Tafakur
Jerih Payah Sendiri
Siang malam senantiasa memiliki makna penting bagi orang-orang mukmin
Oleh: Jarjani Usman
“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dari makanan yang dihasilkan dari jerih payah tangannya sendiri. Dan sesungguhnya nabi Daud ‘alaihissalam dahulu senantiasa makan dari jerih payahnya sendiri” (HR. Bukhari).
Siang malam senantiasa memiliki makna penting bagi orang-orang mukmin. Termasuk di antaranya menjadikannya sebagai kesempatan mengumpulkan pahala sekaligus ampunan dosa dengan mencari nafkah yang halal dari jerih payah sendiri.
Sebagaimana disebutkan Rasulullah dalam haditsnya, begitu besar pahala mencari nafkah yang halal, meskipun, untuk keluarga sendiri. Katanya, “Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (untuk menafkahi keluarga)” (HR. Muslim). Juga disebutkan oleh Rasulullah bahwa ada dosa yang tidak terampuni kecuali dengan bersusah payah mencari nafkah yang halal.
Tentunya ini suatu tuntunan mulia, yang antara lain mengajak agar setiap insan bersemangat dan tak ragu dalam mencari nafkah yang halal. Dengan kata lain, tuntunan ini ikut menata kehidupan umat. Sebab, mencari nafkah yang halal dengan tangan sendiri, bukan dengan cara meminta-minta atau pemerasan, bisa menciptakan kenyamanan hidup masyarakat. Tak akan terjadi pencurian bila setiap orang mengusahakan diri demikian.
Wakil rakyat atau pengurus umat dalam pemerintahan memiliki kewajiban mengarahkan masyarakat agar hidup dan mencari nafkah yang halal dengan jerih payah sendiri. Namun sayangnya, sebahagian dari mereka malah telah mempertontonkan kepada umat cara-cara mencari nafkah yang haram, seperti korupsi, penyelewengan, ketidak-adilan, dan sejenisnya.