Malik dan Zaini Sambangi IAIN
Untuk pertama kali sejak kembali ke Aceh pada tahun 2006 lalu, dua mantan petinggi GAM, Malik Mahmud Al-Haytar dan Zaini Abdullah
Dalam keterangan pers kepada wartawan, dr Zaini Abdullah mengungkapkan pertemuan tersebut merupakan sebuah bentuk silaturahmi antara dirinya dengan para civitas akademika. Sekaligus untuk menyerap berbagai informasi terkait perkembangan Aceh, terutama di bidang pendidikan.
“Kami banyak mendapat masukan tadi. Bagaimana dari pertemuan ini akan menjadi hal berarti untuk kami bisa berbuat lebih baik lagi ke depan. Jadi ini sebatas pertemuan silaturahmi saja,” kata Zaini.
Ia menambahkan, pertemuan tersebut juga dimaksudkan sebagai wadah untuk saling mengenal lebih jauh di antara para pihak. Selama ini, kata Zaini, ada jarak yang memisahkan dirinya yang pernah menjadi warga negara Swedia dan hidup di pengasingan hingga 29 tahun, dengan rakyat Aceh, termasuk para akademisi. “Dulu kita hanya kenal lewat media televisi. Tapi sekarang sudah akrab dan bisa bertemu langsung,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, Malik Mahmud dan Zaini Abdullah membahas berbagai potensi Aceh dengan Rektor dan civitas akademika IAIN Ar-Raniry. Menurut Malik Mahmud, kekayaan alam Aceh merupakan sebuah aset yang sangat potensial dikembangkan untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Tapi, kata Malik, semua aset ini kurang diberdayakan pemerintah seperti halnya Pelabuhan Sabang yang hingga kini tidak memberi arti apa-apa buat rakyat Aceh.
Sementara itu Rektor IAIN Ar-Raniry Prof Dr Farid Wadjdi mengatakan dalam perkembangannya kampus IAIN telah mengalami fase sejarah yang cukup panjang.
Namun kampus tersebut kini masih terus berbenah dan masih dalam tahap renovasi. Dia juga menyebutkan kampus IAIN Ar Raniry Banda Aceh juga tengah mengupayakan pengubahan status dari institut menjadi universitas.(sar)