Karet, Komoditas Unggulan yang Terlupakan
TANAMAN-karet merupakan komoditas andalan perkebunan selain kelapa sawit
Kilauan investasi perkebunan kelapa sawit di Subulussalam selaras dengan potensi sumber daya alam yang ada di daerah tersebut. Selain lahan yang luas dengan potensi sumber daya alam seperti curah hujan, sinar matahari dan topografi sangat mendukung tumbuhnya tanaman perkebunan seperti kelapa sawit. Sunguh pun demikian, bagi petani mandiri atau petani tradisional tanaman karet, sebenarnya jauh lebih menguntungkan. Pasalnya, tanaman tersebut mempunyai kemandirian yaitu bisa disadap, diproses secara tradisional.
“Bahkan karet yang telah diproses bisa disimpan untuk kemudian dijual kapan diinginkan,” kata Sarbika SP seorang petugas perkebunan kepada Serambi Minggu (13/12) kemarin.
Sarbika menjelaskan bahwa sebenarnya tidak semua hamparan tanah di Kota Subulussalam layak untuk tanaman kelapa sawit. Areal yang kemiringan tanahnya 45 derajat menurut Sarbika lebih baik ditanami komoditas lain seperti karet. Sayangnya, lanjut Sarbika, di Kota Subulussalam para petani tidak lagi tertarik mengembangkan tanaman karet karena tergiur dengan hasil kelapa sawit. Tak hanya itu, para pejabat dan orang-orang berduit di Subulussalam bahkan dari sejumlah daerah juga terus berpacu membuka perkebunan kelapa sawit. Masyarakat merasa bahwa sawit lebih menjanjikan hasil yang lebih cepat dibandingkan karet. Hal inilah yang menjadi faktor kareta seakan-akan menjadi komoditas yang terlupakan di negeri paling bungsu di Aceh tersebut.
Padahal, kata Sarbika, di era tahun 1990-an, tanaman Karet sebenarnya merupakan komoditi tradisional yang dilakoni rakyat Aceh Singkil khususnya Subulussalam. Kala itu, kata dia, pihaknya menjalankan program Unit Pengembangan Perkebunan (UPP) dan hasilnya cukup memuaskan. Namun karena pengaruh harga yang berfluktuasi sangat tajam, usaha perkaretan mulai ditinggalkan oleh petani perkebunan. Dikatakan, sejarah perkebunan karet di daerah berbukit-bukit ini pun mulai merosot akhir dekade 2000-an dengan maraknya perkebunan kelapa sawit.
Sebenarnya, menurut Sarbika prospek usaha karet ini dinilai jauh lebih menjanjikan dibanding kelapa sawit dan lebih stabil sehingga petani dapat lebih sejahtera karena mempunyai kemandirian. Sebab, lanjut Sarbika, karet bisa disadap, diproses secara tradisional, dan disimpan untuk kemudian dijual kapan diinginkan. Sementara kelapa sawit dalam sehari saja setelah dipanen sudah membusuk. Selain itu, kata Sarbika, untuk pengembangan kelapa sawit juga tidak terlepas dari pemupukan yang terus menerus ditambah perawatan lainnya.”
Wajib dipupuk, kalau tidak akan berpengaruh pada kualitas dan produksi buahnya,” kata Sarbika.
Ini belum lah cukup, TBS yang telah dipanen akan mudah menyusut dan membusuk apabila tidak segera dijual ke pihak pabrik. Karena itu, kata Sarbika, bagi masyarakat pekebun karet, sebenarnya jauh lebih menguntungkan, karena mempunyai kemandirian. Selain itu, biaya perawatan yang harus dikeluarkan oleh petani perkebunan kelapa sawit dua kali lipat lebih tinggi dibanding dengan komoditas karet. Sehingga, di segi memberdayakan masyarakat dengan kebun karet dinilai lebih menguntungkan. Keuntungan lain, tambah Sarbika, pengembangan komoditas karet tidak begitu berpengaruh terhadap kelestarian alam di mana belakangan ini isu pemanasan global yang menjadi perhatian serius dunia. Karenanya, Sarbika menilai dengan pengembangan karet, pemerintah dan masyarakat juga turut melakukan penghijauan.
Karena itu, Sarbika menyarankan kepada pemerintah baik propinsi maupun pemko Subulussalam untuk menggalakkan kembali perkebunan karet dengan memotivasi masyarakat menggeluti usaha tersebut. Apalagi teknologi pembudidayaan dan penyadapan serta pengolahan karet sudah banyak dikuasai masyarakat, ditambah lahan di Subulussalam cukup ideal untuk tanaman tersebut sehingga sudah sewajarnya pembangunan perkebunan di arahkan ke sektor tersebut.
“Karena bagaiamanapun prospek kelapa sawit namun di lapangan petani tetap saja mengeluh oleh harga TBS yang saban tahun berbanding terbalik dengan biaya perawatan seperti pupuk,” tandas Sarbika.
Terobosan-terobosan terhadap sektor perkebunan karet ini, kata Sarbika misalnya mengenai peremajaan karet, karena saat ini pohon-pohon karet milik rakyat atau petani karet sudah banyak yang tua-tua sehingga tidak produktif lagi, bahkan tak sedikit pula yang mati. Sementara penanaman baru sangat minim. Karena diiakuinya, usia tanaman karet mampu berproduksi hingga umur 25 hingga 30 tahun, namun harus didukung dengan pemeliharaan dan pengelolaan tanaman yang baik. Sehingga dengan adanya upaya peremajaan, di masa yang akan datang, sektor karet tetap menjadi primadona bagi masyarakat kota “Sada Kata” itu.
Intinya, pemerintah diharapkan dapat menggiatkan kembali petani karet dengan memberikan bantuan permodalan. Alasannya, jika usaha karet dibangun kembali, kesejahteraan dan keterlibatan masyarakat semakin dapat ditingkatkan. Pemerintah harus berusaha membangun perkebunan sebagai penyangga utama perekonomian masyarakat di sana seperti yang pernah dijalankan pada era 1990-an dalam program Unit Pengembangan Perkebunan (UPP). Selain itu, Sarbika mengingatkan bahwa tofografi wilayah Subulussalam kebanyakan perbukitan dan tak sedikit yang kemiringannya 45 sampai 100 derajat. (khalidin)