Tafakur
Menyukai Kebaikan
“Berbuat baiklah, karena Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik
“Berbuat baiklah, karena Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al Baqarah: 195).
Sejak Nabi Adam alaihissalam hingga Nabi Muhammad sallallahu alaihiwasallam, selalu ada dua pihak yang berbeda dalam merespon terhadap kebaikan. Yang satu mendukungnya, yang satu lagi menolaknya. Bahkan bukan hanya sebatas menolak, tetapi juga lebih ekstrim lagi: memeranginya agar segala jenis kebaikan tidak tegak di muka bumi ini, yang bahkan dilakukan oleh paman-paman Rasulullah. Tegaknya kebaikan bisa menyempitkan jalur untuk melakukan kejahatan. Kecenderungan manusia di masa kenabian juga tak mereda hingga sekarang.
Kenyataan ini sepatutnya menjadi bahan renungan untuk mengenal diri sendiri. Yaitu untuk mengenal posisi diri di antara dua posisi yang berbeda yang telah dipilih oleh para pendahulu. Posisi itu sekurang-kurangnya dapat ditentukan dengan cara menemukan kecenderungan untuk memihak atau melawan kebaikan. Posisi ini amatlah penting, terutama bila melihat apa yang ditunjukkan Allah kepada manusia. Melalui sebuah ayat Alquran, Allah menampakkan kesenangannya kepada orang yang berbuat kebaikan. Apa yang disukai Allah selanjutnya menjadi kesukaan para nabi, para sahabat, para tabiin, dan orang-orang beriman yang menjadi pewaris para nabi di masa-masa selanjutnya.
Sebaliknya, apa yang disukai pendahulu yang menolak kebaikan, juga diwarisi oleh para pelanjutnya. Sebahagiannya mewarisinya dengan kata-kata dan sikap, yang intinya menolak segala bentuk kebaikan. Sebahagian yang lain mewarisi perbuatan-perbuatan jahat dan bahkan mengembangkannya menjadi kejahatan-kejahatan canggih.
Siapapun bisa terjebak dalam posisi yang disebutkan terakhir, disadari atau tidak. Sehingga orang-orang yang shalat senantiasa berdoa agar diselamatkan dari jalan-jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang sesat (QS. Al Fatihah: 6-7).