Supir Tewas di Kolong Truk
Jumat, 27 Januari 2012 08:28 WIB

Petugas kepolisian menunjukkan mayat Lamhot Manik (35) supir truk yang ditemukan meninggal di bawah kolong truk BK 9971 LU sekitar areal Pabrik Kelapa Sawit PT Bangun Sempurna Lestari, Desa Sikalondang, kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, Kamis (26/1) kemarin. PROHABA/KHALIDIN
Berita Terkait
- April, RSJ Pindahkan Pasien ke RSU Jantho
- Pedagang Ikan Meninggal di Lapak Dagangan
- Keluarga Lukman Minta Polisi Tangkap Pelaku
- Pulang dari Jambore, Anggota Geng Vespa Tewas
- Enam Warga Meninggal Akibat Racun Tikus
- Polisi Masih Kembangkan Kasus Amuk Massa
- Pembacok Tetangga Dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa
- Darma Sahlan Tewas Lakalantas
- Gadis Belia Tewas Tersengat Listrik Perangkap Babi
- Tinggal Tulang, Dr Suyanto Diduga Tewas 1 Tahun Lalu
* Pekerja AMP Tertimbun Kerikil
SUBULUSSALAM - Para pekerja di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT Bangun Sempurna Lestari (BSL) Desa Sikalondang, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, digegerkan dengan temuan tewasnya seorang supir di kolong truk, Kamis (26/1) kemarin.
Supir malang itu bernama Lamhot Manik (35), penduduk Desa Panji Bako, Kecamatan Sitinjo, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Ia ditemukan dalam kondisi tak bernyawa sekitar pukul 13.00 WIB.
Kapolres Aceh Singkil AKBP Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf yang dikonfirmasi melalui Kapolsek Simpang Kiri, AKP Rahman Manurung, kemarin, membenarkan kejadian tersebut.
Berdasarkan hasil pemeriksaan tim medis, tidak ada ditemukan bekas penganiayaan di tubuh korban. Karena itu, polisi menduga kematian korban akibat sakit. Hal itu diperkuat oleh pengakuan sejumlah saksi mata yang menyebutkan beberapa jam sebelumnya korban sempat mengeluh sakit perut seperti dililit luar biasa.”Hasil pemeriksaan tidak ada bekas luka bekas penganiayaan di tubuh korban, jadi kita menduga korban meninggal akibat penyakitnya,” kata Kapolsek Manurung.
Sehari sebelumnya, atau Rabu (25/1) lalu, seorang pekerja Asphalt Mixing Plant (AMP) PT Juli Prima Kencana Desa Tangga Besi, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, ditemukan tewas tertimbun kerikil yang sedang diolah pabrik tersebut.
Insiden yang merenggut nyawa korban bernama Burhan Solin (40) itu terjadi sekitar pukul 11.30 WIB. Kapolsek Simpang Kiri AKP Rahman Manurung membenarkan kejadian tersebut. Berdasarkan informasi awal, kejadian itu bermula ketika korban bersama dua rekannya masing-masing Danu Prayogi (19) dan Safi’i (29) yang bekerja di bagian colbin (mesin ayakan batu). Korban bersama rekannya bertugas untuk pekerjaan mempelancar pengiriman batu ke AMP. Ketika sedang bekerja, tiba-tiba terjadi gangguan yang membuat abu batu tidak berjalan alias macat.
Kemudian, kedua rekan korban melihat ke bagian bawah colbin dengan mengorek-ngorek dan menemukan jari-jari kaki menjulur. “Karena abu batu tidak berjalan dua pekerja masing-masing Danu dan Safii turun ke bawah mengecek dan saat dicongkel melihat ada jari-jari kaki,” terang Kapolres Manurung.
Setelah adanya temuan tersebut, Danu bersama rekannya Safii lantas mengabarkan dan mematikan mesin. Tubuh korban pun berupaya dikeluarkan dari timbunan batu dan abu. Saat ditemukan, korban dilaporkan masih hidup namun ketika dibawa ke puskesmas Penanggalan dinyatakan telah meninggal dunia. Korban diduga meninggal akibat pernapasan setelah tertimbun debu dan kerikil. Sebab, di tubuh korban tidak ada luka selain kumpulan debu di hidung dan mulut.
Lebih jauh Kapolsek Manurung menyampaikan, sejauh ini pihaknya telah mengantongi dua nama saksi yakni rekan kerja korban bernama Danu dan Safii.
Polisi baru memeriksa Cut Agam (45) pengawas (kepala lapangan) AMP PT Juli Prima Kencana. Dikatakan, penanganan kasus kematian karyawan AMP PT Juli Prima ini diback up tim identifikasi Polres Aceh Singkil yang dipimpin Kbo Reskrim Ipda Daud.
Sejauh ini polisi belum menyimpulkan apakah ada unsur pidana dalam kasus tersebut. Ketika ditanyai apakah ada kelalaian dari perusahaan terkait perlengkapan keselamatan kerja (safety) karena masih dalam proses penyelidikan.”Belum dapat kami simpulkan apakah ada tindak pidana terkait kasus ini, begitu pula soal keselamatan kerja karena masih dalam proses penyelidikan,” ujar Kapolsek Rahman Manurung.
Informasi yang dihimpun dari sejumlah sumber menyebutkan, korban telah bekerja selama lebih tiga tahun bahkan ada yang mengatakan hampir tujuh tahun. Namun status korban merupakan karyawan lepas yakni hanya bekerja ketika ada borongan. Korban langsung dikebumikan pada sore kemarin. Pekerja malang itu meninggalkan seorang istri dan lima putra dan putri.(kh)
SUBULUSSALAM - Para pekerja di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT Bangun Sempurna Lestari (BSL) Desa Sikalondang, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, digegerkan dengan temuan tewasnya seorang supir di kolong truk, Kamis (26/1) kemarin.
Supir malang itu bernama Lamhot Manik (35), penduduk Desa Panji Bako, Kecamatan Sitinjo, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Ia ditemukan dalam kondisi tak bernyawa sekitar pukul 13.00 WIB.
Kapolres Aceh Singkil AKBP Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf yang dikonfirmasi melalui Kapolsek Simpang Kiri, AKP Rahman Manurung, kemarin, membenarkan kejadian tersebut.
Berdasarkan hasil pemeriksaan tim medis, tidak ada ditemukan bekas penganiayaan di tubuh korban. Karena itu, polisi menduga kematian korban akibat sakit. Hal itu diperkuat oleh pengakuan sejumlah saksi mata yang menyebutkan beberapa jam sebelumnya korban sempat mengeluh sakit perut seperti dililit luar biasa.”Hasil pemeriksaan tidak ada bekas luka bekas penganiayaan di tubuh korban, jadi kita menduga korban meninggal akibat penyakitnya,” kata Kapolsek Manurung.
Sehari sebelumnya, atau Rabu (25/1) lalu, seorang pekerja Asphalt Mixing Plant (AMP) PT Juli Prima Kencana Desa Tangga Besi, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, ditemukan tewas tertimbun kerikil yang sedang diolah pabrik tersebut.
Insiden yang merenggut nyawa korban bernama Burhan Solin (40) itu terjadi sekitar pukul 11.30 WIB. Kapolsek Simpang Kiri AKP Rahman Manurung membenarkan kejadian tersebut. Berdasarkan informasi awal, kejadian itu bermula ketika korban bersama dua rekannya masing-masing Danu Prayogi (19) dan Safi’i (29) yang bekerja di bagian colbin (mesin ayakan batu). Korban bersama rekannya bertugas untuk pekerjaan mempelancar pengiriman batu ke AMP. Ketika sedang bekerja, tiba-tiba terjadi gangguan yang membuat abu batu tidak berjalan alias macat.
Kemudian, kedua rekan korban melihat ke bagian bawah colbin dengan mengorek-ngorek dan menemukan jari-jari kaki menjulur. “Karena abu batu tidak berjalan dua pekerja masing-masing Danu dan Safii turun ke bawah mengecek dan saat dicongkel melihat ada jari-jari kaki,” terang Kapolres Manurung.
Setelah adanya temuan tersebut, Danu bersama rekannya Safii lantas mengabarkan dan mematikan mesin. Tubuh korban pun berupaya dikeluarkan dari timbunan batu dan abu. Saat ditemukan, korban dilaporkan masih hidup namun ketika dibawa ke puskesmas Penanggalan dinyatakan telah meninggal dunia. Korban diduga meninggal akibat pernapasan setelah tertimbun debu dan kerikil. Sebab, di tubuh korban tidak ada luka selain kumpulan debu di hidung dan mulut.
Lebih jauh Kapolsek Manurung menyampaikan, sejauh ini pihaknya telah mengantongi dua nama saksi yakni rekan kerja korban bernama Danu dan Safii.
Polisi baru memeriksa Cut Agam (45) pengawas (kepala lapangan) AMP PT Juli Prima Kencana. Dikatakan, penanganan kasus kematian karyawan AMP PT Juli Prima ini diback up tim identifikasi Polres Aceh Singkil yang dipimpin Kbo Reskrim Ipda Daud.
Sejauh ini polisi belum menyimpulkan apakah ada unsur pidana dalam kasus tersebut. Ketika ditanyai apakah ada kelalaian dari perusahaan terkait perlengkapan keselamatan kerja (safety) karena masih dalam proses penyelidikan.”Belum dapat kami simpulkan apakah ada tindak pidana terkait kasus ini, begitu pula soal keselamatan kerja karena masih dalam proses penyelidikan,” ujar Kapolsek Rahman Manurung.
Informasi yang dihimpun dari sejumlah sumber menyebutkan, korban telah bekerja selama lebih tiga tahun bahkan ada yang mengatakan hampir tujuh tahun. Namun status korban merupakan karyawan lepas yakni hanya bekerja ketika ada borongan. Korban langsung dikebumikan pada sore kemarin. Pekerja malang itu meninggalkan seorang istri dan lima putra dan putri.(kh)
Editor : bakri
