Video
VIDEO - Jembatan Gantung terlalu Goyang, Getek Masih Jadi Primadona
Seorang operator getek yang tidak bersedia identitasnya dipublikasikan mengatakan layanan getek ini berlangsung 24 jam.
Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: m anshar
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang
SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Penyeberangan tradisional menggunakan getek masih pilihan utama masyarakat di Lubuksidup, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang.
Setiap harinya, ratusan unit sepeda motor menggunakan jasa penyeberangan yang baru muncul sejak banjir bandang menghancurkan jembatan utama di daerah itu.
Misalnya Setiawan, warga Marlempang, Kecamatan Bendahara ini rutin menyeberangi sungai untuk merawat kebunnya di Arassembilan yang posisinya di seberang sungai. Dia lebih memilih menggunakan getek ketimbang jembatan gantung yang sudah bangun pascabanjir bandang.
Diakuinya jembatan yang dibangun TNI sepanjang 220 meter ini sangat membantu aktivitasnya. Hanya saja di waktu-waktu tertentu, melintasi jembatan gantung bukan pilihan tepat karena terlalu goyang saat angin kencang.
Ketakutan inilah yang membawa masyarakat lebih memilih menggunakan jasa getek. Tingginya animo pengendara sepeda motor ini membuat jasa ini menjamur dan kini sudah terdapat lima unit getek yang melayani rute penyeberangan Lubuksidup.
Seorang operator getek yang tidak bersedia identitasnya dipublikasikan mengatakan layanan getek ini berlangsung 24 jam.
Mereka menetapkan tarif Rp5.000 per sepeda motor. Masing-masing getek diakuinya mampu melayani kurang lebih 500 unit sepeda motor.Diakuinya musibah yang menghancurkan jembatan utama itu telah membawa berkah bagi dirinya dan rekan seprofesinya.
Di sisi lain, warga berharap pembangunan jembatan beton harus prioritas karena memangkas jarak dan biaya. (mad)
Narator: Syita
Video Editor: Muhammad Anshar