Sabtu, 9 Mei 2026

Malik dan Zaini Sambangi IAIN

Untuk pertama kali sejak kembali ke Aceh pada tahun 2006 lalu, dua mantan petinggi GAM, Malik Mahmud Al-Haytar dan Zaini Abdullah

Tayang:
Editor: bakri
zoom-inlihat foto Malik dan Zaini Sambangi IAIN
Calon Gubernur Aceh dari Partai Aceh (PA), dr Zaini Abdullah (kiri) didampingi Pemangku Wali Nanggroe, Malik Mahmud (kanan) berjabat tangan dengan Rektor IAIN Ar-Raniry, Prof Dr H Farid Wajdi Ibrahim MA (tengah) seusai bersilaturrahmi dengan pimpinan dan civitas akademika IAIN Ar-Raniry di Ruang Pertemuan Pascasarjana, Darussalam, Banda Aceh, Selasa (6/3). SERAMBI/BUDI FATRIA
BANDA ACEH - Untuk pertama kali sejak kembali ke Aceh pada tahun 2006 lalu, dua mantan petinggi GAM, Malik Mahmud Al-Haytar dan Zaini Abdullah, berkunjung ke kampus IAIN Ar-Raniry, Darussalam Banda Aceh, Selasa (6/3). Mereka disambut disambut Rektor IAIN Ar-Raniry Prof Dr Farid Wadjidi MA bersama jajaran civitas akademika IAIN.

Dalam keterangan pers kepada wartawan, dr Zaini Abdullah mengungkapkan pertemuan tersebut merupakan sebuah bentuk silaturahmi antara dirinya dengan para civitas akademika. Sekaligus untuk menyerap berbagai informasi terkait perkembangan Aceh, terutama di bidang pendidikan.

“Kami banyak mendapat masukan tadi. Bagaimana dari pertemuan ini akan menjadi hal berarti untuk kami bisa berbuat lebih baik lagi ke depan. Jadi ini sebatas pertemuan silaturahmi saja,” kata Zaini.

Ia menambahkan, pertemuan tersebut juga dimaksudkan sebagai wadah untuk saling mengenal lebih jauh di antara para pihak. Selama ini, kata Zaini, ada jarak yang memisahkan dirinya yang pernah menjadi warga negara Swedia dan hidup di pengasingan hingga 29 tahun, dengan rakyat Aceh, termasuk para akademisi. “Dulu kita hanya kenal lewat media televisi. Tapi sekarang sudah akrab dan bisa bertemu langsung,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, Malik Mahmud dan Zaini Abdullah membahas berbagai potensi Aceh dengan Rektor dan civitas akademika IAIN Ar-Raniry. Menurut Malik Mahmud, kekayaan alam Aceh merupakan sebuah aset yang sangat potensial dikembangkan untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Tapi, kata Malik, semua aset ini kurang diberdayakan pemerintah seperti halnya Pelabuhan Sabang yang hingga kini tidak memberi arti apa-apa buat rakyat Aceh.

Sementara itu Rektor IAIN Ar-Raniry Prof Dr Farid Wadjdi mengatakan dalam perkembangannya kampus IAIN telah mengalami fase sejarah yang cukup panjang.

Namun kampus tersebut kini masih terus berbenah dan masih dalam tahap renovasi. Dia juga menyebutkan kampus IAIN Ar Raniry Banda Aceh juga tengah mengupayakan pengubahan status dari institut menjadi universitas.(sar)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved