Selasa, 19 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Akhirnya Pergub JKA Dicabut: Eungkot Tho Kareng Leubot, Peunyaket Sot Meugisa-gisa

Ikan boleh berganti nama dan rupa, bahkan berganti tempat hidupnya, tetapi penyakit lama tetap saja kambuh kembali. 

Tayang:
Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Yusuf Bombang alias Apa Kaoy, Seniman dan Budayawan Aceh 

Oleh: Muhammad Yusuf Bombang/Apa Kaoy*)

Akhirnya, Gubernur Aceh Muzakir Manaf resmi mencabut Pergub Nomor 2 Tahun 2026 tentang Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) setelah gelombang kegaduhan, kegelisahan, dan kepanikan rakyat terus meluas di berbagai daerah di Aceh. 

Keputusan pencabutan itu disambut lega oleh masyarakat, terutama mereka yang selama ini merasa terancam kehilangan akses berobat akibat pembatasan pelayanan berdasarkan desil ekonomi. 

Bagi rakyat kecil, persoalan kesehatan bukan sekadar urusan administrasi negara. Ia menyangkut nyawa, rasa aman, dan harapan hidup. 

Karena itu, ketika kebijakan lahir tanpa kepekaan terhadap kondisi sosial masyarakat, maka yang muncul bukan ketenangan, melainkan kecemasan.

Baca juga: Phuket Destinasi Wisata yang Memanjakan Lidah dan Mata

Di tengah kondisi ekonomi rakyat yang semakin berat, kebijakan semacam ini terasa seperti menambah beban di atas luka. 

Harga kebutuhan pokok terus naik. Biaya hidup semakin sulit dijangkau. Pajak dan berbagai pungutan hadir di hampir seluruh sendi kehidupan rakyat. 

Belum lagi masyarakat Aceh baru saja menghadapi musibah banjir bandang yang menyisakan trauma, kehilangan, dan kesusahan panjang.

Dalam situasi seperti itu, rakyat seharusnya dipeluk oleh negara, bukan malah dibuat panik oleh aturan yang dianggap membatasi hak dasar mereka untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

Kita tentu menghargai keputusan pencabutan Pergub tersebut sebagai bentuk mendengar suara rakyat. 
Namun persoalannya tidak boleh berhenti hanya pada pencabutan. 

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana peristiwa ini menjadi pelajaran besar bagi seluruh pemimpin daerah maupun pemimpin negara ke depan.

Baca juga: Jam Kerja Perempuan pada Malam Hari Harus Rasional

Menanggapi hal tersebut saya teringat pada kearifan lokal Aceh, orang tua dahulu pernah meninggalkan sebuah hadih maja ini: “Eungkot tho kareng leubot, peunyaket sot meugisa-gisa.”

Ikan boleh berganti nama dan rupa, bahkan berganti tempat hidupnya, tetapi penyakit lama tetap saja kambuh kembali. 

Namun biarlah pembaca memaknai sendiri kedalaman petuah tersebut. 

Tetapi makna dari petuah ini terasa sangat relevan dengan keadaan yang sering berulang dalam kehidupan pemerintahan kita hari ini. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved