Pemkot Diminta Tertibkan Anak Punk
Minggu, 19 Februari 2012 21:31 WIB
Berita Terkait
- Ratusan Rumah di Medan Maimun Terendam Banjir
- Berlagak Jagoan, Anggota OKP Remuk Dikeroyok
- Bawa Sabu, Wanita Aceh Timur Ditangkap di Medan
- Rumah Bandar Sabu Digerebek
- Terkepung di Hutan, Penikam Pasutri Menyerah
- Hujan Badai Terjang Medan
- KM Bina Bersama Dilalap Api, Lima Warga Singkil Terbakar
- Wanita Muda Tewas di Kamar Hotel
- Terlibat Perampokan, Mahasiswa Medan Dibekuk Polisi
- Main Judi, Anggota DPRD Sumut Ditangkap
SERAMBINEWS.com, MEDAN - Pemerintah kota (Pemkot) Medan diminta kerja keras untuk menertibkan kelompok-kelompok anak punk yang banyak berkeliaran di kota itu, kegiatannya semakin meresahkan masyarakat.
Salah seorang warga Medan Muhammad Irsal (54) di Medan, Jumat (17/2), mengatakan,anak-anak punk tersebut, tidak segan-segan miminta uang dan memaksa pengendara mobil dan penumpang becak mesin yang berhenti di lampu merah.
Jika mereka tidak diberikan uang, anak punk itu sering mengeluarkan kata-kata kotor kepada masyarakat.
"Perbuatan seperti ini tidak boleh dibiarkan, dan harus secepatnya diantisipasi oleh Pemkot Medan melalui Dinas Sosial yang sering melakukan penertiban razia dan mengamankan anak punk tersebut," kata Irsal.
Dia mengatakan, keberadaan kelompok anak punk yang beroperasi di Jalan Sisingamangaraja, Halat, AH Nasution, Jalan M Yamin, Ring Road dan jalan lainnya harus dibersihkan, karena sering mengganggu arus lalu lintas.
Selain itu, kelompok anak punk dengan rambut dicat, baju robek, serta sebahagian badan dipenuhi tato itu, kelihatana merusak pemandangan.
Apalagi, jelasnya, tahun ini Kota Medan sebagai daerah kunjungan wisatawan, dan keberadaan anak punk, anak jalanan dan pengemis penderita kusta itu perlu dibersihkan.
"Tahun 2012 ini, diharapkan seluruh anak punk, pengemis jalanan dan tuna wisma itu jangan ada kelihatan lagi, ini jelas merusak keindahan Kota Medan yang akan menjadi kota metropolitan," ujarnya.
Lebih jauh dia menjelaskan, anak-anak punk yang berkeliaran di Kota Medan berpenduduk 2,3 juta jiwa itu, bukan berasal dari daerah ini, tetapi mereka asal Kabupaten Serdang Bedagai, Deli Serdang dan daerah lainnya.
"Jumlah anak-anak punk yang ada di Medan ini, mencapai ratusan orang, baik itu pria dan wanita. Dan mereka rata-rata masih berusia muda dan putus sekolah," kata Irsal.
Hamid (53) warga Jalan Laksana Medan mengatakan, sebahagian anak punk yang beroperasi di kota itu, meminta uang dengan berpura-pura sebagai pengamen.
Kemudian, jelasnya, uang dari hasil meminta-minta kepada masyarakat itu, mereka gunakan untuk biaya makan hidup di kota Medan.
Selain itu, katanya, anak punk tersebut juga membeli lem cap kambing dan setiap harinya mereka hirup sebagai pengganti narkoba dengan istilah mereka sebut "ngelem".
Fenomena seperti ini tidak asing lagi bagi anak punk dan jalanan yang setiap hari menggunakan lem tersebut.
"Kegiatan seperti ini, diharapkan dapat ditertibkan, karena jelas merusak pemandangan dan meresahkan masyarakat," kata Hamid.(Ekmal)
Salah seorang warga Medan Muhammad Irsal (54) di Medan, Jumat (17/2), mengatakan,anak-anak punk tersebut, tidak segan-segan miminta uang dan memaksa pengendara mobil dan penumpang becak mesin yang berhenti di lampu merah.
Jika mereka tidak diberikan uang, anak punk itu sering mengeluarkan kata-kata kotor kepada masyarakat.
"Perbuatan seperti ini tidak boleh dibiarkan, dan harus secepatnya diantisipasi oleh Pemkot Medan melalui Dinas Sosial yang sering melakukan penertiban razia dan mengamankan anak punk tersebut," kata Irsal.
Dia mengatakan, keberadaan kelompok anak punk yang beroperasi di Jalan Sisingamangaraja, Halat, AH Nasution, Jalan M Yamin, Ring Road dan jalan lainnya harus dibersihkan, karena sering mengganggu arus lalu lintas.
Selain itu, kelompok anak punk dengan rambut dicat, baju robek, serta sebahagian badan dipenuhi tato itu, kelihatana merusak pemandangan.
Apalagi, jelasnya, tahun ini Kota Medan sebagai daerah kunjungan wisatawan, dan keberadaan anak punk, anak jalanan dan pengemis penderita kusta itu perlu dibersihkan.
"Tahun 2012 ini, diharapkan seluruh anak punk, pengemis jalanan dan tuna wisma itu jangan ada kelihatan lagi, ini jelas merusak keindahan Kota Medan yang akan menjadi kota metropolitan," ujarnya.
Lebih jauh dia menjelaskan, anak-anak punk yang berkeliaran di Kota Medan berpenduduk 2,3 juta jiwa itu, bukan berasal dari daerah ini, tetapi mereka asal Kabupaten Serdang Bedagai, Deli Serdang dan daerah lainnya.
"Jumlah anak-anak punk yang ada di Medan ini, mencapai ratusan orang, baik itu pria dan wanita. Dan mereka rata-rata masih berusia muda dan putus sekolah," kata Irsal.
Hamid (53) warga Jalan Laksana Medan mengatakan, sebahagian anak punk yang beroperasi di kota itu, meminta uang dengan berpura-pura sebagai pengamen.
Kemudian, jelasnya, uang dari hasil meminta-minta kepada masyarakat itu, mereka gunakan untuk biaya makan hidup di kota Medan.
Selain itu, katanya, anak punk tersebut juga membeli lem cap kambing dan setiap harinya mereka hirup sebagai pengganti narkoba dengan istilah mereka sebut "ngelem".
Fenomena seperti ini tidak asing lagi bagi anak punk dan jalanan yang setiap hari menggunakan lem tersebut.
"Kegiatan seperti ini, diharapkan dapat ditertibkan, karena jelas merusak pemandangan dan meresahkan masyarakat," kata Hamid.(Ekmal)
Editor : snajli
Sumber : Tribun Medan
