Guru Laki-laki Tempati Daerah Terpencil
Distribusi guru di Aceh Singkil tidak merata. Sekolah yang terletak di pusat kota dan pemerintahan mengalami kelebihan guru, sementara
Gebrakan tersebut, berupa mengembalikan guru SD yang telah jadi guru SMP ke SD lagi. Kemudian guru laki-laki ditugaskan jauh dari tempat tinggalnya.
“Guru SD yang telah mengajar di SMP akan dikembalikan ke SD. Ini dilakukan untuk mengisi kekosongan di sekolah dasar. Kecuali Pulau Banyak, guru SD yang mengajar di SMP tidak ditarik, karena di sana SMP yang kekurangan. Malah kami sedang mengusulkan ke Menteri Pendidikan, supaya dana sertifikasinya tak dicabut, dan dapat tunjangan lain, karena tidak mudah menempatkan guru di Pulau Banyak,” kata Sanusi, Selasa (6/3).
Menempatkan guru laki-laki mengisi kekurang di SD yang jauh dari tempat tinggalnya, semata-mata masalah kemanusiaan. Menurut Sanusi, guru perempuan secara kodrat tidak bisa jauh meninggalkan keluarga.
“Kalau guru laki-laki, bisa naik sepeda motor tiap hari dengan jarak sejam perjalanan, tapi perempuan kasihan belum lagi mengurus keluarganya. Kami akan melakukan segala upaya agar pemerataan tercapai,” tandas Kadis Pendidikan.
Jumlah guru di Aceh Singkil sudah melebihi dari yang dibutuhkan. Dari rasio antaraguru dengan murid cukup 1:22, di daerah ini malah sudah 1:18. Kendati jumlah guru sudah berlebih, namun di lapangan masih ada sekolah yang kekurangan, terutama di daerah terpencil. Kondisi itu terjadi, lantaran penempatan guru selama ini tidak merata. Permasalahan lain, jumlah guru bidang studi tertentu mengalami kelebihan, sebaliknya bidang studi lain mengalami kekurangan.(c39)