Kamis, 28 Mei 2026

Opini

Karakter Bangsa Kita Saat Ini

INDONESIA, jika berbicara tentang negeri ini pasti tidak akan pernah habisnya, dimulai dari yang positif sampai mengarah ke yang negatif

Tayang:
Editor: hasyim

Oleh Astina Ria

INDONESIA, jika berbicara tentang negeri ini pasti tidak akan pernah habisnya, dimulai dari yang positif sampai mengarah ke yang negatif. Bagaimana karakter bangsa kita saat ini? Itulah yang menjadi permasalah utama dalam membangun bangsa ini. Dan tidak akan pernah habis untuk diperbincangkan. Karakter adalah sesuatu yang harusnya diketahui tapi sebagian besar kita tidak mau tahu. Sesuatu yang teramat penting, tetapi sebagian kita menganggap remeh. Sesuatu yang amat diperlukan, tapi justru sebagian kita malah menertawainya.

Karakter memang penting, karena karakter adalah fondasi dalam membangun bangsa yang berkualitas. Dengan karakter para pejabat negara tidak akan memakan uang rakyat demi kepentingan pribadi. Dengan karakter seorang guru dapat mewariskan ilmunya dengan baik dan benar tanpa mengharapkan balasan. Seseorang dikatakan berkarakter bila tingkah lakunya sesuai dengan nilai-nilai moral dan agama. Bangsa Indonesia dikenal dengan bangsa yang memiliki prinsip ideologi kebangsaan yang eksklusif, berkebudayaan tinggi, memiliki tata krama, sopan santun, toleransi, gotong royong, semangat juang, dan nasionalisme yang tinggi. Hal inilah yang menjadi jati diri bangsa Indonesia yang berakar dari pengkajian kebudayaan Nenek Moyang kita.

 Pintar dan cerdas
Bangsa Indonesia telah banyak melahirkan orang-orang pintar dan cerdas. Karena kepintaran dan kecerdasannya mereka bisa menjadi seorang pejabat, pengusaha, dan pegawai yang kaya. Tetapi apabila kecerdasan yang dimiliki tidak disertai dengan karakter yang baik. Apa yang akan terjadi? Orang yang tidak berkarakter akan bertindak sesuai dengan yang diinginkan tanpa memikirkan rakyat sekitarnya. Orang yang berkarakter akan bertingkah seolah-olah dialah yang paling benar, yang paling hebat.

Angelina Sondakh, misalnya, merupakan anggota DPR RI yang berwatak cerdas dan pintar. Apakah ia memiliki karakter yang berkharisma? Tentu saja tidak. Kasus dugaan suap Wisma Atlet SEA Games tersebut telah membuktikan bahwa ia menjatuhkan dirinya sendiri ke jurang kehancuran. Belum lagi dengan pejabat-pejabat negara lainnya. Gayus Tambunan, kasus Simulator SIM yang hingga saat ini belum juga tuntas. Siapa yang tidak kenal mereka?

Merekalah tikus-tikus negara yang kelebihan cerdas dan cerdik. Ada kalanya mereka patut dibanggakan, karena merekalah Indonesia terkenal hingga ke dunia luar. Indonesia bagaikan sebuah permainan. Inilah potret nyata merosotnya karakter bangsa yang mulai tergantikan oleh paradigma-paradigma anarkis dan keserakahan lymbic individualisme (pusat insting hewani manusia). Dan sesungguhnya penyakit ini telah menjangkit ke semua lapisan masyarakat dari segala usia.

Lain halnya dengan provinsi kita, Aceh. Abdullah Puteh yang terbukti atas kasusnya terhadap pembelian helikopter Mi-2 Rostov buatan Rusia dan menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 13,875 miliar dan lain sebagainya. Belum lagi kasus yang sedang marak-maraknya di perbincangkan oleh berbagai kalangan, beasiswa mahasiswa Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) sebanyak Rp 2 miliar yang entah kemana raibnya. Dan beberapa kasus lainnya yang belum terungkap seperti di daerah Lokop, Aceh Timur.

Beberapa bulan yang lalu, Indonesia telah dihebohkan dengan tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi buatan Rusia. Dan yang paling menyedihkan pesawat Sukhoi itu dibeli bukan dalam bentuk original tetapi bekas atau sebut saja ‘sampah’ negara Rusia. Inilah karakter bangsa kita. Ingin terlihat hebat di mata dunia, tetapi malah kebodohan yang tampak. Sering kita melihat iklan-iklan di berbagai media “cintai produk Indonesia”, tapi apakah kita mencintai produk buatan dalam negeri?

BJ Habibie telah membuktikan kata-kata tersebut. Hasil karya anak bangsa jarang sekali dihargai. Beliau telah berhasil menciptakan sebuah produk yang tak kalah menariknya dari ciptaan produk luar negeri. Gatotkaca adalah sebuah nama pesawat hasil karya bapak BJ Habibie. Kurangnya perhatian dari pemerintah telah menyebabkan produksi pesawat ini mengalami hambatan. Dan beberapa produk-produk lain ciptaan anak bangsa.

Negara kita dipimpin oleh seorang pemimpin. Tetapi apakah pemimpin itu berkarakter? Kutipan dari kata-kata Erie Sudewo “Pemimpin tanpa karakter sama artinya pimpinan tanpa moral. Pimpinan tidak bermoral bahaya bagi dirinya, bagi yang dipimpin, bagi bangsa, bagi negara, dan bagi agama.” Siapa pun memang bisa menjadi pemimpin. Namun, hanya yang terus melatih diri yang memiliki jiwa kepemimpinan. Di setiap lembaga-lembaga pemerintah, lembaga masyarakat atau daerah, serta di lembaga sekolah/universitas masing-masing memiliki seorang pemimpin. Pemimpin ada yang diraih karena kerja kerasnya dan ada pula karena diberi.

Faktanya, pemimpin di Aceh khususnya, bukanlah pemimpin yang sesungguhnya atau bukan pemimpin biasa. Bagaimana tidak, setelah suami bergeser dari jabatan, istri atau anak yang menggantikan. Jika ayahnya seorang kepala di satu lembaga pemerintahan, maka anak, saudara, cucu pun juga bisa masuk ke lembaga tersebut dengan bebasnya. Berbagai jenis caranya, ada hanya dengan berjabat tangan dengan pejabat lain. Atau dengan bersalaman disertai sebuah amplop. Lucunya negeri ini. Bukanlah rahasia negara. Bahkan mereka yang kurang mampu pun bisa melakukan hal tersebut layaknya orang kaya. Menjual tanah, lembu, kambing untuk menyogok anaknya masuk ke sebuah lembaga favorit.

 Menghargai sesama
Jika karakter hilang, maka bencana besar akan melanda bangsa kita. Bagaimana tidak, hilangnya karakter dapat menyebabkan kemerosotan moral. Kehidupan di luar batasan norma-norma agama. Tapi perlu kita ingat bahwa karakter seseorang itu akan tampak dari tindakan yang dilakukannya. Ketika yang dilakukannya baik, maka baiklah karakternya, begitu juga sebaliknya. Karakter bangsa Indonesia akan dinilai baik jika perilaku warganya baik. Untuk itu mulailah dari diri sendiri, dengan bersyukur, sabar, tanggung jawab. Ikhlas, menghargai sesama, menjaga ketertiban lingkungan, mematuhi perintah agama dan hukum.

Karakter tidak tumbuh dalam jangka waktu yang sesingkat-singkatya, tetapi karakter tumbuh dari sejak kita lahir hingga nafas berhenti. Inilah karakter bangsa yang selama ini kita cari. Sebab dengan melakukan tindakan nyata yang meskipun kecil akan mampu memberikan dampak yang signifikan dalam perubahan wajah bangsa di masa yang akan datang. Lebih jujurlah kepada hati nurani, ketika kita sedikit saja menyimpang dan melakukan hal-hal yang tidak baik, maka ketika itulah karakter bangsa yang kita miliki telah kita khianati.

Oleh karena itu, kita sebagai generasi muda, ayo bertindak! Mari kita bersama-sama berkaca diri tentang apa yang telah dan akan kita lakukan untuk mewujudkan cita-cita, berdasarkan karakter yang dilandasi nilai-nilai moral sebagaimana terkandung dalam falsafah negara kita Pancasila. Semoga!

Astina Ria, Mahasiswi Jurusan Kimia FKIP Unsyiah, Banda Aceh/Finalis Lomba Menulis Fiksi Tingkat Nasional Tahun 2011. Email: thurfah_tyna@yahoo.co.id

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved