Jumat, 19 Desember 2014
Serambi Indonesia

Kemarau

Minggu, 2 September 2012 08:29 WIB

Karya Putra Hidayatullah

“Teungku…” Dek Gam berlari tergopoh-gopoh memanggil Teungku Dahlan yang sedang berjalan di pematang. Teungku  tak menoleh. Pandangannya tersita pada padi yang kian mengering. Sawah-sawah membelah seperti ingin menelan apa saja. Lama hujan tak turun. Air dalam empang pun menghilang. Yang ada hanya taik cacing,  yang mungkin juga ikut kepanasan dalam tanah.

 “Teungku!”  Teungku Dahlan menoleh ke belakang. Wajah Dek Gam penuh bulir keringat. Kerah bajunya ikut kuyup. Nafasnya terengah-engah. Dek Gam menyungging senyum getir. “Teungku dipanggil pak geusyik, sebentar lagi ada rapat di meunasah.”

“Rapat? Rapat apa? Ada yang tertangkap mesum lagi?” mata Teungku Dahlan terbelalak. Sudah beberapa kali rapat diadakan  karena ada pasangan yang tertangkap. Kalau tidak itu, tentu ada perkara lain semisal pencurian. “Bukan Teungku, karena kekeringan. Begitu kata pak geusyik. Katanya ada rencana mengadakan shalat Iqtisa.”

“Istisqa.” Teungku Dahlan membetuli pengucapan Dek Gam.  “Itu maksud saya, Teungku.” Dek Gam tersipu. Matahari kian meninggi. Keduanya berangkat meninggalkan sawah. Setiap kaki melangkah, tanah di sisi pematang melebur seperti longsor. Rumput yang dulu subur di pinggirnya kini menguning kering.

***

“Hehe…Tak bisa kita mulai kalau tak ada Teungku.” Ramli berbasa-basi pada Teungku Dahlan yang duduk di sampingnya. “Ini Teungku, masalah shalat Iqtisa,” Ramli memberitahu sambil tersenyum penuh percaya diri. Teungku Dahlan berdehem membersihkan serak di kerongkongan.

“Istisqa, bukan Iqtisa,” kata Teungku. Ramli diam tak menyahut. Sebenarnya jarang ada yang berani membetulkan atau mengeritik ketua pemuda yang terkenal temperamental itu.

Sama seperti Dek Gam, Ramli tak tahu sama sekali bahwa gagasan untuk melakukan shalat meminta hujan itu memang datangnya dari Teungku Dahlan sendiri. Seminggu lalu, usai shalat Magrib beliau mengusulkan kepada pak geusyik. Hanya saja, ia tak tahu bahwa sebelumnya harus ada musyawarah dahulu.

“Begini Teungku, ini mengingat banyak warga kita, termasuk saya, yang masih  awam dengan tata cara pelaksanaan shalat ini. Jadi,  mungkin Teungku lebih paham.” Pak geusyik mengangguk kecil sambil melempar senyum pada Teungku Dahlan.

Beberapa warga desa yang duduk dalam meunasah bergeming. Teungku berdiri mengucap salam dan memberi sedikit ceramah mengenai tata cara pelaksanaan  shalat minta hujan itu.

Hari selajutnya, sekitar pukul sembilan warga sudah berkumpul di meunasah. Beberapa di antaranya harus menggelar sajadah di teras meunasah. Wajah-wajah itu tampak penuh harap.

“Neubri ya Allah beuditoh ujeun kali nyoe!” kata seorang nenek sambil menyandarkan kepala di dinding meunasah. Kemudian semua pria dan wanita yang hadir berbaris membentuk tiga saf. Teungku Dahlan melangkah ke depan dan berdiri di posisi imam.

“Allahu Akbar.”  Shalat itu berlangsung khidmat. Semua doa-doa dipanjatkan dengan penuh harap.

***

Sudah seminggu berlalu. Hujan lebat membasahi tanah yang retak. Padi di sawah mulai menghijau dan menyejukkan mata. Beberapa pesepedamotor  tampak memakai mantel pelindung hujan. Anak-anak bertelanjang dada berlari menikmati hujan yang lama tak mereka rasakan. Wajah-wajah warga desa kembali berbinar. Mereka bersuka ria atas doa-doa yang terkabul. Hari hampir menjelang siang di sebuah rumah kayu yang tak jauh dari meunasah. Dek Gam pun membuka mata. Keringat membasahi badannya. Ia melongok keluar jendela kamar. Tampak tanah kering yang seakan berasap. Ternyata hujan hanya dalam mimpi Dek Gam. Didapatinya kampung masih membara.

Dek Gam mulai bertanya-tanya dalam hati, mengapa Allah tak mengabulkan doa mereka. Selepas makan siang ia memutuskan menemui Teungku Dahlan. Sesampai di sana, Teungku tak ada di rumah, tak juga di meunasah. “Pasti di rangkang,” ia membatin. Pemuda itu melangkah mantap menuju sawah. Rangkang kayu yang reot itu terletak di tengah sawah, tepat di bawah sebuah pohon panjoe. Dari kejauhan Dek Gam dapat melihat kaki Teungku berjuntai ke bawah.

Dek Gam menyalami Teungku dan menjelaskan maksud kedatangannya. “Itulah Dek Gam. Kampung kita sudah banyak sekali maksiat,” Teungku Dahlan mendesah. Ada nada pilu dalam kata-katanya. “Orang-orang tak patuh lagi pada perintah Allah. Muda-mudi berzina. Kasus buang bayi hampir di setiap desa. Tua muda berjudi. Orang jujur sudah langka. Tipu-menipu di mana-mana. Shalat lima waktu jadi pilihan, bukan lagi kewajiban.” Dek Gam duduk berlipat kaki di depan Teungku. Ia terperangah sambil sesekali mangut. “Jangankan hujan, seandainya penduduk suatu negeri patuh, Allah turunkan nikmat dan anugerah dari langit. Sekarang coba lihat, seberapa patuhnya kita? Seberapa banyak orang yang bermaksiat dan orang yang berdoa?”

Dek Gam terenyuh oleh nasihat Teungku. Ia membayangkan kembali apa yang telah dilakukannya selama ini. Ia menyesali shalat Subuh yang sering bolong dan cenderung menomorduakan titah sang Khalik. Mendengar penjelasan Teungku Dahlan,  membuat Dek Gam menyadari, segala petaka mulanya karena ulah manusia.

Menjelang Ashar mereka melangkah pulang. Hamparan sawah masih terlihat kerontang. Ketika melewati meunasah, ada orang ramai di sana. Wajah mereka tampak rusuh dan murka. Lengan baju para lelaki tersingsing. Anak-anak ikut berkerumun.

 “Ada apa ini?” tanya Teungku pada salah seorang di antara mereka.

“Ramli, Teungku. Dia kedapatan mesum di rumah Fatimah, saudara pak geusyik.”

“Oh Tuhan…”

Teungku Dahlan dan Dek Gam sontak. Seakan-akan ada batu baterai ABC yang masuk dalam kerongkongan keduanya. Rapat lain pun digelar. Sementara kemarau kian meraja.

Penulis adalah alumnus  Muharram Journalism College
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas