Delapan Jam Berlayar ke Simeuleu
Minggu, 12 Februari 2012 09:45 WIB
Berita Terkait
- Kemenhub Minta Tarif Angkutan Maksimal Naik 20 Persen
- Tambahan Subsidi Listrik Rp 24,52Triliun
- Pemerintah Siap Bahas Penundaan Rencana Kenaikan TDL
- DPR Desak Pemerintah Tunda Kenaikan TDL
- Pulau Banyak Barat Butuh Feri
- Pemprov Didesak Operasikan KMP Labuhan Haji
- Badai Ganggu Pelayaran
- Minggu, KMP Teluk Sinabang Kembali Beroperasi
- BBM Bersubsidi Naik, Tarif Angkutan Umum Ikut Naik
- Labuhan Haji-Sinabang belum Normal
NELAYAN baru saja pulang melaut dan menambatkan perahunya di Pangkalan Pelelangan Ikan (PPI) Labuhan Haji. Kamis (9/2) pagi itu ratusan calon penumpang asal Simeulue yang hendak pulang ke daerahnya mulai memadati loket yang KMP Teluk Singkil yang baru saja merapat di pelabuhan Labuhan Haji, Aceh Selatan. Feri milik pemerintah ini hendak kembali bertolak ke Pulau Simeulue.
Para calon penumpang yang sudah dua hari menunggu di Labuhan Haji mulai bergegas meninggalkan loket menyiapkan barang bawaan menuju kapal yang menunggu di dermaga. Berlayar menggunakan KMP Teluk Singkil dari Labuhan Haji menuju Simeulue akan membutuhkan waktu antara 7 sampai 8 jam.
Penundaan pelayaran satu trip akibat kebocoran pipa oli pada KMP Teluk Singkil mengharuskan Totok (34) bersama puluhan penumpang lainnya menunggu dua hari di Labuhan Haji. “Daripada tinggal lagi menginap, lebih baik cepat beli tiket dan naik ke kapal,” katanya Totok, kepada Serambi, Kamis (9/2), sambil berlalu meninggalkan kerumuman di loket.
Kerumunan calon penumpang tak hanya terdapat di pintu loket. Di pintu masuk kapalpun para penumpang harus sabar menunggu giliran naik ke kapal. Namun, di sini agak lumayan tertib karena sejumlah Anak Buah Kapal (ABK) dan petugas pelabuhan menertibkan penumpang agar tidak ada calon penumpang yang ugal-ugalan naik ke kapal khususnya yang memiliki kenderaan roda dua maupun empat.
Ketika matahari mulai terasa membakar kulit melewati pukul 10.00 WIB, KMP Teluk Singkil baru angkat jangkar. Di dalam kapal, wow... padatnya. Ketika di pelabuhan tadinya hanya terlihat seratusan orang penumpang, di dalam kapal ternyata dua kali lipat banyaknya. Semua kursi yang tersedia terisi penuh. Bahkan tidak sedikit penumpang yang harus berdiri di tepi kapal.
Begitupun, tak menyurutkan niat bagi penumpang kapal yang berkapasitas 200-an tempat duduk dan belasan truk barang itu untuk diberangkatkan ke kabupaten pecahan dari Aceh Barat beberapa tahun silam. “Yang penting sampai di Simeulue,” kata Roli, lelaki yang sudah satu malam bermalam di Labuhan Haji.
Roli memilih tempat duduk di lantai yang belum ditempati penumpang lainnya. Ia hanya menggunakan alas kertas koran yang sengaja dibawa dari pelabuhan. Puluhan penumpang lainnya pun senasib dengan Roli.
Para ibu dan anak-anak mereka pun tampak duduk di lantai menikmati perjalanan laut yang melelahkan. Tentu saja kondisi ini berbeda dengan penumpang VIP yang bisa menikmati perjalanan menyenangkan di ruang khusus.(Sari Muliyasno)
Para calon penumpang yang sudah dua hari menunggu di Labuhan Haji mulai bergegas meninggalkan loket menyiapkan barang bawaan menuju kapal yang menunggu di dermaga. Berlayar menggunakan KMP Teluk Singkil dari Labuhan Haji menuju Simeulue akan membutuhkan waktu antara 7 sampai 8 jam.
Penundaan pelayaran satu trip akibat kebocoran pipa oli pada KMP Teluk Singkil mengharuskan Totok (34) bersama puluhan penumpang lainnya menunggu dua hari di Labuhan Haji. “Daripada tinggal lagi menginap, lebih baik cepat beli tiket dan naik ke kapal,” katanya Totok, kepada Serambi, Kamis (9/2), sambil berlalu meninggalkan kerumuman di loket.
Kerumunan calon penumpang tak hanya terdapat di pintu loket. Di pintu masuk kapalpun para penumpang harus sabar menunggu giliran naik ke kapal. Namun, di sini agak lumayan tertib karena sejumlah Anak Buah Kapal (ABK) dan petugas pelabuhan menertibkan penumpang agar tidak ada calon penumpang yang ugal-ugalan naik ke kapal khususnya yang memiliki kenderaan roda dua maupun empat.
Ketika matahari mulai terasa membakar kulit melewati pukul 10.00 WIB, KMP Teluk Singkil baru angkat jangkar. Di dalam kapal, wow... padatnya. Ketika di pelabuhan tadinya hanya terlihat seratusan orang penumpang, di dalam kapal ternyata dua kali lipat banyaknya. Semua kursi yang tersedia terisi penuh. Bahkan tidak sedikit penumpang yang harus berdiri di tepi kapal.
Begitupun, tak menyurutkan niat bagi penumpang kapal yang berkapasitas 200-an tempat duduk dan belasan truk barang itu untuk diberangkatkan ke kabupaten pecahan dari Aceh Barat beberapa tahun silam. “Yang penting sampai di Simeulue,” kata Roli, lelaki yang sudah satu malam bermalam di Labuhan Haji.
Roli memilih tempat duduk di lantai yang belum ditempati penumpang lainnya. Ia hanya menggunakan alas kertas koran yang sengaja dibawa dari pelabuhan. Puluhan penumpang lainnya pun senasib dengan Roli.
Para ibu dan anak-anak mereka pun tampak duduk di lantai menikmati perjalanan laut yang melelahkan. Tentu saja kondisi ini berbeda dengan penumpang VIP yang bisa menikmati perjalanan menyenangkan di ruang khusus.(Sari Muliyasno)
Editor : bakri
