Tafakur
Keikhlasan Rabi'ah
Ya Allah, bila hamba ini beribadat karena mengharapkan surga-Mu, maka haramkan lah dari syurga-Mu
“Ya Allah, bila hamba ini beribadat karena mengharapkan surga-Mu, maka haramkan lah dari syurga-Mu. Dan bila hamba-Mu ini beribadat ini karena takut akan neraka-Mu, maka masukkanlah hamba ke dalam neraka-Mu” (Doa Rabi’ah al-Adawiyah).
Hiruk-pikuk suasana, seperti saat menjelang pemilihan kepala daerah, bisa membuat banyak insan hanyut dalam arus hidup yang tak menentu. Bahkan diri sendiri menjadi terlupakan. Shalat dan melakukan amal salih pun kadangkala terlupakan. Yang tua atau muda lupa berapa banyak tenaga, waktu, dan suara yang telah terkorbankan. Lupa mempertanyakan sejauhmana pengorbanan itu bermakna bagi perbaikan diri, seumpama memurnikan keikhlasan diri dalam beribadah.
Tidak demikian dengan seorang wanita bernama Rabi’ah al Adawiyah, yang tempo dulu pernah hidup di negeri Irak. Rabi’ah berusaha sekuat tenaga untuk tak hanyut dalam derasnya arus kemasyukan dunia. Ia menarik diri ke tempat yang hening, tempat ia bisa bertafakkur dan bertaubat kepada Allah.
Menurut riwayat, di waktu larut malam tiba, di saat orang-orang sudah terlelap dalam tidurnya, Rabi’ah bangkit untuk mengadu kepada Allah. Dengan linangan air mata, ia bermunajat dan bersyukur kepada Allah. Dalam salah satu doanya, beliau mengungkapkan kecintaan yang murni kepada Allah. Samasekali bukan kecintaan karena mengharapkan surga-Nya atau takut neraka-Nya. Amalannya terus dilakukan hingga hembusan nafasnya yang terakhir.
Dari kisah itu, kita diajak untuk mempertanyakan di manakah posisi keikhlasan dalam beribadah kita saat ini. Masihkah kita merasa aman dalam arus hidup yang tak menentu?