Rabu, 10 Juni 2026

Harga Elpiji belum Stabil

Kelangkaan elpiji di pasaran Banda Aceh dan Aceh Besar, kelihatannya sengaja dipertahankan. Buktinya, elpiji ukuran 12 kilogram

Tayang:
Editor: bakri
BANDA ACEH - Kelangkaan elpiji di pasaran Banda Aceh dan Aceh Besar, kelihatannya sengaja dipertahankan. Buktinya, elpiji ukuran 12 kilogram dan tiga kilogram, tetap sulit diperoleh konsumen di toko kelontong, swalayan, dan sub agen. “Kalaupun ada, harganya tinggi dan tidak menentu,” ungkap Saiful, warga Banda Aceh kepada Serambi, Selasa (20/12) kemarin.

Harga elpiji ukuran 12 kilogram yang sebelumnya Rp 75 ribu - Rp 78 ribu di tingkat dealer dan Rp 80 ribu - Rp 85 ribu di pedagang eceran, kini masih saja dijual Rp 95 ribu - Rp 100 ribu per tabung. Seperti salah satu toko di Jalan Alhuda, Kampung Laksana, Kecamatan Kuta Alam, yang menjual Rp 100 ribu per tabung 12 Kg.   

Sedangkan elpiji bersubsidi tiga kilogram yang selama ini didengung-dengungkan Pertamina hanya Rp 12 ribu - Rp 15 ribu per tabung, kini harganya berkisar Rp 23 ribu - Rp 25 ribu per tabung.

Kelangkaan elpiji, tak hanya dirasakan warga Banda Aceh. Tapi, juga dialami masyarakat Kabupaten Aceh Besar. “Kami sudah lama tidak menjual elpiji. Karena, selain sulit mendapatkan jatah, harga tebus dari agen dan sub agen, sangat tinggi,” jelas seorang pedagang grosir di Ulee Kareng.

Para pedagang menyayangkan masih adanya gejolak harga elpiji, yang terkesan terus dibiarkan oleh pihak yang berkepentingan mendapatkan keuntungan berlipat. “Hingga sejauh ini belum terlihat adanya tindakan nyata dari Pertamina dan Pemerintah. Bahkan, pihak Pertamina dan dealer, terkesan membiarkan kondisi dan ketidakstabilan pasokan dengan tujuan meraup keuntungan berlipat,” ungkap seorang pedagang di Ulee Kareng.

Seperti diketahui, dealer dan sub dealer Pertamina menetapkan harga Rp 75 ribu - Rp 78 ribu per tabung berisi 12 kilogram. Dealer hanya diperkenankan Pertamina, menjual Rp 75 ribu - Rp 78 ribu per tabung, dengan keuntungan sekitar Rp 3.000 - Rp 5.000 per tabung. Celakanya, saat dilepas ke pengecer yang umumnya pedagang kelontong, harganya malah sulit terkendalikan.(awi)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved