya, Kekerasan Itu Tak Damai Sekalipun, terbit pada tahun 2001. Setahun kemudian menyusul Mencari Bumi yang Tak Gelisah. Kedua buku itu lahir pada masa Aceh masih berada dalam pusaran konflik bersenjata. Di dalamnya tergambar kegelisahan seorang anak muda yang mencoba memahami realitas sosial di sekitarnya.
Barangkali pengalaman hidup di tengah konflik, dinamika sosial, dan pergulatan masyarakat Aceh itulah yang kemudian membentuk sensitivitas intelektualnya terhadap persoalan hukum, keadilan, dan hak-hak masyarakat adat.
Lahir di Pantee Raja, Kabupaten Pidie, pada 2 April 1976, Sulaiman berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya, almarhum Teuku Umar bin Ahmad, adalah petani sekaligus dipercaya sebagai khatib di masjid kampungnya. Dari lingkungan keluarga inilah tumbuh nilai-nilai kesederhanaan, ketekunan, dan pengabdian yang kemudian menjadi fondasi perjalanan akademiknya.
Perjalanan pendidikan membawanya dari Universitas Syiah Kuala ke Universitas Diponegoro. Di kampus tersebut beliau menyelesaikan pendidikan magister dan doktoral bidang hukum. Namun, yang menarik, produktivitas intelektualnya justru semakin meningkat selama masa studi.
Kuliah tidak membuatnya berhenti menulis. Sebaliknya, ruang akademik menjadi lahan subur bagi lahirnya gagasan-gagasan baru. Produktivitas tersebut tidak hanya terlihat dari jumlah buku yang ditulis, tetapi juga dari kontribusinya dalam membangun tradisi akademik. Salah satu contoh penting adalah ketika beliau dipercaya mengelola Kanun Jurnal Ilmu Hukum.
| Lapangan Tangkulo dan Masa Depan Energi Aceh: Peluang Strategis yang Tak Boleh Disia-siakan |
|
|---|
| MBG dan Piring Keadilan yang Retak |
|
|---|
| Generasi Muda dan Tantangan Demokrasi Pancasila di Era Digital: Antara Kebebasan dan Tanggung Jawab |
|
|---|
| Pendidikan bukan Komoditas, Saatnya Negara Kembali Hadir |
|
|---|
| Peluru Terakhir Aceh, Setelah Itu Wassalamu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-dr-Rajuddin-SpOGK-SubspFER-11-11.jpg)