Kamis, 11 Juni 2026

RAMADHAN MUBARAK

Hakikat Takwa dalam Berpuasa

MAKNA la’allakum tattaqun dalam Surah Albaqarah ayat 183 di atas, secara bahasa mengandung harapan Allah kepada orang-orang berpuasa

Tayang:
Editor: hasyim
zoom-inlihat foto Hakikat Takwa dalam Berpuasa
Hasanuddin Yusuf Adan Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh

Oleh Hasanuddin Yusuf Adan
Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Albaqarah: 183)

MAKNA la’allakum tattaqun dalam Surah Albaqarah ayat 183 di atas, secara bahasa mengandung harapan Allah kepada orang-orang berpuasa. Yang namanya harapan sudah tentulah bukan sebuah kepastian, jadi ia tidak secara otomatis menjadi muttaqin selepas berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. Allah mengharapkan kita yang berpuasa menjadi orang-orang yang bertakwa dalam kehidupan ini selepas Ramadhan sehingga bertemu Ramadhan berikutnya.

Harapan tersebut tidak mungkin terwujud kalau kita sendiri pasif dan diam dari seribu amalan, sehingga posisi hidup tidak menambah amalan saleh selama Ramadhan.

Dalam ayat lain Allah berfirman (artinya), “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati, melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

Dalam ayat ini Allah memerintahkan kita untuk bertakwa dengan sebenar-benar takwa. Kalau kita kaitkan dengan Albaqarah 183 di atas, maka tidak mungkin bagi seseorang pasca-Ramadhan secara otomatis menjadi muttaqin tanpa disertai oleh kerja takwa yang sebenar-benarnya, terutama dalam sebulan penuh di bulan Ramadhan.

Kaitan dengan itu, Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra. Yang dimaksudkan sebenar-benar takwa dalam ayat 102 Surah Ali Imran tersebut adalah agar kita menaati Allah dan tidak menentang-Nya, Allah kita ingat selalu, dan tidak pernah kita lupakan, semua rahmat Allah harus kita syukuri dan tidak kita kufuri. Demikian yang diterangkan dalam Tafsir Ibnu Kathir dan, menurutnya, sanad ini shahih mauquf sampai kepada Ibnu Mas’ud.

Anas bin Malik berkata, “Tidaklah seorang hamba itu bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, sehingga ia mampu mengendalikan lisannya.” Ini berarti, untuk mencapai gelar muttaqin dalam sebulan Ramadhan itu harus melewati beberapa usaha dan upaya yang dapat mengantarkan seseorang ke sana. Ketika kita padukan tiga pemikiran ulama besar tadi (Ibnu Abi hatim, Ibnu Mas’ud, dan Anas bin Malik) maka untuk menggapai gelar muttaqin dalam bulan Ramadhan seseorang itu haruslah menaati Allah.

Menaati Allah adalah melaksanakan semua perintah-Nya, mulai dari perihal yang paling besar seperti berjihad sampai kepada yang paling kecil seperti masuk WC dengan kaki kiri dan ke luar dengan kaki kanan. Meninggalkan larangan Allah mulai dari yang paling enak seperti berzina sampai kepada yang paling sakit seperti membunuh, merampok, dan sebagainya.

Di samping itu, kita harus mampu mengendalikan perkataan yang ke luar dari mulut kita. Tak perlu bicara kalau memang ucapan itu tidak diperlukan oleh siapa-siapa (apalagi kalau dapat membahayakan siapa-siapa), karena Rasulullah saw telah bersabda, “Mankana yukminuna billahi wal yaumil akhir fal yaqul khairan aw liyasmut.” (Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka bertuturlah yang baik-baik atau diam saja).    

Itulah hakikat takwa yang perlu kita aplikasikan dalam menunaikan ibadah Ramadhan kali ini agar kita mencapai gelar muttaqin. Dan itu pula hakikat takwa yang harus kita pupuk, kita jaga dengan baik sehingga selalu bersemi dalam jiwa raga dan semua kita menjadi orang-orang yang bertakwa, baik selama berada di bulan Ramadhan, maupun di luar Ramadhan nantinya. Wallahu a’lam. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved