Gubernur: Update Terus Aktivitas Seulawah Agam
Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah meminta Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Aceh bersama Pos Pengamat Gunung Berapi
BANDA ACEH - Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah meminta Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Aceh bersama Pos Pengamat Gunung Berapi di Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar, terus mengamati perubahan aktivitas gempa yang terjadi dalam dapur magma Gunung Seulawah Agam. Kemudian, aktif meng-update perkembangannya untuk diinformasikan kepada masyarakat sekitar.
“Perubahan harian aktivitas magma (ledakan lahar panas) yang terdapat dalam dapur magma Gunung Seulawah Agam perlu disampaikan kepada publik untuk peningkatan pengetahuannya tentang kebencanaan gunung berapi,” kata Gubernur Zaini kepada pers seusai peresmian Jembatan Kuala Bubon, Meulaboh, Aceh Barat, Senin (7/1).
Menurut Zaini, masyarakat yang tinggal di sekitar kaki Gunung Seulawah Agam banyak yang belum paham mengenai tingkatan perubahan status sebuah gunung berapi. “Pengetahuan mereka mengenai dampak ledakan gunung api sangat terbatas. Karena itu, bagaimana cara menyelamatkan diri ketika gunung meledak, ini perlu ditingkatkan dengan cara memberikan pengetahuan tentang penanggulangan akibat ledakan gunung berapi,” ujarnya.
Tingkatan perubahan status gunung berapi, dari normal menjadi waspada, dari waspada menjadi siaga, dan dari siaga menjadi awas, menurut Gubernur Zaini, harus dijelaskan secara rinci kepada masyarakat yang bermukim di sekitar gunung api. “Ini menjadi tugas utama para pakar geologi di Aceh bersama Distamben Aceh dan Pusat Pengamat Gunung Berapi di Kecamatan Lembah Seulawah untuk menyiarkannya secara rutin kepada publik,” katanya.
Wakil Ketua II DPRA, Drs Sulaiman Abda sependapat dengan apa yang dikatakan Gubernur Aceh itu. Dewan, menurutnya, siap mendukung dan menyetujui anggaran sosialisasi kebencanaan itu dalam RAPBA 2013.
Sosialisasi kebencanaan itu, kata Sulaiman Abda, penting sekali dilakukan, agar masyarakat tidak ketakutan dengan meningkatnya aktivitas magma atau lahar panas di dalam dapur Seulawah Agam.
Menurut laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMB) Bandung yang melakukan pengamatan sejak 27 Desember 2012-4 Januari 2013, sudah 63 kali terjadi gempa di dalam dapur lahar Gunung Seulawah Agam. Kenaikan aktivitas ledakan lahar panas dalam dapur magma Gunung Seulawah Agam itu telah membuat statusnya naik satu tingkat dari normal menjadi waspada.
“Bencana alam itu tidak bisa kita tolak. Cepat atau lambat, ia akan datang. Sekarang menjadi tugas kita bersama bagaimana caranya agar pada saat terjadi bencana, masyarakat di areal rawan dampak bencana bisa menyelamatkan diri, sehingga jumlah korban jiwa dapat diminimalisasi,” ujar Sulaiman Abda. (her)
Pedomani Pergerakan Ular ke Kaki Seulawah
BANDA ACEH - Tanda-tanda (sasmita) alam bisa dijadikan pedoman untuk mendeteksi dinamika kegempaan (aktivitas magmatis) di perut Gunung Seulawah Agam, Aceh Besar yang sejak 4 Januari lalu ditingkatkan statusnya dari normal/aman ke level waspada oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMB) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
“Salah satu tanda-tanda alam yang bisa dijadikan pedoman tentang adanya gempa magma di perut gunung berapi adalah pergerakan ular dari puncak atau lereng ke kaki bukit,” kata Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Perwakilan Aceh, Ir Faizal Adriansyah MSi yang ditanyai dalam Talkshow Cakrawala membahas Salam Harian Serambi Indonesia di Radio Serambi FM, Senin (7/1) pagi.
Menurutnya, jika tiba-tiba banyak ular yang turun dari puncak atau lereng ke kaki gunung, itu bisa dijadikan petunjuk bahwa gunung berapi tersebut sedang meningkat aktivitas atau dinamika kegempaannya. “Jika petani, peternak, atau pengembala di lembah atau di sekitar kaki gunung berapi melihat fenomena seperti itu, maka laporkan segera ke petugas di pos pemantau,” kata Faizal.
Bagi petugas di pos pemantau, informasi seperti itu sangatlah berharga, karena salah satu petunjuk visual yang bisa diamati terkait dengan dinamika vulkanis adalah pergerakan satwa atau kondisi tumbuhan (meranggas atau layu) di puncak atau di lereng gunung api tersebut.
Sebetulnya, kata Faizal, bukan cuma pergerakan ular yang bisa dijadikan pedoman alami tentang meningkatnya aktivitas magmatis di perut gunung berapi. Bisa juga pergerakan rusa, kambing gunung, marmut, bahkan beruang yang tiba-tiba migrasi bergerombol (ruana) dari daerah pegunungan ke lembah atau ke perkampungan penduduk.
“Pokoknya, kalau hewan-hewan yang biasanya hidup di daerah pegunungan tiba-tiba turun serempak ke perkampungan warga, itu indikasi bahwa perut bumi sudah tidak nyaman lagi. Mereka turun gunung karena hawa panas dari perut bumi atau karena gelisah oleh getaran, atau suara gemuruh gunung api,” ujarnya.
Menurut Faizal, ada tiga cara mengamati dinamika vulkanis di kawasan gunung berapi. Pertama, pengamatan visual, mencakup pemantauan kondisi kawah (diukur temperaturnya) dan apakah sudah muncul suara gemuruh, kepulan asap, atau bau belerang, termasuk melihat pergerakan hewan. “Untuk mengetahui pergerakan hewan-hewan ini petugas pos pemantau bisa bekerja sama dengan masyarakat yang berada di sekitar gunung api,” kata Faizal.
Kedua, pengamatan seismisitas (kegempaan). Ini pemantauan yang dilakukan dengan peralatan. Di semua gunung berapi, biasanya dibangun pos pengamat. Peralatan di pos pengamat itulah yang diandalkan untuk mengamati dinamika gunung berapi.