Selasa, 5 Mei 2026

Kemarau

Pandangannya tersita pada padi yang kian mengering. Sawah-sawah membelah seperti ingin menelan apa saja

Tayang:
Editor: bakri

Karya Putra Hidayatullah

“Teungku…” Dek Gam berlari tergopoh-gopoh memanggil Teungku Dahlan yang sedang berjalan di pematang. Teungku  tak menoleh. Pandangannya tersita pada padi yang kian mengering. Sawah-sawah membelah seperti ingin menelan apa saja. Lama hujan tak turun. Air dalam empang pun menghilang. Yang ada hanya taik cacing,  yang mungkin juga ikut kepanasan dalam tanah.

 “Teungku!”  Teungku Dahlan menoleh ke belakang. Wajah Dek Gam penuh bulir keringat. Kerah bajunya ikut kuyup. Nafasnya terengah-engah. Dek Gam menyungging senyum getir. “Teungku dipanggil pak geusyik, sebentar lagi ada rapat di meunasah.”

“Rapat? Rapat apa? Ada yang tertangkap mesum lagi?” mata Teungku Dahlan terbelalak. Sudah beberapa kali rapat diadakan  karena ada pasangan yang tertangkap. Kalau tidak itu, tentu ada perkara lain semisal pencurian. “Bukan Teungku, karena kekeringan. Begitu kata pak geusyik. Katanya ada rencana mengadakan shalat Iqtisa.”

“Istisqa.” Teungku Dahlan membetuli pengucapan Dek Gam.  “Itu maksud saya, Teungku.” Dek Gam tersipu. Matahari kian meninggi. Keduanya berangkat meninggalkan sawah. Setiap kaki melangkah, tanah di sisi pematang melebur seperti longsor. Rumput yang dulu subur di pinggirnya kini menguning kering.

***

“Hehe…Tak bisa kita mulai kalau tak ada Teungku.” Ramli berbasa-basi pada Teungku Dahlan yang duduk di sampingnya. “Ini Teungku, masalah shalat Iqtisa,” Ramli memberitahu sambil tersenyum penuh percaya diri. Teungku Dahlan berdehem membersihkan serak di kerongkongan.

“Istisqa, bukan Iqtisa,” kata Teungku. Ramli diam tak menyahut. Sebenarnya jarang ada yang berani membetulkan atau mengeritik ketua pemuda yang terkenal temperamental itu.

Sama seperti Dek Gam, Ramli tak tahu sama sekali bahwa gagasan untuk melakukan shalat meminta hujan itu memang datangnya dari Teungku Dahlan sendiri. Seminggu lalu, usai shalat Magrib beliau mengusulkan kepada pak geusyik. Hanya saja, ia tak tahu bahwa sebelumnya harus ada musyawarah dahulu.

“Begini Teungku, ini mengingat banyak warga kita, termasuk saya, yang masih  awam dengan tata cara pelaksanaan shalat ini. Jadi,  mungkin Teungku lebih paham.” Pak geusyik mengangguk kecil sambil melempar senyum pada Teungku Dahlan.

Beberapa warga desa yang duduk dalam meunasah bergeming. Teungku berdiri mengucap salam dan memberi sedikit ceramah mengenai tata cara pelaksanaan  shalat minta hujan itu.

Hari selajutnya, sekitar pukul sembilan warga sudah berkumpul di meunasah. Beberapa di antaranya harus menggelar sajadah di teras meunasah. Wajah-wajah itu tampak penuh harap.

“Neubri ya Allah beuditoh ujeun kali nyoe!” kata seorang nenek sambil menyandarkan kepala di dinding meunasah. Kemudian semua pria dan wanita yang hadir berbaris membentuk tiga saf. Teungku Dahlan melangkah ke depan dan berdiri di posisi imam.

“Allahu Akbar.”  Shalat itu berlangsung khidmat. Semua doa-doa dipanjatkan dengan penuh harap.

***

Sudah seminggu berlalu. Hujan lebat membasahi tanah yang retak. Padi di sawah mulai menghijau dan menyejukkan mata. Beberapa pesepedamotor  tampak memakai mantel pelindung hujan. Anak-anak bertelanjang dada berlari menikmati hujan yang lama tak mereka rasakan. Wajah-wajah warga desa kembali berbinar. Mereka bersuka ria atas doa-doa yang terkabul. Hari hampir menjelang siang di sebuah rumah kayu yang tak jauh dari meunasah. Dek Gam pun membuka mata. Keringat membasahi badannya. Ia melongok keluar jendela kamar. Tampak tanah kering yang seakan berasap. Ternyata hujan hanya dalam mimpi Dek Gam. Didapatinya kampung masih membara.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved