Opini
Rupiah Melemah dan IHSG Turun, Harga BBM Melambung: Seberapa Parah Krisis Ekonomi Indonesia?
Tiga berita buruk menghantam Indonesia dalam satu pekan. Rupiah jatuh ke level terendah sepanjang sejarah. IHSG ambruk lebih dari 4 persen dalam
Oleh: Prof Dr Apridar SE MSi
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh
TIGA berita buruk menghantam Indonesia dalam satu pekan. Rupiah jatuh ke level terendah sepanjang sejarah. IHSG ambruk lebih dari 4 persen dalam satu hari. Harga BBM nonsubsidi naik hingga menembus Rp15.000 per liter. Masyarakat bertanya: apakah ini awal dari krisis besar seperti 1998?
Saya akan jawab dengan data. Krisis 1998 dan situasi 2026 memiliki perbedaan fundamental. Namun saya tidak akan meremehkan tekanan yang terjadi. Mari kita bedah satu per satu secara sistematis.
Data Terbaru Rupiah dan IHSG
Pada penutupan perdagangan 8 Juni 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai Rp18.187 per dolar. Angka ini merupakan titik terendah dalam sejarah Indonesia. Sebagai pembanding, pada awal Januari 2026 rupiah masih di Rp16.200 per dolar. Artinya, dalam lima bulan, rupiah kehilangan nilai hingga 12,3 persen.
Bank Indonesia mencatat tekanan ini berasal dari dua sumber. Pertama, permintaan dolar dari korporasi untuk membayar utang luar negeri yang jatuh tempo. Kedua, aksi jual saham dan obligasi oleh investor asing. Data BI menunjukkan bahwa pada Mei 2026 saja, aliran modal keluar (capital outflow) mencapai US$4,2 miliar.
Baca juga: Etika Pengajar dalam Membangun Masa Depan Peradaban Handal
IHSG tidak lebih baik. Indeks ditutup di level 5.342 pada 8 Juni. Angka ini turun 36 persen dari titik tertinggi tahun ini di 8.350. Volume transaksi harian juga menyusut. Rata-rata volume perdagangan saham per hari turun 28 persen dibandingkan rata-rata tahun 2025.
Sektor properti dan perbankan menjadi pukulan terberat. Saham PT Bank Mandiri Tbk turun 5,8 persen dalam sepekan. Saham PT Bank Central Asia Tbk turun 4,2 persen. Investor asing melepas kepemilikan mereka di saham-saham blue chip secara besar-besaran.
Kenaikan Harga BBM Bukan Akhir, Tapi Awal Masalah
Pertamina resmi menaikkan harga BBM nonsubsidi per 1 Juni 2026. Pertamax Turbo naik dari Rp13.900 per liter menjadi Rp15.200 per liter. Pertamax naik dari Rp12.800 menjadi Rp14.000 per liter. Dexlite naik dari Rp14.350 menjadi Rp15.800 per liter.
Kenaikan ini bukan kejutan. Ini adalah konsekuensi logis dari melambungnya harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent mencapai US$118 per barel pada Maret 2026. Ini adalah level tertinggi sejak tahun 2022.
Teori ekonomi menjelaskan hal ini dengan konsep exchange rate pass-through. Ketika rupiah melemah, harga barang impor seperti minyak mentah menjadi lebih mahal dalam rupiah. Pemerintah punya dua pilihan. Pertama, menyerap kenaikan dengan subsidi. Kedua, menaikkan harga jual ke masyarakat. Pemerintah memilih opsi kedua untuk menjaga defisit APBN.
Konsekuensinya langsung terasa. Tarif angkutan umum di Jabodetabek naik rata-rata 15 persen dalam dua pekan terakhir. Harga bahan pokok seperti beras, telur, dan minyak goreng ikut terdorong naik. Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) mencatat kenaikan harga beras medium sebesar 8 persen sejak awal Juni.
Apakah Ini Krisis? Mari Bandingkan dengan 1998
Kita akan gunakan tiga indikator utama untuk menjawab pertanyaan ini: inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan rasio kredit macet.
Pada Juli 1998, inflasi Indonesia mencapai 77,63 persen secara tahunan. Harga barang naik hampir setiap hari. Uang kehilangan fungsinya sebagai penyimpan nilai. Masyarakat lebih memilih menyimpan beras atau emas daripada rupiah.
Pada Mei 2026, inflasi tahunan hanya 3,08 persen. Ini masih dalam target BI yaitu 2,5 plus minus 1 persen. Kenaikan harga terjadi, tetapi tidak liar dan tidak setiap hari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/apridarrr.jpg)