Opini

Mengenal Shamsuddin As Sumatrany

Saya tertarik mengulas sosok Syeikh Shamsuddin bin Abdullah As Sumatrany yang menjadi pendamping setia Sultan Iskandar Muda

Mengenal Shamsuddin As Sumatrany
M Adli Abdullah

Saya tertarik  mengulas  sosok Syeikh Shamsuddin bin Abdullah As Sumatrany yang menjadi pendamping setia Sultan Iskandar Muda (1607-1636)  sampai dia  mangkat dan dikebumikan  di Melaka Malaysia demi membela marwah negerinya dari penjajahan Portugis. Syeikh Shamsuddin bin abdullah  As Sumatrani merupakan  tokoh besar dunia Islam, namun  kini dilupakan oleh anak negerinya. Walau mereka  selalu mendengungkan “demi marwah indatu”, namun  nama jalan pun tidak kita temukan atas namanya, baik di tempat kelahirannya  Aceh maupun di Bumi Melaka, Malaysia,   tempat mengakhiri hidupnya.

Dalam  Hikayat Aceh, disebutkan bahwa Syeikh Shamsuddin bin abdullah  As Sumatrany menjadi guru Sultan Iskandar Muda sejak kecil, bahkan ketika Iskandar Muda berusia 13 tahun. Dia mengajarkan ilmu bela diri kepada sultan hingga khatam.

Dalam catatan orang Eropa yang berjumpa Syeikh Syamsuddin bi Abdullah As Sumatrany seperti  Frederick de Houtman dalam bukunya Cort Verhael van’t Wedervaren is Frederick de Houtman, Tot Atchein (1603) menyatakan,  Syeikh Shamsuddin bi Abdullah  As Sumatrany sebagai penasihat agung Sultan Saidil Mukammil. Syeikh ini sempat mengajak dia masuk Islam.

Pengaruh Syeikh Shamsuddin dalam kerajaan Aceh Darussalam dicatat juga oleh Sir James Lacaster ketika berkunjung ke Aceh pada tahun 1602. Dalam bukunya The Voyages of Sir James Lascaster,  Lacaster menyebut Syeikh Shamsuddin sebagai “a man of great estimation with the king and the peoples.”  James Lacaster ditanyakan oleh Syeikh Shamsuddin, “Sir, what reasons shall we show to the king, from you whereby he may grants these things which you have demanded to be granted by him.”

Pengaruh Syeikh Shamsuddin dalam kerajaan Aceh Darussalam dicatat juga oleh Sir James Lacaster ketika berkunjung ke Aceh pada tahun 1602. Dalam bukunya The Voyages of Sir James Lascaster,  Lacaster menyebut Syeikh Shamsuddin sebagai “a man of great estimation with the king and the peoples (seorang pria yang memiliki pengaruh besar terhadap raja dan rakyat). ”  James Lacaster bahkan  ditanyakan oleh Syeikh Shamsuddin, “Sir, what reasons shall we show to the king, from you whereby he may grants these things which you have demanded to be granted by him (Alasan apa yang akan kami tunjukkan kepada raja, agar dia mengabulkan permintaan Anda).”

Di sini bisa kita lihat bagaimana kuatnya pengaruh ulama ini dalam kesultanan Aceh, bahkan sebelum Iskandar Muda naik tahta pada tahun 1607. Sebagai perbandingan pengaruhnya dalam kekuasaan, T Iskandar (Hikayat Aceh:1993) menyamakan Syeikh Shamsuddin ini dengan  Abdul Fadhl, penasihat Raja Moghol Akbar Syah (India), dimana istana Aceh, menurutnya,  sedikit banyaknya dapat disamakan dengan istana raja-raja Moghol.

Dalam catatan sejarah,  perang Aceh dengan Portugis yang dimulai sejak tahun 1511,  sewaktu Melaka Jatuh ke tangan Portugis, pemimpin Aceh berikrar bahwa Sumatera dan Semenanjung Tanah Melayu harus bebas dari pengaruh kolonialisme Portugis. Maka beberapa kali tentara Aceh dikirim ke Semenanjung untuk mengusir Portugis di Melaka sejak masa Sultan Alauddin Riayatsyah Al Qahhar (1537-1568) sampai pada masa pemerintahan Iskandar Muda (1607-1636).

Hikayat  Malem Dagang juga  mencatatkan persiapan Sultan Iskandar Muda untuk mengusir penjajah di Tanah Melayu sebagai berikut  “Toeankoe, neukrah alem ngon paki, sigala wadi ngon oelama. Toeankoe, neukrah ban doea blaih karong, beu habeh djitron ban sineuna, Tapeuget kapaj meung toedjoh reutoih djeumeurang aroih taprang Meulaka.”

Pada tahun 1627,  Iskandar Muda  mengirim 20 ribu tentara ke Melaka untuk mengusir Portugis. Dalam rombongan ini ikut ulama kharismatik kerajaan Aceh Darussalam Syeikh Shamsuddin bi Abdullah As Sumatrany. Banyak pembesar pembesar Melayu dari Pahang, Johor,  dan Pattani berkhianat terhadap  Aceh dan membantu Portugis. Akibatnya, sebagian

besar tentara Aceh syahid di Melaka termasuk Syeikh Shamsuddin As Sumatrany, Panglima Pidie,  dan Malem Dagang. Nurdin Ar Raniry dalam kitabnya Bustanus Salatin, menyatakan, syahidnya Syeikh Shamsuddin As Sumatrany, karena  berkhianatnya pembesar pembesar Melayu, juga perselisihan paham dalam kepemimpinan tentara Aceh antara Perdana Menteri Orang Kaya Maharaja Seri Maharaja dan Orang Kaya Laksamana.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved