Santri Dayah Nurul Huda Terima Santunan
Sabtu, 11 Februari 2012 12:32 WIB
Berita Terkait
- Syeikh Wahbah Al Zuhaili, Narasumber di Seminar Perti
- 12 Ponpes di Subulussalam Setara Balai Pengajian
- Kemenkes Bantu Ambulans untuk Dayah
- Bupati Abdya Salurkan Santunan Kematian Rp 1,038 Miliar
- Kepala Badan Dayah Pijay Meninggal Dunia
- Dayah di Turki
- Keluarga Korban Casa 212 Terima Santunan
- Pimpinan Dayah Manyang Ikut Rakor
- Guru Honor MAS Panga Mengaku Dizalimi Disdik
- Orang Tua Fitriana Yakin Anaknya Disekap Suami
BANDA ACEH - Dalam rangkaian memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, pihak Bank BRI Syariah Cabang Banda Aceh, Jumat (10/2) menyantuni belasan santri Dayah Nurul Huda, Desa Aceh Cut, Blangbintang, Aceh Besar. Santri yang mendapat santunan adalah santri yang berstatus yatim.
Peringatan Maulid digelar di lobi Kantor BRI Syariah Cabang Banda di Jalan STA Mahmudsyah, Banda Aceh. Pimpinan BRI Cabang Banda Aceh, Agus Jaya mengatakan peringatan maulid tahun ini dipersiapkan dengan matang oleh seksi kerohanian BRI Syariah Banda Aceh.
Seluruh karyawan-karyawati bank tersebut dan undangan maulid melantunkan shalawat badar dan mendengarkan ceramah Ustad Masrul Aidi dari Dayah Babun Maghfirah Cot Keueung, Aceh Besar.
Dalam ceramahnya ia mengangkat tentang makna anak yatim yang sering disempitkan oleh masyarakat. “Anak yatim tidak hanya sebatas untuk anak yang ayahnya sudah meninggal, tapi untuk anak yang yang ibunyameninggal pun bisa disebut anak yatim dan berhak kita muliakan. Begitu juga dengan anak-anak terbelakang mental ataupun anak-anak yang punya ayah-ibu tapi tidak peduli kepada mereka,” sebut Masrul. (ami)
Peringatan Maulid digelar di lobi Kantor BRI Syariah Cabang Banda di Jalan STA Mahmudsyah, Banda Aceh. Pimpinan BRI Cabang Banda Aceh, Agus Jaya mengatakan peringatan maulid tahun ini dipersiapkan dengan matang oleh seksi kerohanian BRI Syariah Banda Aceh.
Seluruh karyawan-karyawati bank tersebut dan undangan maulid melantunkan shalawat badar dan mendengarkan ceramah Ustad Masrul Aidi dari Dayah Babun Maghfirah Cot Keueung, Aceh Besar.
Dalam ceramahnya ia mengangkat tentang makna anak yatim yang sering disempitkan oleh masyarakat. “Anak yatim tidak hanya sebatas untuk anak yang ayahnya sudah meninggal, tapi untuk anak yang yang ibunyameninggal pun bisa disebut anak yatim dan berhak kita muliakan. Begitu juga dengan anak-anak terbelakang mental ataupun anak-anak yang punya ayah-ibu tapi tidak peduli kepada mereka,” sebut Masrul. (ami)
Editor : hasyim
