Jumat, 12 Juni 2026

Mengisi Liburan dengan Menyemir Sepatu di Stasiun

Rasa kantuk di mata mungilnya masih membekas. Seperti belum terguyur air. Rambutnya masai, belum tersisir rapi

Tayang:
Editor: hasyim
zoom-inlihat foto Mengisi Liburan dengan Menyemir Sepatu di Stasiun
Kompas.com
Ilustrasi
SERAMBINEWS.COM  - Rasa kantuk di mata mungilnya masih membekas. Seperti belum terguyur air. Rambutnya masai, belum tersisir rapi. Itulah potret dua bocah kecil, Sasa dan Nisa. Wajah polos mereka berkesiap menantang Jakarta, tempat singgah pelancong dan pekerja luar kota.

Dengan kondisi seadanya, tanpa alas kaki, mereka berjalan menyusuri selasar Stasiun Gambir pagi itu. Masing-masing menenteng sebuah plastik berisi sikat dan semir rupa warna. Ada putih, cokelat, dan hitam. Matanya jeli, mengawasi setiap kerumun orang yang memakai sepatu kulit.
"Om, sepatunya disemir?"

Begitu Sasa menawarkan jasanya untuk menyemir ke setiap orang yang duduk di kafe yang tersebar di Stasiun Gambir. "Terserah Om mau bayar berapa saja. Seikhlasnya," pinta Sasa memelas dengan harapan orang yang diajak bicara melepas sepatunya untuk ia semir.

Di tengah anak-anak seusianya menghabiskan liburan ke luar kota, atau tempat bermain bersama orangtuanya, Sasa harus meninggalkan kotanya di Depok, Jawa Barat. Anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas empat ini meninggalkan rumah untuk mengais rezeki.

Dari Depok, pilihanya sampai ke pusat Jakarta ia tempuh menggunakan KRL. Entah bagaimana cara Sasa bisa sampai ke tempat tujuan. Baginya yang terpenting, ia bisa datang ke Jakarta, menjual jasa semir sepatu ke semua orang yang ditemuinya.

"Sehari-hari, kalau lagi sekolah saya enggak ke sini. Uang hasil semir saya tabung untuk jajan dan sekolah. Saya sekarang kelas empat SD," terang Sasa, sambil lesehan terus menyemir untuk menyegerakan pekerjaannya. Ia tak peduli tempat yang ia duduki berdebu atau kotor.

Sasa dan Nisa potret dua sahabat yang beda daerah. Tapi tujuan mereka Jakarta sama, mengais rezeki dengan menyemir. Rumah Nisa bukan di Depok. Ia tinggal di Karawang, Jawa Barat. Kalau naik kereta ekonomi dari Stasiun Karawang, ke Jakarta butuh dua jam. Itupun jika keretanya tak disalip kereta eksekutif yang datang belakangan.

Meski berbeda tempat tinggal, keduanya kompak. Setiap sudut stasiun yang banyak dijejali penumpang, tak pernah mereka lewati. Tak banyak rezeki yang mereka dapatkan dari menyemir. Sasa dan Nisa menjawab kompak, rata-rata mereka mendapat uang Rp 20 ribu. Demi sekolah mereka rela menyemir.

Liburan mereka bukan tanpa risiko. Setiap sudut stasiun dijaga bagian keamanan. Anak-anak seperti Sasa dan Nisa satu dari sekian orang yang perlu diawasi. Mereka seperti ditolak diam-diam menawarkan jasa menyemir. Tak sekali dua kali mereka harus kabur jika kepergok bagian keamanan.

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved