Tafakur
Mensyukuri Kemenangan
Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tak mau berterimakasih kepada sesama manusia
“Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tak mau berterimakasih kepada sesama manusia” (HR. Imam Ahmad).
Umumnya manusia akan merasakan kesenangan yang tak terhingga manakala meraih suatu kemenangan. Lebih-lebih setelah melewati sejumlah persaingan ketat dan berat, serta pengorbanan yang tak sedikit. Namun, sepantasnya kesenangan itu tidak sampai mengurangi rasa syukur kepada Allah, sekaligus kepada manusia.
Bahkan, sebagaimana dikatakan Rasulullah, tanda syukurnya manusia kepada Allah perlu terwujud juga dalam bentuk syukur kepada sesama manusia. Lebih-lebih kemenangan dalam suatu pemilihan pemimpin, misalnya, tak akan diraih tanpa bantuan sesama manusia. Satu-satu atau beramai-ramai datang menyisihkan waktu untuk tujuan memberikan suara, meskipun banyak tugas lain terpaksa diabaikan. Tentunya, ini semua akan dihargai, ekcuali oleh manusia yang tak berhati nurani.
Sebagaimana bentuk syukur kepada Allah dengan memanfaatkan kemenangan sebagai amanah di jalan kebaikan, terimakasih kepada sesama manusia juga perlu diwujudkan dalam bentuk menjaga amanah. Tidak sedikit jalur bisa dilakukan, termasuk di antaranya menunaikan janji-janji untuk melaksanakan keadilan; bahkan, kalau disyukuri, nikmat dari Allah akan bertambah. Sebaliknya, kalau disia-siakan, kata Rasulullah sallallahu ‘alaihiwasallam, amanah akan menjadi kenistaan dan penyesalan di hari akhirat kelak (HR. Muslim).