Kamis, 11 Juni 2026

MTsS Lhok Beuringen, Aceh Utara

Kesayangan Warga Jambo Aye Tengah

MESKI masih berstatus swasta, MTsS Lhok Beuringen tetap mendapat tempat khusus di hati masyarakat Kemukiman Jambo Aye Tengah

Tayang:
Editor: bakri
zoom-inlihat foto Kesayangan Warga Jambo Aye Tengah
Kepala MTsS Teuku Chik Ditunong, di Lhokbeuringen Kecamatan Tanah Jambo Aye Aceh Utara, Drs Amiruddin Abdul Wahab di kuburan T Chik Ditunong, Desa Mon Geudong Lhokseumawe.SERAMBI- IBRAHIM ACHMAD
MESKI masih berstatus swasta, MTsS Lhok Beuringen tetap mendapat tempat khusus di hati masyarakat Kemukiman Jambo Aye Tengah. Selain karena merupakan satu-satunya lembaga pendidikan menengah di sana, madrasah ini juga dianggap berjasa mendidik anak-anak kawasan pedalaman itu, terutama saat konflik berkecamuk, mulai dari masa DOM (1990-1998) hingga Darurat Militer (2003-2005).

Kepala MTsS Lhok Beuringen Drs Amiruddin AW, kepada Serambi tiga hari lalu menceritakan, madrasah yang berjarak sekitar 8,5 kilometer arah selatan Pantonlabu (ibu kota Kecamatan Tanah Jambo Aye) ini, berdiri pada tahun 1990-an. Saat sekolah ini lahir, Aceh sedang dilanda konflik, hingga Pemerintah Pusat menetapkan status Daerah Operasi Militer (DOM).  

Maka tidak lah mengherankan, jika madrasah ini dianggap sebagai solusi bagi murid dari lima SD (sekolah dasar) dan satu MIN (madrasah ibtidaiyah) di Lhok Beuringen. Pasalnya, saat konflik berkecamuk, anak-anak Lhok Beuringen banyak yang harus putus sekolah di tengah jalan. Para orang tua merasa khawatir dengan keselamatan anaknya yang kala itu harus bersekolah ke ibu kota Panton Labu, yang berjarak sekitar 8-11 kilometer dari rumah mereka.

Menurut Amiruddin, konflik bersenjata kala itu juga membuat aktivitas belajar di beberapa SD yang dekat dengan rumah warga juga ikut terganggu. Bahkan, SD Desa Lhok Meureubo, terpaksa menghentikan (vakum) aktivitas belajar mengajar, karena ketiadaan murid.

Prihatin atas keadaan ini, sejumlah tokoh dan warga setempat menggelar rapat untuk menggagas kehadiran satu sekolah menengah di kemukiman mereka. “Sekitar bulan Februari, beberapa tokoh itu mengadakan rapat pertama di SDN-15 Lhok Meureubo. Semua yang hadir setuju untuk mendirikan satu madrasah tsanawiyah. Keputusan ini kemudian dikuatkan dalam rapat selanjutnya di Masjid Baitul Qiram, sehingga lahirlah MTsS ini,” kata Amiruddin.  

Persoalan sempat menghadang saat mencari lokasi madrasah ini. Sempat muncul rencana untuk memakai gedung SD-15 Lhok Meureubo yang telah vakum, namun harus dibatalkan karena status bangunan itu tidak boleh dipakai untuk MTs. Namun, semangat kebersamaan dan kegigihan masyarakat akhirnya madrasah ini bisa terwujud, dengan lokasi di Lhok Beuringen.

Kini, dengan fasilitas seadanya, pihak sekolah dan seluruh masyarakat masih terus berupaya keras untuk memberikan yang terbaik bagi siswa MTsS itu. Mereka berharap, suatu hari nanti, madrasah ini akan berstatus negeri (menjadi MTsN, dilengkapi dengan berbagai fasilitas bangunan, seperti musalla, laboratorium, serta sarana dan prasarana olahraga dan seni.(ibrahim achmad)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved