Polisi Bantu Amankan Aset dan Gedung CMH

Ini kami lakukan untuk memberikan rasa aman terhadap aset CMH sebagai lembaga sosial kemasyarakatan dan untuk menciptakan keamanan

MEULABOH - Kapolres Aceh Barat, AKBP Artanto SIK mengatakan, setelah operasional LSM Center Mulia Hati (CMH) Meulaboh dihentikan sementara sejak Kamis (11/10), pihaknya mulai membantu pengamanan aset dan gedung lembaga tersebut, demi menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

“Ini kami lakukan untuk memberikan rasa aman terhadap aset CMH sebagai lembaga sosial kemasyarakatan dan untuk menciptakan keamanan dan ketertiban di lingkungan masyarakat,” ujarnya menjawab Serambi di Meulaboh, Jumat (12/10).

Ditanya tentang nasib pekerja lokal CMH pascatutupnya operasional kantor itu, Kapolres menyatakan, sejauh ini tidak ada pengamanan khusus kepada mereka. Polisi cuma mengimbau supaya mereka lebih waspada demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

“Intinya, polisi siap memberikan pengamanan dan menciptakan suasana aman dan kondusif. Tapi kami serahkan sepenuhnya penyelesaian masalah ini kepada Pemkab Aceh Barat yang sudah melakukan pembahasan dan pengkajian terhadap keberadaan LSM Center Mulia Hati,” pungkas Kapolres Artanto SIK.

Terhadap adanya pekerja asing asal Inggris yang merupakan Pimpinan CMH Meulaboh, Kapolres Artanto menegaskan, pengamanan yang dilakukan terhadapnya, tetap sesuai dengn prosedur yang ada. “Warga asing itu sudah lama menetap di provinsi lain Indonesia juga di Aceh, sehingga semua data dan mekanisme pengamanannya sudah jelas aturannya,” jawab Kapolres.

 Minta maaf
Sementara itu, sejak Jumat (12/10) kemarin di halaman Kantor CMH yang berlokasi di Jalan Sentosa, Desa Drien Rampak, Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh, papan nama yang sebelumnya dicopot pada Kamis (11/10), telah diganti dengan selembar spanduk. Isinya menjelaskan bahwa lembaga itu sudah menghentikan seluruh kegiatannya, sambil menunggu penyelesaian masalah yang kini terjadi.

Pemasangan spanduk itu juga jelas terlihat oleh warga yang berlalu lalang. Apalagi pada Selasa (9/10) lalu sejumlah ormas Islam dan LSM di Aceh Barat telah mengultimatum CMH agar dalam tempo 3x24 jam menghentikan segala aktivitasnya di Aceh Barat, karena adanya dugaan LSM ini terlibat pendangkalan akidah sebagaimana temuan dan hasil kajian Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Barat.

Di sisi lain, CMH juga mohon maaf kepada masyarakat yang di mata mereka kemungkinan CMH salah melangkah atau telah membuat masyarakat tersinggung.

Begitupun, pihak CMH masih menunggu undangan dari Bupati Aceh Barat untuk menyampaikan keterangan terkait tuduhan pendangkalan akidah yang dituduhkan kepada lembaga ini.

“Center Mulia Hati ingin agar masyarakat dapat mendengar suara kami  dalam kasus ini,” kata Humas CMH, Arafit dalam siaran persnya yang dikirimkan kepada Serambi, Jumat (12/10) sore.

Menurut Arafit, alasan CMH diam sampai saat ini, karena pihaknya mengikuti instruksi dari Pemkab Aceh Barat sekaligus menunggu undangan dari pemkab, sehingga mereka berkesempatan menyampaikan sejumlah penjelasan yang mengklarifikasi tudingan yang dialamatkan kepada mereka.

 Dihentikan sementara  
Sementara itu, Bupati Aceh Barat, HT Alaindinsyah alias Haji Tito yang ditanyai Serambi kemarin mengaku Pemkab setempat telah menghentikan sementara kegiatan CMH Meulaboh, sambil menunggu hasil kajian terhadap sejumlah MoU yang selama ini sudah disepakati antara kedua belah pihak, terkait program yang akan dijalankan CMH di wilayah itu.

“Kami minta sementara hentikan dulu aktivitasnya, apalagi LSM CMH terindikasi melakukan pendangkalan akidah. Hal ini juga sudah dikuatkan dengan hasil kajian MPU Aceh Barat,” kata Bupati HT Alaidinsyah.

Lebih lanjut ia katakan, Pemkab Aceh Barat segera mengambil sikap tegas terhadap masalah itu setelah hasil kajian secara hukum dan administrasi tuntas dilaksanakan. (edi)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help