Selasa, 28 Juli 2015

Kemarau

Minggu, 2 September 2012 08:29

“Teungku…” Dek Gam berlari tergopoh-gopoh memanggil Teungku Dahlan yang sedang berjalan di pematang. Teungku  tak menoleh. Pandangannya tersita pada padi yang kian mengering. Sawah-sawah membelah seperti ingin menelan apa saja. Lama hujan tak turun. Air dalam empang pun menghilang. Yang ada hanya taik cacing,  yang mungkin juga ikut kepanasan dalam tanah.

 “Teungku!”  Teungku Dahlan menoleh ke belakang. Wajah Dek Gam penuh bulir keringat. Kerah bajunya ikut kuyup. Nafasnya terengah-engah. Dek Gam menyungging senyum getir. “Teungku dipanggil pak geusyik, sebentar lagi ada rapat di meunasah.”

“Rapat? Rapat apa? Ada yang tertangkap mesum lagi?” mata Teungku Dahlan terbelalak. Sudah beberapa kali rapat diadakan  karena ada pasangan yang tertangkap. Kalau tidak itu, tentu ada perkara lain semisal pencurian. “Bukan Teungku, karena kekeringan. Begitu kata pak geusyik. Katanya ada rencana mengadakan shalat Iqtisa.”

“Istisqa.” Teungku Dahlan membetuli pengucapan Dek Gam.  “Itu maksud saya, Teungku.” Dek Gam tersipu. Matahari kian meninggi. Keduanya berangkat meninggalkan sawah. Setiap kaki melangkah, tanah di sisi pematang melebur seperti longsor. Rumput yang dulu subur di pinggirnya kini menguning kering.

***

“Hehe…Tak bisa kita mulai kalau tak ada Teungku.” Ramli berbasa-basi pada Teungku Dahlan yang duduk di sampingnya. “Ini Teungku, masalah shalat Iqtisa,” Ramli memberitahu sambil tersenyum penuh percaya diri. Teungku Dahlan berdehem membersihkan serak di kerongkongan.

“Istisqa, bukan Iqtisa,” kata Teungku. Ramli diam tak menyahut. Sebenarnya jarang ada yang berani membetulkan atau mengeritik ketua pemuda yang terkenal temperamental itu.

Halaman1234
Editor: bakri
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas