Rabu, 3 Juni 2026

Video

VIDEO MUTIARA RAMADHAN Husnudzon: Ibadah Hati yang Jarang Disadari

Ketetapan Allah yang ditetapkan adalah ketetapan yang baik. Menurut kita mungkin buruk secara manusiawi, tetapi tidak menurut Allah

Tayang:
Penulis: abey IT | Editor: Teuku Raja Maulana

Oleh Suhud S.H.I
Wakil Ketua IV Baznas Provinsi Banten

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:
A’udzu billahi minasy syaithanir rajim.
Bismillahirrahmanirrahim.
"Ya ayyuhalladzina amanu ijtanibu katsiran minadz dzanni, inna ba’dhadh dzanni itsmun. Wala tajassasu wala yaghtab ba’dhukum ba’dha."
Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman:
"Ana ‘inda zhanni ‘abdi bi." Muttafaq ‘alaih.

Alhamdulillah, mari kita panjatkan syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas berkat limpahan rahmat-Nya kita bisa berjumpa dalam acara program Mutiara Ramadhan yang disiarkan oleh Tribunnews.

Sholawat serta salam mari kita curahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Semoga kita semua mendapatkan syafaatnya. Amin ya rabbal alamin.

Hadirin yang berbahagia, Husnuzon itu adalah ibadah hati yang jarang disadari oleh kita semua. Husnuzon berarti berprasangka baik. Secara istilah, husnuzon adalah sikap hati yang berbaik sangka kepada Allah, berbaik sangka kepada sesama manusia, dan kepada segala ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala.

Baca juga: Ramadhan Penuh Kepedulian, KAHMI–HMI Tapaktuan Gelar Buka Puasa Bersama

Husnuzon ini disebut sebagai amalan hati atau ibadah hati. Sebagaimana ikhlas, tawakal, sabar, dan syukur, karena tidak terlihat secara lahiriah. Jadi adanya di dalam hati. Seperti yang tadi saya sebutkan, husnuzon itu mirip dengan sabar, mirip dengan ikhlas, mirip dengan tawakal, dan mirip dengan rasa syukur.

Inilah yang kemudian disebut bahwa husnuzon adalah ibadah hati yang tanpa kita sadari tidak akan nampak secara lahiriah. Namun sangat menentukan kualitas iman seseorang di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

Seperti yang saya sampaikan dalam pembukaan tadi, bahwa husnuzon ini sudah dinaskan dalam Al-Qur’an, yaitu pada Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 12.
Berhusnuzon kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah sesuatu yang harus kita yakini. Segala ketetapan-Nya mengandung hikmah, mengandung kasih sayang, dan mengandung kebaikan. Maka apa yang kita sangkakan kepada Allah haruslah berprasangka yang baik.

Tidak boleh berprasangka buruk, apalagi kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Ketetapan Allah yang ditetapkan kepada kita adalah ketetapan yang baik. Menurut kita mungkin buruk secara manusiawi, tetapi tidak menurut Allah. Apa pun yang ditetapkan oleh Allah itu adalah baik. Tidak sedikit pun Allah menetapkan sesuatu yang buruk.

Oleh karena itu, dari ayat tersebut sebagai landasan kuat, orang yang beriman, orang Muslim harus menjaga hati kita dari pikiran-pikiran negatif. Kita harus optimis memandang kehidupan kita.

Apalagi jika ada orang yang menggosipkan sesuatu. Harus tabayun terlebih dahulu. Jika ada perkataan orang lain yang sekiranya belum tentu benar, maka harus ditabayunkan. Kita harus memandang dengan baik, tidak boleh langsung memandang buruk.

Baca juga: Pererat Silaturahmi, PWI Aceh Singkil Gelar Buka Puasa Bersama

Husnuzon ini lawan katanya adalah suuzon. Husnuzon berarti berprasangka baik, sedangkan suuzon berarti berprasangka buruk.

Kita tidak boleh bersuuzon kepada sesama manusia, apalagi bersuuzon kepada Allah. Tidak boleh berprasangka buruk kepada manusia, dan tidak boleh berprasangka buruk kepada Allah serta ketetapan-ketetapan yang telah Allah tentukan.

Dalam hadis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ini adalah hadis qudsi. Hadis qudsi adalah hadis yang sumbernya dari Allah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu.

Rasulullah bersabda bahwa Allah berfirman:

"Ana ‘inda zhanni ‘abdi bi."

Aku sesuai dengan prasangka hambaku kepada-Ku.

Hadis ini menegaskan bahwa prasangka seorang hamba kepada Allah sangat menentukan bagaimana Allah memperlakukannya. Oleh karena itu, berprasangka baik adalah perintah.

"Ijtanibu katsiran minadz dzanni."
Ijtanibu ini adalah fi’il nahi. Ada perintah sebagai fi’il amar dan ada juga perintah sebagai fi’il nahi. Artinya perintah untuk tidak melakukan sesuatu, larangan untuk melakukan sesuatu. Karena fi’il nahi bukan fi’il amar.

Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
"Iyyakum wadz dzanna, fa inna dzanna akdzabul hadits."

Baca juga: Kapan Waktu Terbaik Olahraga Saat Puasa? Ini Penjelasan Dokter

Jauhilah prasangka, karena prasangka itu adalah sedusta-dusta perkataan.

Ini juga merupakan larangan yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa kita harus menjauhi prasangka yang kita tidak tahu kebenarannya.

Hadis ini sangat penting untuk direnungkan dan dipahami, karena penyakit hati berupa prasangka buruk merupakan maksiat yang samar. Yang tidak kelihatan secara lahiriah, tetapi ada dalam hati manusia.

Ini adalah penyakit hati yang terkadang diremehkan oleh manusia. Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyamakan prasangka buruk yang hanya berupa pikiran dan belum diucapkan dengan perkataan yang paling dusta.

Ini baru prasangka, belum terucap dari lisan kita. Masih menyangka terhadap seseorang.
Kata Rasulullah, apa yang disangkakan dalam hati kita dan belum diucapkan dari lisan, itu disamakan dengan perkataan yang paling dusta.
Na’udzubillah tsumma na’udzubillah min dzalik.

Oleh karena itu, janganlah kita berprasangka buruk kepada siapa pun. Kepada keluarga kita, orang terdekat kita, orang yang kita kenal.
Jangan sekali-kali kita berprasangka buruk, apalagi sampai mengucapkan sesuatu yang buruk kepada orang lain. Menduga-duga orang lain jangan.
Sebaiknya tabayun dari sumbernya seperti apa. Berusaha memahami perspektif orang lain sebelum menilai buruk.

Jangan langsung dinilai buruk. Cek dan recheck terlebih dahulu. Tabayun dahulu.

Baca juga: Jam Berapa Buka Puasa Hari Ini di Banda Aceh? Simak Jadwal Sabtu, 7 Maret 2026

Maka tidak diperbolehkan berprasangka buruk kepada orang lain. Kita harus melatih empati kepada orang lain.

Tabayun, komunikasikan, jangan langsung menjastifikasi.

Kita harus mencari sisi positif dari orang lain, bukan sisi negatifnya. Fokus pada kebaikan orang lain, bukan pada kesalahan atau kekurangannya.

Tidak usah mencari-cari kekurangan orang lain. Tidak usah menyalahkan orang lain. Lihat diri kita sendiri.

Diri kita mungkin lebih banyak kekurangannya daripada orang lain. Diri kita mungkin lebih banyak kesalahannya daripada orang lain.
Maka introspeksi diri.

Tidak boleh kita selalu menyalahkan orang lain, selalu mengorek-ngorek kesalahan orang lain, padahal diri kita jauh lebih banyak kekurangannya dibanding orang lain.

Berprasangka baik ini harus kita timbulkan, harus kita tumbuhkan kepada siapa pun. Kepada manusia, kepada Allah, dan kepada semua ketetapan Allah.

Mungkin itu saja yang dapat saya sampaikan. Mudah-mudahan bermanfaat. Mudah-mudahan kita semua terhindar dari prasangka buruk kepada manusia, terlebih kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Terima kasih.

Mudah-mudahan di lain waktu kita berjumpa kembali dalam program Mutiara Ramadhan di Tribunnews.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber: Tribun banten
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved