Jumat, 24 April 2026

Berita Techno

Riset Harvard, AI Bikin Pekerja Terjebak dalam Fenomena “Workslop”

Karyawan kini menghabiskan waktu memilah-milah dokumen yang tampak rapi, namun tidak jelas maksudnya. 

Editor: Saifullah
Dok Akamai
ADOPSI AI - Ilustrasi perusahaan mulai mengadopsi AI generatif yang mendorong evoludi edge computing. 

Karyawan kini menghabiskan waktu memilah-milah dokumen yang tampak rapi, namun tidak jelas maksudnya. 

SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON DC - Alih-alih menjadi solusi efisiensi, teknologi kecerdasan buatan atau Artificial intelligence (AI) generatif seperti ChatGPT dan Gemini, kini menghadirkan tantangan baru di dunia kerja. 

Fenomena yang disebut “workslop”--gabungan kata “work” (kerja) dan “slop” (limbah)--menggambarkan banjir konten dangkal yang justru memperlambat produktivitas dan merusak kolaborasi tim.

Istilah ini muncul dalam laporan kolaboratif Harvard Business Review (HBR), Stanford Social Media Lab, dan BetterUp Labs, yang menyoroti dampak sistemik dari ledakan konten AI terhadap organisasi modern.

Di masa lalu, pekerja sering menghadapi tantangan karena minimnya informasi. 

Kini, masalahnya berbalik, terlalu banyak informasi, namun minim nilai. 

AI generatif mampu menghasilkan ribuan kata dan visual dalam hitungan detik, tetapi tanpa penyaringan kualitas, hasilnya justru membebani alur kerja.

Baca juga: Simpel, Begini Cara Buat Foto dan Video Menarik dengan AI, Bisa Pakai HP

“Yang awalnya ditujukan untuk membantu, kini malah menghambat,” tulis HBR.

Karyawan kini menghabiskan waktu memilah-milah dokumen yang tampak rapi, namun tidak jelas maksudnya. 

Sebelum menyentuh inti pekerjaan, mereka harus ‘membersihkan meja’ dari tumpukan memo digital yang tidak relevan.

Penelitian Stanford dan BetterUp menunjukkan bahwa 40 persen pekerja profesional di Amerika Serikat menerima konten workslop setidaknya sekali dalam sebulan. 

Setiap kasus ‘workslop’ menghabiskan waktu 1–2 jam untuk diperbaiki atau ditulis ulang. 

Jika dikalkulasi, perusahaan dengan 10.000 karyawan bisa kehilangan lebih dari 9 juta dolar AS per tahun, akibat limbah digital ini.

Baca juga: 6 Teks Prompt Gemini AI Foto Ala SZA Album Cover ‘SOS’ di Lautan Lagi Viral, Ini Cara Membuatnya

Manajer pun harus melakukan verifikasi berlapis karena takut data palsu terselip.

Produktivitas tim menurun dalam dua arah yaitu, waktu habis untuk memilah, dan kualitas keputusan melemah karena materi yang digunakan dangkal atau bias.

Dampak Psikologis dan Sosial

Selain mengganggu efisiensi, ‘workslop’ juga membawa dampak psikologis. 

Karyawan merasa tertekan untuk merespons cepat aliran informasi, meski sebagian besar tidak berguna. 

Akibatnya, muncul frustrasi dan kelelahan mental.

Seorang analis keuangan mengaku harus menghabiskan hampir separuh waktunya memverifikasi laporan otomatis yang dikirim sistem. 

Baca juga: 25 Prompt Gemini AI Foto Studio yang Keren dan Elegan, Salin Perintahnya dan Sesuaikan Keinginan

“Seperti membaca makalah mahasiswa tingkat awal setiap hari. Panjang, tapi isinya tipis,” ujarnya.

Satu dari tiga responden survei menyatakan enggan bekerja dengan rekan yang sering mengirim konten seperti itu. 

Kepercayaan runtuh, kolaborasi terganggu, dan etos kerja tim melemah.

Penumpang vs Pilot: Dua Tipe Pengguna AI

Peneliti Harvard dan BetterUp membagi pengguna AI di tempat kerja menjadi dua tipe:

·         Penumpang: Menggunakan AI sebagai jalan pintas tanpa mempertimbangkan konteks atau kualitas.

Outputnya rapi di permukaan, tapi miskin substansi.

Baca juga: Kumpulan Prompt Gemini AI, Foto Nuansa Pernikahan Pakai Gaun Putih hingga India, Hasil Mirip ASLI

Mereka melempar beban kognitif ke rekan kerja.

·         Pilot: Menggunakan AI secara aktif dan cermat.

Mereka memberi prompt dengan konteks jelas, meninjau ulang hasil, dan memilih bagian yang benar-benar berguna.

AI bagi mereka adalah alat bantu, bukan pengganti berpikir.

‘Workslop’ mudah dibuat, tapi mahal untuk dibersihkan.

Apa yang dikira jalan pintas, justru menjadi jalan buntu bagi tim,” tulis BetterUp.

Solusi: Literasi Digital dan Kurasi Internal

Para pakar menekankan pentingnya strategi dalam adopsi AI. 

Organisasi perlu menetapkan standar kualitas, memastikan setiap dokumen otomatis diverifikasi manusia sebelum digunakan dalam rapat strategis.

AI harus diposisikan sebagai rekan kerja, bukan perisai dari tanggung jawab.

Prompt, revisi, dan diskusi atas hasil AI harus menjadi bagian dari ruang kerja bersama.

Baca juga: Daftar Prompt Gemini AI Ubah Foto Selfie Jadi Potret Fashionable Ala Model, Tinggal Copy

“Teknologi seharusnya menjadi asisten, bukan bos yang membanjiri,” tulis HBR.

Kesimpulan: Produktivitas Bukan Sekadar Volume

Perdebatan tentang manfaat dan risiko AI generatif masih panjang. 

Namun satu hal jelas: volume konten tidak bisa dijadikan tolok ukur produktivitas.

Organisasi yang ingin bertahan harus melampaui euforia ‘lebih banyak, lebih cepat’ dan mulai menekankan kebijaksanaan dalam memilih dan menyaring informasi.

Tanpa itu, janji efisiensi AI bisa berubah menjadi jebakan. 

Baca juga: 7 Prompt Gemini AI Edit Foto Viral Gaya Kertas Sobek Ala Photobooth, Silakan Dicoba

Pekerja bukan terbebas dari tugas rutin, melainkan tenggelam dalam lautan konten yang tampak canggih, tetapi sesungguhnya hampa.(*)

 

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved