Kemarau
Pandangannya tersita pada padi yang kian mengering. Sawah-sawah membelah seperti ingin menelan apa saja
Dek Gam mulai bertanya-tanya dalam hati, mengapa Allah tak mengabulkan doa mereka. Selepas makan siang ia memutuskan menemui Teungku Dahlan. Sesampai di sana, Teungku tak ada di rumah, tak juga di meunasah. “Pasti di rangkang,” ia membatin. Pemuda itu melangkah mantap menuju sawah. Rangkang kayu yang reot itu terletak di tengah sawah, tepat di bawah sebuah pohon panjoe. Dari kejauhan Dek Gam dapat melihat kaki Teungku berjuntai ke bawah.
Dek Gam menyalami Teungku dan menjelaskan maksud kedatangannya. “Itulah Dek Gam. Kampung kita sudah banyak sekali maksiat,” Teungku Dahlan mendesah. Ada nada pilu dalam kata-katanya. “Orang-orang tak patuh lagi pada perintah Allah. Muda-mudi berzina. Kasus buang bayi hampir di setiap desa. Tua muda berjudi. Orang jujur sudah langka. Tipu-menipu di mana-mana. Shalat lima waktu jadi pilihan, bukan lagi kewajiban.” Dek Gam duduk berlipat kaki di depan Teungku. Ia terperangah sambil sesekali mangut. “Jangankan hujan, seandainya penduduk suatu negeri patuh, Allah turunkan nikmat dan anugerah dari langit. Sekarang coba lihat, seberapa patuhnya kita? Seberapa banyak orang yang bermaksiat dan orang yang berdoa?”
Dek Gam terenyuh oleh nasihat Teungku. Ia membayangkan kembali apa yang telah dilakukannya selama ini. Ia menyesali shalat Subuh yang sering bolong dan cenderung menomorduakan titah sang Khalik. Mendengar penjelasan Teungku Dahlan, membuat Dek Gam menyadari, segala petaka mulanya karena ulah manusia.
Menjelang Ashar mereka melangkah pulang. Hamparan sawah masih terlihat kerontang. Ketika melewati meunasah, ada orang ramai di sana. Wajah mereka tampak rusuh dan murka. Lengan baju para lelaki tersingsing. Anak-anak ikut berkerumun.
“Ada apa ini?” tanya Teungku pada salah seorang di antara mereka.
“Ramli, Teungku. Dia kedapatan mesum di rumah Fatimah, saudara pak geusyik.”
“Oh Tuhan…”
Teungku Dahlan dan Dek Gam sontak. Seakan-akan ada batu baterai ABC yang masuk dalam kerongkongan keduanya. Rapat lain pun digelar. Sementara kemarau kian meraja.
Penulis adalah alumnus Muharram Journalism College