Dua Kontingen Popda Bentrok
Kamis, 28 Juni 2012 14:43 WIB
Share |
280612_05.jpg
Mahasiswa dan Pemuda Kabupaten Aceh Tengah dan Aceh Selatan terlibat bentrok di Kompleks Taman Sri Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Rabu (27/6) sekira pukul 02.00 WIB dini hari. Sebanyak 46 sepeda motor milik mahasiswa Aceh Tengah dibakar dalam bentrokan yang dipicu persoalan pertandingan sepak bola pada Pekan Olahraga Pelajar (Popda) antara kedua kabupaten itu, Senin (25/6) sore. SERAMBI INDONESIA/M ANSHAR
280612_06.jpg
280612_07.jpg


* Puluhan Sepeda Motor Hangus


BANDA ACEH - Pekan Olahraga Pelajar (Popda) yang sedang berlangsung di Banda Aceh ternoda dengan rusuh massal yang melibatkan kontingen dua daerah, Aceh Selatan-Aceh Tengah. Ribuan pelajar dan mahasiswa dari kedua daerah tersebut terlibat aksi saling serang di Taman Ratu Safiatuddin, Rabu (27/6) dini hari, Beruntung tak ada korban jiwa namun 46 unit sepeda motor hangus.

Rusuh massal di Taman Ratu Safiatuddin itu diduga terkait dengan terlukanya seorang pemain sepakbola asal Aceh Selatan bernama Heri akibat berkelahi dengan pesepakbola asal Aceh Tengah di kompleks  Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Senin (25/6) sore.

Perkelahian itu sendiri disebut-sebut dipicu saling ejek, sebab pada pagi harinya, ketika kedua tim bertemu pada duel penyisihan di Lapangan Jasdam, Neusu, tim Aceh Selatan memukul Aceh Tengah 4-1.

Perkelahian pada Senin sore itu sebenarnya sudah selesai ketika masing-masing pimpinan kontingen mengamankan kedua pihak ke pondokan masing-masing.

Ternyata berita terlukanya Heri menyebar di kalangan mahasiswa dan pemuda Aceh Selatan sehingga dengan semangat solidaritas mereka menyusun kekuatan untuk membuat perhitungan. Lalu, pada Senin (25/6) malam, serombongan besar pelajar dan mahasiswa Aceh Selatan sempat berusaha menyerbu pondokan atlet Aceh Tengah di Mes SMP 19 Percontohan, tak jauh dari Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya. Tetapi aksi malam itu tak sampai terjadi bentrok karena pihak keamanan cepat mengantisipasi, bahkan disebut-sebut Bupati Aceh Selatan ikut berperan memerintahkan massa dari daerahnya mundur. (Baca; Kronologis Kasus).

 Rusuh Taman Ratu
Di tengah upaya mendamaikan kedua kubu yang difasilitasi oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Aceh, tiba-tiba pada Rabu (27/6) dini hari terjadi rusuh massal di Kompleks Taman Ratu Safiatuddin, kawasan Lampriek, Banda Aceh.

Informasi yang dihimpun Serambi dari berbagai sumber menyebutkan, menjelang tengah malam, Selasa (26/6), puluhan mahasiswa/pemuda Aceh Tengah yang mengendarai sepeda motor masuk ke arena eks Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) V sambil menggeber-geber gas sepeda motor di sekitar Anjungan Aceh Selatan yang ditempati atlet pria. Warga sekitar yang sedang istirahat mengaku sempat terganggu dengan suara sepeda motor yang sangat keras.

Suasana semakin memanas karena ada info mahasiswa dan pemuda Aceh Tengah membawa parang dan akan melakukan penyerangan. Kabar itu direspons cepat oleh pemuda dan mahasiswa Aceh Selatan yang berada di berbagai pelosok Kota Banda Aceh termasuk yang tinggal di asrama. Maka, sejak Rabu dini hari, massa dalam jumlah besar memasuki areal Taman Ratu mengejar kelompok massa lainnya, dari Aceh Tengah.

Konfrontasi tak terhindarkan, apalagi terdengar komando agar kubu Aceh Selatan buka baju dan terus mengejar anak-anak Aceh Tengah yang sudah terkepung dalam Kompleks Taman Ratu. Kelompok lawan berusaha menyelamatkan diri ke bagian belakang panggung utama namun karena tak ada jalan, akhirnya mereka meninggalkan sepeda motornya begitu saja.

Dalam beberapa kali gelombang penyerangan sejak pukul 02.00 hingga pukul 03.45 WIB, Rabu (27/6) tercatat 46 unit sepeda motor hangus. Aksi itu sendiri berhasil diamankan setelah aparat keamanan dari TNI/Polri turun ke lokasi. Bahkan, ketika aksi pembakaran pertama, aparat keamanan sempat melepaskan beberapa kali tembakan peringatan ke udara. BPBD Kota Banda Aceh menurunkan satu unit armada pemadam kebakaran untuk memadamkan kobaran api dari sepeda motor yang terbakar. Menjelang subuh, situasi berhasil dikendalikan.

Laporan terbaru yang diterima Serambi, sebanyak 42 mahasiswa Aceh Tengah yang terlibat tawuran dan sempat diamankan atau mengamankan diri ke Mapolsek Kuta Alam, pada Rabu siang kemarin semuanya sudah kembali ke tempat masing-masing. Bahkan, 20 di antaranya sejak pagi kemarin sudah masuk kuliah lagi.

 Dandim memfasilitasi
Dandim 0101/BS, Letkol Inf Triadi Murwanto, Rabu (27/6) sore, memfasilitasi perdamaian antar dua kelompok massa mahasiswa yang terlibat bentrok. Kegiatan itu berlangsung di Aula Makodim 0101/BS yang dihadiri pihak Polresta Banda Aceh diwakili Kabag Ops Kompol Sulaiman dan Kasat Bimas Kompol Jauhari Iskandar. Selain itu juga hadir Kasatpol PP dan WH Fadhil SSos, tokoh masyarakat, orang tua serta perwakilan para mahasiswa dari kedua pihak.

Dandim 0101/BS menyayangkan bentrokan antar-kedua kelompok mahasiswa itu. Pasalnya, pemicu perselisihan itu dilatari oleh persoalan kecil yang semestinya bisa diselesaikan dengan kepala dingin yang lebih arif dan bijaksana. “Ini menunjukkan persaudaraan dan ukhuwah islamiah sesama kita sudah melemah. Apa dengan cara-cara seperti itu menyelesaikan masalah? Malah, akan memperuncing persoalan,” kata Letkol Inf Triadi.

Disebutkan, tindakan seperti itu tidak sepatutnya dilakukan oleh kedua belah pihak yang notabene berpendidikan tinggi sebagai mahasiswa. “Bila ada itikad baik dalam menyelesaikan permasalahan, pasti hal ini tidak akan terjadi. Karena itu kami minta kepada yang bertikai, untuk bisa menyelesaikan suatu persoalan itu dengan kepala dingin dan penuh rasa persaudaraan sesama muslim seperti semboyan yang berada di plang depan Kodim, geutanyoe mandum tameusyedara,” demikian Dandim 0101/BS.(hd/sal/mir)

Editor : hasyim