Rabu, 22 April 2026

Aceh Institute Bahas Tragedi Rohingya

The Aceh Institute bersama International Centre for Aceh and Indian Ocean (ICAIOS), dan Jaringan Masyarakat Sipil untuk Perdamaian

Editor: bakri
zoom-inlihat foto Aceh Institute Bahas Tragedi Rohingya
NARASUMBER Diskusi Tragedi Rohingya, Nasir Nurdin dari Harian Serambi Indonesia (kiri) dan Kamaruzzaman Bustamam Ahmad PhD dari Universitas Malaya, Malaysia (tengah) dipandu Muhammad Syuib Hamid (kanan) pada diskusi yang berlangsung di ‘Lingka Kupi’ Aceh Institute, Darussalam, Banda Aceh, Rabu (8/8) sore
BANDA ACEH - The Aceh Institute bersama International Centre for Aceh and Indian Ocean (ICAIOS), dan Jaringan Masyarakat Sipil untuk Perdamaian (JMSP), Rabu (8/8) menggelar diskusi tragedi Rohingya di Lingka Kupi Aceh Institute, Darussalam. Acara yang dirangkai buka puasa bersama itu menampilkan dua narasumber yaitu Kamaruzzaman Bustamam Ahmad PhD dari Universitas Malaya, Malaysia dan Nasir Nurdin, Waredpel Harian Serambi Indonesia. Sedangkan Muhammad Syuib Hamid sebagai moderator diskusi.

Menurut Kamaruzzaman, kasus pembantaian etnis Rohingya bukanlah persoalan agama antara Islam dan Budha, namun konflik itu telah muncul sejak lama, khususnya ketika rezim Thein Sein mencabut kewarganegaraan orang-orang Rohingya.

“Perlu kehati-hatian merespons kasus ini agar tidak meluas menjadi konflik yang lebih besar. Saat ini telah terbentuk aliansi secara global terkait dengan upaya menyelesaikan kasus Rohignya,” kata Kamaruzzaman.

Nasir Nurdin yang mewakili media massa mengatakan, meski pun media kesulitan membuka akses ke pusaran konflik namun media massa tetap memantau dan mendalami tragedi Rohingya.

“Serambi Indonesia juga mengalami kesulitan itu. Tapi kita tetap akan menyuarakan kasus Rohingya ini, karena bagi Aceh, etnis Rohingya adalah etnis yang sangat familiar,” kata Nasir.

Akademisi Unsyiah Saifuddin Banta Syam dalam diskusi ini menyatakan ada beberapa solusi untuk menyelesaikan persoalan Rohingya, yaitu dengan tidak membawa isu agama tetapi harus dikampanyekan dalam wacana state lessness people, dimana etnis Rohingya adalah etnis yang harus mendapatkan hak kewarganegaraannya.

“Jangan sampai keterlibatan kita bisa membawa persoalan Rohingya ini menjadi konflik yang lebih besar, karena Myanmar saat ini punya satu permasalahan besar yaitu konsolidasi demokrasi yang terus dilakukan,” kata Ekonom Unsyiah, Dr Nazamuddin menambahkan. (rel/sar)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved