Rabu, 4 Maret 2015
Home » Opini

Aceh dalam Skenario?

Rabu, 15 Februari 2012 08:57 WIB

KASUS pembunuhan para buruh dari etnis Jawa di Aceh beberapa waktu yang lalu, hingga kini belum ada tanda-tanda siapa pelakunya. Polisi juga belum mampu mengungkap siapa di balik kasus pembunuhan berantai tersebut. Kesimpulan sementara dari kepolisian, sebagaimana disampaikan oleh Kabid Humas Mabes Polri bahwa pembunuhan tersebut terkait dengan Pilkada.

Hal ini kemudian memunculkan berbagai asumsi dan persepsi, siapa di balik kasus pembunuhan tersebut, mengapa targetnya buruh etnis Jawa dan apa kepentingan di balik itu semua? Pertanyaan ini penting untuk dijawab, sehingga menjadi suatu analisis awal dalam mengungkap kasus tersebut. Ataupun kasus teror ini tidak hilang bagai semilir angin yang berlalu begitu saja. Tidak juga menjadi suatu anggapan bahwa teror adalah hal biasa terjadi di Aceh.

Untuk menjawab siapa di balik pembunuhan tersebut bukanlah hal mudah, apalagi ketika pelakunya belum tertangkap. Motif apa yang menyebabkan pembunuhan tersebut, ini juga penting untuk diketahui, sehingga ada garis korelasi dengan situasi yang ada.

Pihak kepolisian menyatakan bahwa pembunuhan ini erat kaitannya dengan Pilkada. Lalu, apa kaitannya antara buruh dengan pilkada? Mengapa harus buruh bangunan yang harus dibunuh, atau lebih khusus lagi mengapa buruh yang beretnis jawa? Mengapa tidak langsung para politisi yang menjadi target, jika ini kaitannya dengan Pilkada?

Beberapa target
Penulis melihat ada beberapa target yang ingin diciptakan dalam situasi Pilkada Aceh hari ini, yang pertama adalah menciptakan suatu isu menjadi sesuatu hal yang massif. Artinya, jika yang menjadi korban pembunuhan di Aceh adalah warga luar Aceh maka akan menjadi perbincangan secara nasional, bahkan international.

Berbeda jika yang menjadi korban itu adalah warga Aceh, maka hal tersebut tidak menjadi suatu konsumsi secara nasional. Hal ini terlihat ketika Jakarta merespon kasus pembunuhan buruh di Aceh secara serius. Artinya buruh menjadi menjadi “kelinci” percobaan yang mempunyai cost rendah, tapi diharapkan mempunyai dampak besar.

Kedua, karena teror ini dikatakan terkait erat dengan Pilkada, maka pilkada di Aceh dapat dijustifikasikan sebagai suatu proses demokrasi yang tidak dalam kondisi kondusif. Artinya, dalam kondisi demikian diperlukan suatu upaya pengamanan yang komprehensif. Yaitu pengamanan yang tidak hanya dilakukan oleh kepolisian, namun juga perlu didukung oleh pihak militer (TNI), serta pamswakarsa warga Negara.

Halaman12
Editor: bakri
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas