Tafakur
Memohon Maaf
Barangsiapa mempunyai kezaliman kepada saudaranya mengenai hartanya atau kehormatannya, maka diminta dihalalkanlah kepadanya dari dosanya
“Barangsiapa mempunyai kezaliman kepada saudaranya mengenai hartanya atau kehormatannya, maka diminta dihalalkanlah kepadanya dari dosanya itu sebelum datang hari di mana nanti tidak ada dinar dan dirham (hari kiamat), di mana akan diambil dari pahala amal kebaikannya untuk membayarnya. Kalau sudah tak ada lagi amal kebaikannya, maka akan diambil dari dosa orang yang teraniaya itu lalu dipikulkan kepada orang yang menganiaya itu” (HR. Imam Bukhari).
Setiap orang Muslim yang meninggal dunia dan akan dimasukkan ke dalam kuburan, orang-orang yang masih hidup senantiasa diajak untuk memaafkan dosa-dosanya. Hal ini menunjukkan pentingnya bagi setiap orang kembali kepada Allah dalam keadaan terampuni segala dosa. Namun demikian, siapa yang sanggup menjamin semua orang yang pernah menjadi korban aniaya hati, mata, lidah, tangan, dan tangan orang yang meninggal dunia, sempat hadir ketika itu dan memberi maaf? Siapa juga yang mampu mengingat berapa banyak orang yang telah terzalimi? Siapa juga yang mampu menjamin terhapus dosa tanpa memohon maaf sendiri sebelum mati?
Apalagi dengan segala keterbatasan, umumnya manusia tidak mampu merekam dalam ingatan siapa-siapa saja dari hamba Allah di dunia ini yang telah menjadi korban dari perilaku zalimnya. Juga tak mampu mengingat apa saja perilaku-perilaku aniaya itu, kapan, di mana dilakukan. Lebih-lebih orang-orang yang teraniaya telah terlebih dahulu meninggal dunia. Sungguh tak terhitung banyaknya dosa, besar atau kecil, yang masih tersangkut dengan orang lain, bila tak sempat memohon maaf sewaktu hayat masih dikandung badan.
Karena itu, sebelum ajal tiba, sejatinya kita sebagai makhluk sosial yang selalu bersentuhan dengan orang lain, membiasakan diri memohon maaf kepada orang lain, terhadap setiap perilaku zalim, yang disengaja atau tidak. Kalau tidak, bersiap-siaplah untuk menanggung segala beban yang besar atau menjadi orang yang bangkrut di akhirat kelak. Dan bahkan menjadi pemikul dosa-dosa dari orang-orang yang pernah terzalimi.