Sabtu, 20 Desember 2014
Serambi Indonesia

Cut Anggi Ditangkap di Terminal Sigli

Rabu, 24 Oktober 2012 09:51 WIB

BANDA ACEH - Personel Polres Pidie bersama petugas Cabang Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kota Bakti, Pidie, berhasil menangkap Cut Anggi Marisa di Terminal Sigli, Selasa (23/10) sekitar pukul 00.00 WIB. Di dalam tas napi kasus narkoba yang sudah hampir dua bulan diburu karena kabur dari Cabang Rutan Lhoknga, Aceh Besar itu, polisi juga menemukan satu alat penghisap sabu-sabu (bong).

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Aceh Dr Yatiman Edy SH MHum mengatakan, awalnya pada Senin (15/10) sekitar pukul 21.00 WIB, Cut Anggi naik bus di Terminal Batoh Banda Aceh karena ingin berangkat ke Sigli. Petugas loket bus yang mencurigai wajah Anggi sebagai napi buronan kasus sabu-sabu,  langsung melaporkan hal itu ke petugas Cabang Rutan Lhoknga.  

“Kemudian petugas memberitahukan hal itu ke pimpinannya. Kemudian Kacab Rutan memberi tahu saya. Selanjutnya saya perintahkan Kacab Rutan Lhoknga berkoordinasi dengan Polres Pidie, petugas Cabang Rutan Kota Bakti, Pidie, dan Rutan Sigli. Akhirnya, sekitar pukul 00.00 WIB, polisi bersama petugas Cabang Rutan Kota Bakti berhasil menangkap Cut Anggi di Terminal Sigli bersama seorang wanita temannya,” kata Yatiman kepada Serambi kemarin.

Menurut Yatiman, kedua wanita ini dibawa ke Polres Pidie. Dari hasil pemeriksaan tas Anggi, polisi menemukan sebuah bong sabu-sabu. “Bong  itu disita polisi sebagai barang bukti. Kemudian, kedua wanita ini dibawa ke Cabang Rutan Kota Bakti karena Anggi napi kabur dari Cabang Rutan Lhoknga,” sebut Yatiman.

Selanjutnya, petugas Cabang Rutan Lhoknga menjemput kedua wanita ini dan tiba di cabang rutan tersebut sekitar pukul 05.00 WIB kemarin subuh. Kemarin, teman Anggi sudah dikembalikan ke orang tuanya, namun harus menandatangani surat pernyataan bersedia dipanggil kapan saja oleh polisi untuk dimintai keterangan terkait ditemukan satu bong sabu-sabu dalam tas Cut Anggi.

Sesampai di Lhoknga, Aceh Besar, Cut Anggi ditempatkan sendirian di ruang isolasi kamar 6 blok wanita pada Cabang Rutan Lhoknga. “Penempatan di ruang isolasi tersebut sebagai sanksi terhadapnya. Di ruang ini ia tidak boleh memasukkan tilam. Ia juga tidak akan mendapatkan lagi hak-haknya sebagai napi, seperti hak dikunjungi atau mengunjungi keluarga, hak mendapat remisi, hak pembebasan bersyarat, dan lain-lain,” sebut Yatiman.   

Yatiman menyebutkan, dengan tertangkapnya Cut Anggi berarti tinggal lima lagi napi Cabang Rutan Lhoknga yang masih kabur setelah mendapat izin mengunjungi keluarga semasa penjara itu dipimpin Eko Yulianto SH awal September lalu. Kelima orang yang sudah ditetapkan DPO itu adalah Mardiana (34), Bahagia (37), HM Nafis (50), Andi Saputra (43), dan Nur Bahagia (41).

Mereka sisa dari 59 napi Cabang Rutan Lhoknga yang berkeliaran di luar karena mendapat izin cuti mengunjungi keluarga (CMK) secara serentak sesuai hasil temuan sidak Tim Dirjen Pemasyarakatan Kemenkumham RI ke cabang rutan itu, Kamis (6/9). Sedangkan napi lainnya sudah kembali. Karena kasus ini juga Kepala Cabang Rutan Lhoknga yang lama Eko Yulianto dicopot dan kini diperbantukan di Kementerian Hukum dan HAM RI, Jakarta.

Yatiman juga menginformasikan bahwa pada Minggu (21/10), masih ada petugas Cabang Rutan Lhoknga yang memberi izin ke luar sehingga kabur lagi seorang napi, yakni Junaidi (24).

Ia merupakan napi kasus narkoba dengan hukuman 8,5 tahun, tapi belum terlalu lama menjalani hukuman. Sedangkan ketiga petugas yang memberi izin itu sedang diperiksa di Kanwil Kemenkumham Aceh. Sekitar dua hari lalu, pemberian izin ke luar oleh petugas jaga sehingga seorang napi kabur, juga terjadi di LP Lhokseumawe. Petugas itu juga sedang diperiksa. (sal)  
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas