Sabtu, 28 Maret 2015
Home » Opini

Satu Ramadhan dan Idul Fitri Mungkinkah?

Rabu, 18 Juli 2012 08:57

PENETAPAN 1 Ramadhan tahun ini (1433 H/2012 M) kemungkinan besar terjadi perbedaan pendapat. Berdasarkan perhitungan astronomi, posisi hilal (anak bulan atau bulan sabit) Ramadhan di seluruh Indonesia pada Kamis, 19 Juli 2012 atau 29 Syakban 1433 H, setelah matahari terbenam, berada di atas ufuk dengan ketinggian 1038’40" (1 derajat, 38 menit, 40 detik). Dengan kata lain, malam itu sudah masuk bulan baru, di manaumat Islam yang memilih menggunakan metode hisab dipastikan akan menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada Jumat (20/7/2012).

Sementara yang menggunakan pendekatan rukyat dan imkanurrukyat (visibilitas hilal), kemungkinan besar akan menggenapkan Syakban 30 hari. Menurut kelompok visibilitas hilal (diwakili Pemerintah), hilal dengan ketinggian di bawah 2 derajat tidak mungkin dapat terlihat dengan teropong sekalipun. Kriteria 2 derajat digunakan juga untuk mengukur kebenaran kesaksian. Dapat dipastikan tidak akan ada saksi hilal yang akan diterima kesaksiannya. Karena itu, 1 Ramadhan akan ditetapkan jatuh pada Sabtu (21/7/2012).

Berbeda dengan Ramadhan, tahun ini Hari Raya Idul Fitri bakal  jatuh pada hari yang sama, yaitu tanggal 19 Agustus 2012. Begitulah kata para ahli hisab/astronomi setelah menghitung perjalanan bulan, matahari dan bumi tahun ini. Hitungan yang dianggap paling akurat saat ini mengestimasi ketinggian hilal Syawal di Indonesia pada Jumat (17/8/2012) adalah 40 37’51'’ di bawah ufuk/horizon langit. Dengan kata lain, dalam versi hisab, dipastikan Ramadhan digenapkan 30 hari sehingga 1 Syawal jatuh pada Minggu (19/8/2012).

Sedangkan versi rukyat dan imkanurrukyat akan melakukan rukyat pada 29 Ramadhan, atau Sabtu, 18/8. Karena hilal sudah cukup tinggi, diperkirakan akan dapat dilihat. Lebaran akan dilaksanakan esok harinya, Ahad. Masalahnya akan “ramai” sekiranya di seluruh Indonesia berawan atau mendung sehingga hilal tidak dapat dilihat dan akan terjadi penggenapan Ramadhan 30 hari. Akibatnya, akan terjadi dua hari raya lagi, Ahad dan Senin.

 Terjadi perbedaan
Di Indonesia memang seringkali terjadi perbedaan penetapan hari awal bulan Kamariah, terutama Ramadhan, Syawal, dan Zulhijjah. Untuk Idul Fitri 1428 lalu (2007), misalnya, jatuh pada hari yang bervariasi, mulai Kamis, Jumat, Sabtu, hingga Minggu di berbagai belahan bumi. Tahun-tahun sebelumnya juga terjadi beberapa kali perbedaan, masing-masing mewakili Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, Pemerintah, dan beberapa kelompok kecil lainnya. Antara tahun 1985-1998, kasus perbedaan tersebut terjadi 5 kali. Setelah tahun 2011, tahun 2020 nanti juga dianggap tahun rawan perbedaan hari raya.

Di Indonesia dikenal banyak metode penentuan awal bulan Kamariah. Selain rukyat dan hisab, juga ada yang menggunakan fenomena pasang surut dan pasang naik air laut seperti kelompok An Nadzir di Desa Bonto Sunggu, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Kelompok yang mengaku tarikat Naqsyabandiyah di Sumatera Barat bahkan menggunakan wirid tertentu untuk “memaksa” hilal muncul. Yang lebih “halus” adalah kelompok yang memedomani mimpi sang guru atau pemimpinnya. Tentu saja metode-metode ini membawa perbedaan pendapat semakin luas.

Memprihatinkan! Itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan bagaimana anehnya peradaban Islam yang sudah berusia 1.500 tahun tapi belum memiliki kalender internasional yang dapat menyatukan penanggalan semua umatnya. Bagaimana mungkin ada satu hari ada dua tanggal? Ini memberikan kesan seakan peradaban Islam tidak mengenal konsep waktu. Salah satu ayat Alquran yang sering dibaca menyatakan bahwa mengabaikan arti penting waktu akan membawa kerugian (QS 103: 1-3), tapi pada kenyataannya umat Islam mengalami kekacauan pengorganisasi waktu.

Halaman123
Editor: bakri
KOMENTAR

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas