A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Satu Ramadhan dan Idul Fitri Mungkinkah? - Serambi Indonesia
Senin, 24 November 2014
Serambi Indonesia
Home » Opini

Satu Ramadhan dan Idul Fitri Mungkinkah?

Rabu, 18 Juli 2012 08:57 WIB

Oleh Ali Abubakar

PENETAPAN 1 Ramadhan tahun ini (1433 H/2012 M) kemungkinan besar terjadi perbedaan pendapat. Berdasarkan perhitungan astronomi, posisi hilal (anak bulan atau bulan sabit) Ramadhan di seluruh Indonesia pada Kamis, 19 Juli 2012 atau 29 Syakban 1433 H, setelah matahari terbenam, berada di atas ufuk dengan ketinggian 1038’40" (1 derajat, 38 menit, 40 detik). Dengan kata lain, malam itu sudah masuk bulan baru, di manaumat Islam yang memilih menggunakan metode hisab dipastikan akan menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada Jumat (20/7/2012).

Sementara yang menggunakan pendekatan rukyat dan imkanurrukyat (visibilitas hilal), kemungkinan besar akan menggenapkan Syakban 30 hari. Menurut kelompok visibilitas hilal (diwakili Pemerintah), hilal dengan ketinggian di bawah 2 derajat tidak mungkin dapat terlihat dengan teropong sekalipun. Kriteria 2 derajat digunakan juga untuk mengukur kebenaran kesaksian. Dapat dipastikan tidak akan ada saksi hilal yang akan diterima kesaksiannya. Karena itu, 1 Ramadhan akan ditetapkan jatuh pada Sabtu (21/7/2012).

Berbeda dengan Ramadhan, tahun ini Hari Raya Idul Fitri bakal  jatuh pada hari yang sama, yaitu tanggal 19 Agustus 2012. Begitulah kata para ahli hisab/astronomi setelah menghitung perjalanan bulan, matahari dan bumi tahun ini. Hitungan yang dianggap paling akurat saat ini mengestimasi ketinggian hilal Syawal di Indonesia pada Jumat (17/8/2012) adalah 40 37’51'’ di bawah ufuk/horizon langit. Dengan kata lain, dalam versi hisab, dipastikan Ramadhan digenapkan 30 hari sehingga 1 Syawal jatuh pada Minggu (19/8/2012).

Sedangkan versi rukyat dan imkanurrukyat akan melakukan rukyat pada 29 Ramadhan, atau Sabtu, 18/8. Karena hilal sudah cukup tinggi, diperkirakan akan dapat dilihat. Lebaran akan dilaksanakan esok harinya, Ahad. Masalahnya akan “ramai” sekiranya di seluruh Indonesia berawan atau mendung sehingga hilal tidak dapat dilihat dan akan terjadi penggenapan Ramadhan 30 hari. Akibatnya, akan terjadi dua hari raya lagi, Ahad dan Senin.

 Terjadi perbedaan
Di Indonesia memang seringkali terjadi perbedaan penetapan hari awal bulan Kamariah, terutama Ramadhan, Syawal, dan Zulhijjah. Untuk Idul Fitri 1428 lalu (2007), misalnya, jatuh pada hari yang bervariasi, mulai Kamis, Jumat, Sabtu, hingga Minggu di berbagai belahan bumi. Tahun-tahun sebelumnya juga terjadi beberapa kali perbedaan, masing-masing mewakili Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, Pemerintah, dan beberapa kelompok kecil lainnya. Antara tahun 1985-1998, kasus perbedaan tersebut terjadi 5 kali. Setelah tahun 2011, tahun 2020 nanti juga dianggap tahun rawan perbedaan hari raya.

Di Indonesia dikenal banyak metode penentuan awal bulan Kamariah. Selain rukyat dan hisab, juga ada yang menggunakan fenomena pasang surut dan pasang naik air laut seperti kelompok An Nadzir di Desa Bonto Sunggu, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Kelompok yang mengaku tarikat Naqsyabandiyah di Sumatera Barat bahkan menggunakan wirid tertentu untuk “memaksa” hilal muncul. Yang lebih “halus” adalah kelompok yang memedomani mimpi sang guru atau pemimpinnya. Tentu saja metode-metode ini membawa perbedaan pendapat semakin luas.

Memprihatinkan! Itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan bagaimana anehnya peradaban Islam yang sudah berusia 1.500 tahun tapi belum memiliki kalender internasional yang dapat menyatukan penanggalan semua umatnya. Bagaimana mungkin ada satu hari ada dua tanggal? Ini memberikan kesan seakan peradaban Islam tidak mengenal konsep waktu. Salah satu ayat Alquran yang sering dibaca menyatakan bahwa mengabaikan arti penting waktu akan membawa kerugian (QS 103: 1-3), tapi pada kenyataannya umat Islam mengalami kekacauan pengorganisasi waktu.

Ini mengakibatkan masyarakat kehilangan kemampuan untuk membuat planning ke depan, mengelola bisnis, dan kekacauan momen-momen keagamaan dan momen Islam internasional. Janji pertemuan internasional pada bulan Ramadhan dan Syawal misalnya, akan mengalami kekacauan penjadwalan karena masing-masing memiliki tanggal berbeda. Karena itu, kehadiran kalender yang akurat dan komprehensif merupakan tuntutan peradaban (civilizational imperative).

Dalam soal kalender, Islam kalah dengan peradaban pra-Islam yaitu, Maya, Mesir Kuno, Mesopotamia, Cina, India, Prancis, dan Yunani. Bahkan, Islam kalah dengan peradaban Jawa yang sudah lama mengenal kalender terpadu. Islam memang sudah mengenal kalender Hijriyah tetapi masih berdasarkan hisab ‘urfi (perhitungan sederhana). Namun itu pun belum dapat ditaati karena ada kelompok yang memegang pemahaman bahwa khusus Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah harus melakukan rukyat atau pengamatan langsung di lapangan. Jadi masalahnya masih berputar seputar pemahaman terhadap dalil.

Padahal masalahnya yang dihadapi sekarang tidak lagi pada tataran dalil mana yang lebih kuat jika dipahami secara harfiah. Masalah utama sudah beranjak pada bagaimana menyatukan penanggalan Islam secara internasional dan tidak akan ada kekacauan pengorganisasian waktu. Masalah ini menjadi lebih penting karena dalam temuan-temuan astronomis, ternyata wilayah-wilayah bumi 60 derajat lintang utara dan selatan sampai ke kutub, ada bulan-bulan yang sulit sekali melihat fisik bulan berukuran besar apalagi bulan sabit.

Bahkan, antara setiap 22 Juni sampai 22 September di wilayah-wilayah dekat kutub utara (misalnya di Norwegia Utara) matahari tidak pernah terbenam, sehingga hilal juga tidak akan ada. Pada saat yang sama di kutub selatan, matahari tidak pernah terbit, yang ada hanya bulan. Keadaan ini tentu tidak hanya menimbulkan masalah pada metode penetapan awal bulan, tetapi juga pada jadwal shalat dan puasa. Untuk menyelesaikannya, tentu kita harus melihatnya dari sisi yang berbeda dengan pandangan kita selama ini. Sudah harus ada transformasi dari pemahaman harfiah ke menangkap semangat umum Alquran dan hadis Nabi.

 Kalender terpadu
Alquran sesungguhnya sudah memberi petunjuk pokok-pokok bagaimana sebuah kalender terpadu dapat diciptakan. Allah memberikan bimbingan agar mempelajari gerak benda-benda langit, khususnya bulan dan matahari sebagai dasar pengorganisasian waktu. Allah menegaskan bahwa matahari dan bulan dapat dihitung geraknya (QS 55: 5) dan perhitungan gerak kedua benda langit itu berguna untuk menentukan bilangan tahun dan perhitungan waktu (QS 10: 5). Itulah antara lain yang melahirkan astronom Muslim seperti al-Khawarizmi (780-850M, di Barat dikenal dengan Algoarisme atau Algorisme).

Kabar gembira sesungguhnya sudah mulai berhembus karena beberapa  astronom Islam sudah berusaha mewujudkan kalender Islam internasional, baik individu maupun kelompok. Misalnya kalender Ummul Qura yang digunakan pemerintah Kerajaan Saudi Arabia; kalender Ilyas yang dibuat oleh Mohammed Ilyas, seorang Muslim asal Malaysia (1990-an); kalender Qasm Audah (2006), kalender Hijriyah Universal (2001) yang dibuat oleh organisasi astronomi dan sains luar angkasa Yordania. Namun demikian, kalender-kalender ini masih memiliki kekurangan karena belum dapat menyatukan seluruh dunia Islam dalam satu hari hanya satu tanggal. Termasuk belum ditemukan waktu mulainya hari, dan garis batas hari. Karena itu harus dilakukan ijtihad yang sungguh-sungguh dan terus menerus.  

Tidak ada pendapat yang dianggap sudah final dan tidak mungkin berubah. Atas nama tafsir terhadap dalil, semuanya bernilai relatif. Modal utama mewujudkan penyatuan kalender dimaksud adalah mengacu kembali ke semangat Alquran dan hadis, tidak gampang menyalahkan pendapat orang lain, dan selalu bersedia menerima setiap pendapat baru. Lebih dari itu, bagaimana orientasi membangun perabadan Islam yang maju lebih dikedepankan daripada mengikuti arus emosi keagamaan kelompok tertentu saja. Wallahu a‘lam.

* Ali Abubakar, Dosen Ilmu Falak Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Email: aliabubakar@ar-raniry.ac.id
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas