Rabu, 10 Juni 2026

Opini

Jatidiri Unsyiah

KITA perlu menerjemahkan bahwa sentilan Serambi dalam editorialnya dengan judul "Unsyiah jangan Terkesan Ekslusif" (Sabtu, 14/04/2012)

Tayang:
Editor: bakri

Oleh Yuswar Yunus

KITA perlu menerjemahkan bahwa sentilan Serambi dalam editorialnya dengan judul “Unsyiah jangan Terkesan Ekslusif” (Sabtu, 14/04/2012), bukanlah untuk menohok Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), atas kegigihan Prof Darni M Daud yang gagal memposisikan dirinya untuk menjadi Gubernur Aceh pada Pilkada 2012 ini. Walau semua civitas akademika Unsyiah, jauh-jauh sebelumnya telah memprediksi kiprah Darni yang dinilai terlalu memaksakan dirinya maju, untuk bertarung.

Kelihatan ia serba salah, dimana satu sisi mungkin terlanjur basah, maka ia pun mandi sekalian untuk basah-basahan bersama Abi Lampisang, karena nilai suara yang diperoleh pemimpin kampus dan pemimpin pesantren ini, tidak jauh berbeda. Darni sebagai ilmuan duniawi dan Abi Lampisang sebagai ilmuan ukhrawi, mereka berdua orang-orang akademik yang patut dihormati. Namun, garis tangan menentukan lain. Mereka bukan politisi, tetapi mencoba-coba belajar dalam politisasi keacehan, karena minat yang mungkin tidak didukung oleh bakat untuk berkompetisi.

Jauh-jauh hari sebelum pertarungan Pilkada Aceh berlangsung, para ilmuan kampus bertanya: Mau dibawa kemana wajah kampus ini oleh rektornya? Mau dibawa kemana gelar terhormat dengan kehormatan toganya (belum tentu dijamin ampuh), bahkan wibawa kampus akan hancur, karena samurai jantong hate milik Tgk Syiah Kuala dipinjam oleh Prof Darni, diduga boleh jadi beliau lupa karena tidak ziarah ke makan Tgk Syiah Kuala untuk mohon restu? Seyogyanya, jabatan gubernur yang diperebutkan di ajang Pilkada yang memang sangat spekulatif itu, tidak perlu melibatkan rektor, kecuali bagi mereka yang memang telah menjadi publik figur dan dicintai.

Meski demikian, secara jujur harus diakui bahwa kehadiran Darni sang intelektual kampus di ajang Pilkada, telah lebih menambah khasanah dan gaung partisipatoris dan keanekaragaman pola yang menandakan bahwa Aceh selalu berkibar dalam karakternya yang senang dalam ayunan politik dan Aceh selalu berada dalam pluralisme konsep untuk berdemokrasi dalam pemilukada. Mungkin bagi Darni, menang dan kalah bukan substansial dalam pertarungan, lebih penting ia telah mampu melempar sensasi untuk berpartisipasi penuh karena ingin berbuat yang terbaik bagi Aceh, jika ia terpilih sebagai gubernur tentu ia punya konsep yang jitu untuk membangun. Itu tentu keyakinan Darni.

Namun, dalam editorial Serambi tersebut, berharap Rektor Unsyiah ke depan harus benar-benar menjadi publik figur karena jabatannya, bukan karena ada kepentingannya. Karena itulah, kepada Rektor baru Unsyiah yang lahir secara aklamasi, Sdr Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng, perlu mendapat dukungan dengan beberapa catatan:

Pertama, SK Mendiknas yang telah memberi mandat kepadanya tidak mengikat untuk menentukan para stafnya (Pembantu Rektor). Hal ini penting dicermati, agar nuansa kepemimpinan baru di Unsyiah, akan lebih memotifasi seluruh civitas akademika untuk bekerja lebih baik, akibat kepemimpinan lama yang hilang konsentrasi karena hanyut di luar kampus, dalam pilkada. Disarankan untuk segera mempolakan ‘Reformasi Unsyiah’, terutama untuk mengganti seluruh pembantu rektor, agar semangat kebersamaan akan muncul dalam satu fokus yang tanpa didera oleh adanya ‘duri dalam daging’.

Kedua, fatwa Presiden Soekarno yang digaungkan pada 2 September 1959 saat peresmian kampus Darussalam, telah dinukilkan di batu prasasti Tugu Kopelma: “Tekat bulat melahirkan perbuatan yang nyata, Darussalam menuju kepada pelaksanaan cita-cita”, perlu dihayati oleh kepemimpinan Unsyiah sekarang, tidak kecuali para senatornya untuk mengeimplementasikan lewat keberadaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, di mana semboyan yang diberikan oleh Gubernur A Hasjmy: “Unsyiah sebagai jantong hate rakyat Aceh”.

Ketiga, kematangan Unsyiah tidak hanya dilihat dari sisi usia (1961-2012), tetapi juga perlu dilihat format visi dan misinya. Sudahkan Unsyiah menemukan jati dirinya sesuai keberadaan Tri Dharma Perguruan Tinggi? Unsyiah perlu bercermin untuk melihat jati diri dan kembali ke khitahnya, yaitu harus secepatnya merevitalisasi kembali kondisi Unsyiah “masa lalu, masa sekarang, dan masa depan”.

Keempat, Rektor baru sekarang beserta senator kampus harus ‘sadar sejarah’ bahwa Unsyiah telah kecolongan dalam kepemimpinannya pada usia yang ke-50. Mereka yang tidak mengetahui sejarah, jangan coba-coba menghancurkan Kopelma, karena Kopelma bukan milik penguasa kampus, serta tidak boleh dihancurkan oleh siapa pun. Kita berharap, lokomotif Unsyiah ke depan, tidak menarik gerbong primordial yang terkesan untuk mengutamakan kepentingan kelompok dari pada kepentingan institusi.

Kelima, Prof Darni yang kalah ‘perang’ tidak dapat disalahkan. Walau terbukti, karena semangatnya ketika itu untuk berpilkada begitu tinggi, menyebabkan Darni lupa dengan tugas utamanya sebagai nakhoda Unsyiah. Para guru besar di Senat Unsyiah yang telah ‘terkebiri’ pada saat Darni maju sebagai rektor periode kedua, juga tidak mampu mengingatkannya. Seharusnya ia konsen untuk mengangkat kembali derajat Unsyiah yang anjilok pada akreditasi C. Akhirnya Darni terpuruk, “sudah Jatuh Tertimpa Tangga”. Ini adalah kekhilafan seluruh civitas akademika dan menjadi sejarah penting dalam perjalanan Unsyiah.

Keenam, kesejahteraan dosen adalah paling utama dan rektor baru perlu segera memberantas patron koncoisme yang menjamur dan terkesan sangat menonjol saat ini di lingkungan rektorat. Mungkin rektor lama tidak menyadari, kalau sikap bawahannya telah menciptakan ‘gap’ untuk memposisikan diri sebagai penguasa kampus yang konvensional. Persis seperti mental rezim Orde Baru, siapa yang berkuasa ia berbusung dada, dan bukan siapa yang mampu untuk berbuat sesuai kepakarannya.

Ketujuh, kehadiran Prof Samsul Rizal yang dipilih secara aklamasi oleh para senator Unsyiah, diharapkan tidak hanya sekedar hadir karena dikehendaki oleh pemilih yang mencintainya atau ‘putra mahkota’ yang sengaja disiapkan untuk memimpin Unsyiah setelah dinasti Darni, melainkan harus memposisikan dirinya sebagai pengembara yang terus-menerus menampung berbagai aspirasi yang datang dari berbagai pihak. Samsul harus punya nyali dan tidak menutup hatinya, terutama yang berhubungan dengan kesejahteraan civitas akademika.

Kedelapan, kepemimpinan kampus sekarang hendaknya memposisikan diri sebagai generasi yang punya rasa malu dan kita semua yakin bahwa ilmuan kampus, tidak pernah menyebut dirinya sebagai intelektual sejati, walau ia selalu menempuh internalisasi untuk sebutan itu. Anggota Senat Universitas selalu punya komitmen apa pun terhadap persoalan-persoalan yang bersliweran di sekitarnya, tetapi anggota senat pada masa reformasi sekarang, tidak boleh menganut motto: “Diam itu emas dan berkata itu perak”.

Kesembilan, Prof Samsul Rizal, hendaknya kembali memfungsikan senat Universitas dengan baik. Senator kampus, bukanlah generasi mengambang, bukan pula generasi yang mudah digiring dan menerima instruksi penguasa kampus seperti waktu pemilihan rektor dulu. Kampus akan sangat berbangga jika pemimpin kampus berhasil dalam peringkat akademik dalam pengembangan pendidikan dan pengetahuan, sesuai rambu-rambu struktural pendidikan.

Kesepuluh, selamat buat Pak Rektor baru. Ulang tahun Unsyiah dengan usianya yang ke 50 tahun lalu (2011), sangat bermakna untuk 2012 dan harus menjadi penunjang Tridarma Perguruan Tinggi, sekaligus sebagai superfisial yang ampuh daya rangsangnya. Di tangan rektor baru dan senator kampus yang mulai lega, sebagai mandataris dan pemegang toga yang agung serta amanat, kewajiban pendidikan masyarakatnya dan cahaya surya hari depan Aceh yang kita nanti, ada di Kopelma, di mana nantinya jantong hatee yang telah tercecer di Pilkada harus kita rebut dan kemudian kita pasang kembali di tugu Kopelma Darussalam.

* Prof. Dr. Ir. Yuswar Yunus, MP, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved