Ini Alasan Laptop Harus Dikeluarkan Saat Pemeriksaan X-Ray di Bandara
Laptop dan tablet harus dikeluarkan saat pemeriksaan karena ukuran dan kepadatan komponennya dapat menghalangi pemindaian X-ray.
Ringkasan Berita:
- Laptop memiliki baterai besar dan komponen padat yang membuat hasil X-ray tampak gelap sehingga bisa menutupi barang lain di dalam tas.
- Otoritas seperti Transportation Security Administration mewajibkan laptop dikeluarkan agar pemeriksaan lebih jelas dan aman.
- Bandara dengan teknologi CT scanner memungkinkan laptop tetap di dalam tas karena mampu menampilkan gambar 3D isi koper secara detail.
SERAMBINEWS.COM - Laptop dan tablet harus dikeluarkan saat pemeriksaan karena ukuran dan kepadatan komponennya dapat menghalangi pemindaian X-ray.
Namun, dengan teknologi CT scanner yang lebih canggih, aturan ini mulai berubah di beberapa bandara.
Seperti diketahui, saat melewati pemeriksaan keamanan di bandar udara (bandara), penumpang sering diminta mengeluarkan laptop dari tas sebelum tas tersebut masuk ke mesin pemindai X-ray.
Hal yang sama juga sering berlaku untuk tablet berukuran besar. Namun, yang jadi pertanyaan bagi sebagian banyak orang, mengapa hanya laptop dan tablet yang harus dikeluarkan dari tas atau koper kabin?
Mengapa perangkat elektronik lain seperti ponsel, earphone, atau headphone biasanya tidak perlu dipisahkan?
Jawabannya berkaitan dengan ukuran dan struktur perangkat tersebut.
Baca juga: KPK Tegaskan Status Tahanan Rumah Yaqut Tak Ganggu Proses Penyidikan
Batasan X-ray
Laptop dan tablet memiliki baterai ukuran besar, rangka logam, serta berbagai komponen elektronik yang lebih padat dari HP atau headphone.
Komponen-komponen ini membuat laptop terlihat sangat “tebal” dalam hasil pemindaian X-ray.
Pada mesin X-ray konvensional yang digunakan di banyak bandara, kepadatan tersebut dapat menghalangi pandangan petugas terhadap barang lain yang berada di dalam tas.
Pasalnya, mesin X-ray bandara bekerja dengan menembakkan sinar X ke dalam tas.
Sinar ini akan lebih sulit menembus material yang padat, seperti logam atau baterai berkapasitas besar.
Baca juga: KPK Alihkan Penahanan Yaqut Cholil Qoumas ke Rumah, Ini Alasannya
Ketika sinar sulit menembus, bagian tersebut terlihat gelap atau solid di layar pemindai.
Laptop memiliki sejumlah komponen yang membuatnya tampak seperti blok padat pada gambar X-ray.
Misalnya baterai lithium berukuran besar, papan sirkuit utama (motherboard), serta berbagai komponen elektronik yang tersusun rapat di dalam perangkat.
Akibatnya, jika laptop atau tablet tetap berada di dalam tas, bagian bawahnya bisa tertutup dari pandangan mesin pemindai.
Hal ini membuat petugas sulit melihat benda lain yang berada di bawah atau di belakang laptop di dalam tas.
Karena itulah petugas biasanya meminta penumpang mengeluarkan laptop atau tablet dan meletakkannya di baki terpisah.
Baca juga: Polres Aceh Timur Dirikan Pos Taktis untuk Pengamanan Wisata Lebaran
Dengan cara ini, perangkat dapat diperiksa dengan lebih jelas tanpa menutupi barang lain di dalam hand carry.
Di Amerika Serikat, aturan ini bahkan sudah menjadi prosedur resmi selama bertahun-tahun.
Otoritas keamanan transportasi AS, Transportation Security Administration (TSA), menyebut penumpang memang harus mengeluarkan laptop dari tas saat pemeriksaan X-ray.
Tujuannya agar petugas keamanan dapat melihat perangkat tersebut dengan jelas dan memastikan tidak ada benda berbahaya, seperti bahan peledak, atau teknologi mencurigakan lainnya.
Selain itu, pemisahan laptop juga mencegah komponen perangkat tersebut menutupi barang lain di dalam tas saat proses pemindaian.
Sementara itu, perangkat elektronik kecil, seperti smartphone atau headphone memiliki ukuran lebih kecil dan tidak terlalu padat secara struktur.
Perangkat tersebut biasanya tidak cukup besar untuk menutupi objek lain di dalam tas saat dipindai mesin X-ray.
Karena itu, petugas keamanan biasanya tidak meminta penumpang mengeluarkan perangkat tersebut.
Mesin yang lebih canggih
Namun, aturan ini belakangan mulai berubah di sejumlah bandara. Beberapa bandara kini menggunakan teknologi pemindai yang lebih canggih bernama Computed Tomography (CT).
Teknologi ini mirip dengan CT scan yang digunakan di dunia medis.
Berbeda dengan X-ray biasa yang hanya menghasilkan gambar dua dimensi, CT scanner dapat membuat gambar tiga dimensi dari isi tas penumpang.
Petugas keamanan dapat memutar dan melihat gambar tersebut dari berbagai sudut.
Dengan kemampuan ini, petugas tetap bisa melihat isi tas secara jelas meski laptop masih berada di dalam tas atau koper kabin.
Karena itu, di bandara yang sudah menggunakan teknologi CT scanner, penumpang biasanya tidak lagi diminta mengeluarkan laptop saat pemeriksaan.
Meski begitu, tidak semua bandara telah menggunakan teknologi tersebut.
Itulah sebabnya aturan soal laptop di pemeriksaan keamanan bisa berbeda-beda, tergantung teknologi pemindai yang digunakan di bandara tersebut.
Jadi sebaiknya tetap mengikuti arahan petugas keamanan bandara saat menjalani pemeriksaan, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Slash Gear dan Islands. (*)
| Jaksa Masuk Sekolah, 100 Siswa SMKN dan SMAN di Bireuen Disosialisasi Hukum |
|
|---|
| Lepas Kloter 9, Bupati Mirwan Minta Jamaah Haji Jaga Kesehatan |
|
|---|
| Tim Verifikasi Desil di RSUD-TP Abdya Terima 18 Aduan |
|
|---|
| Satgas TMMD Wujudkan Sarana Ibadah di TPA Desa Alue Canang, Aceh Timur |
|
|---|
| Subulussalam Segera Bangun Sekolah Nasional Terintegrasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/laptop-harus-dikeluarkan1.jpg)