10 Lembu di Pidie Mati Keracunan
Sepuluh ekor lembu yang mati mendadak di Gampong Nien, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, ternyata positif diracun menggunakan chlorine
SIGLI - Sepuluh ekor lembu yang mati mendadak di Gampong Nien, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, ternyata positif diracun menggunakan chlorine (pemutih). Hal itu terungkap berdasarkan hasil pemeriksaan Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) Regional I Medan.
“Kami baru saja menerima hasil pemeriksaan BPPV Regional I Medan. Ternyata lembu yang mati di Kecamatan Simpang Tiga itu diracun menggunakan chlorine, desinfaktan, pemutih, dan chlorine tablet,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Kadistannak) Pidie, drh Anas, kepada Serambi, Rabu (2/5).
Pihak BPPV yang melakukan pemeriksaan, kata Anas, mendapati bahwa lambung hewan ternak yang memakan pemutih itu hancur. Itu karena chlorine dan sebangsanya bekerja cepat di lambung, sehingga hewan yang melahapnya cepat mati.
Sebagaimana diberitakan terdahulu, sepuluh ekor lembu dilaporkan mati mendadak dalam tiga pekan terakhir di Gampong Nien, Kecamatan Simpang Tiga. Ternak yang mati itu masing-masing milik Muhammad Daud (45), Syahkubat (45), Marwan (40), Zulkifli Yunus (40), Tgk Asnawi (39), Nurdin (50), Zakaria (40), Amiruddin (40), M Yacob (50), dan Ridwan Taher.
Sejauh ini belum terungkap siapa yang menyebar chlorine cair maupun tablet di rerumputan Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, sehingga sapi-sapi tersebut mati setelah melahap zat yang biasanya digunakan sebagai pemutih kertas atau kain tersebut. Juga belum dapat dipastikan, apakah chlorine cair dan tablet itu sengaja dimasukkan ke mulut sapi dengan maksud untuk membunuhnya atau sekadar disebarkan di rerumputan.
Kadistannak Pidie, drh Anas, menambahkan, hingga kini Pidie baru memiliki empat pusat kesehatan hewan (puskeswan). Tersebar di Kecamatan Pada Tiji dan Mutiara. Sedangkan dua puskeswan lagi sedang dibangun. Masing-masing di Kecamatan Glumpang Baro yang dananya bersumber dari APBN dan di Tangse yang dananya bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) 2012.
Selain itu, kata Anas, ada dua dokter hewan di Pidie yang honorariumnya ditanggung oleh APBN. Kedua dokter tersebut adalah drh Syahrul Riza dan drh Mahfuddin.
Berdasarkan hasil sensus, ternak ukuran besar di Pidie mencapai 60.000 ekor, tersebar di 23 kecamatan. Setiap puskeswan mampu meng-coverage 2.000 populasi lembu/kerbau.
Saat ini Pidie masih kekurangan empat puskeswan lagi. “Idealnya kita harus memiliki delapan puskeswan untuk menanggulangi penyakit hewan, sehingga produksi ternak kita tercapai optimal,” kata Anas. (naz)