Kamis, 11 Juni 2026

Krisis Solar Berlanjut di Lhokseumawe dan Aceh Utara

Krisis solar di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Lhokseumawe dan wilayah Aceh Utara, hingga Sabtu

Tayang:
Editor: bakri
* Pertamina: Habis untuk Truk Perkebunan  

LHOKSEUMAWE – Krisis solar di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Lhokseumawe dan wilayah Aceh Utara, hingga Sabtu (20/4) kemarin, dilaporkan masih terus berlanjut. Kondisi ini menyebabkan warga, terutama para nelayan semakin mengeluh. Bahkan, mobil yang hendak mengisi BBM di SPBU, urung masuk setelah membaca tulisan “Maaf Stok Solar Habis”.

Amatan Serambi, di SPBU Blang Panyang, Kecamatan Muara Satu Lhokseumawe, SPBU Desa Ulee Pulo Kecamatan Dewantara, dan SPBU Lhoksukon, Aceh Utara, kemarin, terlihat papan bertuliskan “Solar Habis” yang ditempatkan di depan SPBU. “Dari semalam Solar sudah habis, kami tidak tahu kapan masuk lagi,” kata seorang petugas SPBU Blang panyang.

Sementara itu, Pengelola SPBU Lhoksukon, Aceh Utara, Jamaluddin menyebutkan stok solar habis sejak Jumat (19/4) malam lalu. “Kami sudah minta ke Pertamina, dan dinyatakan Senin (22/4) baru disuplai lagi. Akibatnya, banyak nelayan yang mengeluh karena tak ada stok solar di SPBU,” ujarnya.

Pengelola SPBU Pertamina Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, Edi Zulfikar menyebutkan stok solar sangat terbatas. Sebelumnya, SPBU itu menerima suplai solar sebanyak 108 ton per enam hari. “Kini hanya 54 ton per enam hari. Sehingga, kami batasi penjualan untuk nelayan dan truk. Jika nelayan butuh dua jeriken, kami berikan satu jeriken,” sebut Edi.

Secara terpisah Sales Excecutive TBBM PT Pertamina Lhokseumawe Raka Pradipta menyebutkan, suplai solar ke SPBU di Dewantara dan Blang Panyang selama ini normal sama seperti SPBU yang lain. “Kemungkinan krisis tersebut terjadi karena mereka yang tak berhak mendapatkan subsidi masih mengisi jatah subsidi.

Sementara itu, pihak Pertamina melalui Asst Customer Relation - FRM Region I, Sumatera Utara, Sonny Mirath, saat dihubungi Serambi menjelaskan, krisis solar yang terjadi di Aceh terkait dengan implementasi Peraturan Menteri (Permen) ESDM soal pembatasan solar subsidi. “Dalam Permen tersebut disebutkan terhitung sejak 1 Maret 2013 truk angkutan barang pertambangan, perkebunan, dan kehutanan dilarang mengisi solar subsidi,” katanya.

Menurut Sonny, truk-truk tersebut diminta bersedia membeli solar nonsubsidi di SPBU-SPBU yang telah disediakan, karena Pertamina hanya akan menyalurkan solar subsidi sesuai dengan kuota yang ditetapkan oleh Pemerintah. “Sementara solar subsidi akan diprioritaskan untuk mobil angkutan umum, kendaraan pribadi, dan usaha mikro,” katanya.

Dia menambahkan, kelangkaan solar di Aceh salah satunya disebabkan karena belum adanya pemaksaan dari pemerintah setempat terkait penggunaan BBM nonsubsidi bagi truk pertambangan, perkebunan, dan kehutanan. “Mereka lebih memilih antre untuk mendapatkan solar subsidi. Stok solar nonsubsidi kita banyak, tetapi tidak laku,” timpal Sonny Mirath. (c37/c46/yos)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved