Breaking News
Rabu, 10 Juni 2026

Bahasa dan Agama

Ada banyak indikasi betapa bahasa dan agama memiliki kesalinghubungan yang unik dan menarik. Bahasa bukan saja menjadi alat ekspresi dan

Tayang:
Editor: bakri
Oleh Baun Thoib Soaloon Siregar, Staf Teknis Balai Bahasa Banda Aceh

Ada banyak  indikasi betapa bahasa dan agama memiliki kesalinghubungan yang unik dan menarik. Bahasa bukan saja menjadi alat ekspresi dan diseminasi doktrin keagamaan, melainkan juga menjadi salah satu simbol identitas keagamaan/paham teologis. Hal ini tampak dalam kasus Urdu yang menjelma menjadi identitas Islam di Pakistan dan beberapa negara sekawasan serta Melayu yang menjadi simbol identitas Islam di Asia Tenggara. Demikian pula halnya dengan Urdu dan Arab yang memisahkan pengikut Ahli Sunnah dengan Deobandi di Mauritania. Dalam lingkup yang lebih luas, pada tataran global, bahasa Arab telah lama dikenal sebagai salah satu identitas Islam. Sebaliknya, agama selain mewadahi ekspresi kebahasaan, ia juga turut memengaruhi dinamika kebahasaan baik dari segi bentuk (fonologi, leksikon, dan sintaksis), konten, maupun fungsi bahasa sehingga kita mengenal istilah bahasa laras keagamaan.    Dalam bahasa Indonesia, bunyi vokal rangkap /sy/ dan /kh/ merupakan bentuk nyata sumbangan fonetis Islam dengan atribut bahasa Arabnya. Selain itu, ada ratusan kosakata dan istilah Islam yang diserap ke dalam bahasa Indonesia. Hal yang sama berlaku pada bahasa-bahasa daerah termasuk Aceh. Dalam konteks ini pulalah kita mengenal bentuk dan gaya khas bahasa khutbah serta ceramah keagamaan. Fenomena ini tentu ditemukan pula pada agama lain dalam hubungannya dengan bahasa-bahasa tertentu.

Di sisi lain,  kesamaan bahasa telah menjadi unsur perekat antar-pemeluk agama yang bebeda-beda. Di India, meskipun kerapkali berkonflik, bahasa Hindi telah menjadi salah satu jembatan penghubung para pemeluk Islam dan Hindu. Lebih dekat lagi, di daerah Tapanuli, meskipun berbeda keyakinan, umat muslim di Selatan dan umat kristiani di Utara tetap hidup rukun dan damai. Selain faktor etnisitas dan budaya, kesamaan bahasa (Batak) memainkan peran penting dalam melanggengkan ikatan sosial emosional kedua subetnis berbeda keyakinan. Tidak salah apabila muncul pandangan yang menyatakan bahwa bahasa merupakan salah satu intrumen kohesi sosial serta katalisator harmoni dan damai saat isu-isu agama yang dikenal begitu sensitif rentan menimbulkan berbagai konflik dan gejolak sosial. Sebaliknya, keragaman bahasa dan etnis dapat pula dipersatukan oleh kesamaan agama. Baik Islam dan Kristen, maupun agama-agama besar lain memiliki pemeluk yang berasal dari berbagai latar belakang bahasa dan bangsa.

Yang lebih menarik adalah ketika agama menyematkan status tertentu pada sebuah bahasa dengan melabelinya sebagai bahasa resmi, istimewa, bahkan sakral dan transenden. Fenomena ini tampak pada Sankskerta bagi Hindu, Hebrew bagi Judaisme, Latin bagi Kristen, dan Arab bagi Islam. Mengingat-sebagaimana di singgung di atas, isu-isu keagamaan bersifat sensitif, maka wacana religiusitas atau status bahasa dalam perspektif keagamaan biasanya tidak saja melibatkan logika dan rasionalitas, melainkan juga menggugah tensi emosi, spiritualitas, kepentingan, dan berbagai isu lain sehingga melahirkan beragam isu, perspektif, sikap, dan perilaku berbahasa. Dalam konteks inilah kita bisa mencoba memahami mengapa dalam masyarakat muslim tradisional bahasa Inggris dianggap sebagai bahasa kafir (Aceh: basa kafe) dan Arab sebagai bahasa Islam meskipun kemudian orang-orang muslim yang belajar bahasa Ingggris justrus lebih banyak daripada yang belajar bahasa Arab.

Dalam realitas sosial, wacana religiusitas bahasa telah membangun pandangan sosial yang menempatkan variabel sikap/perilaku berbahasa sebagai salah satu indikator keberagamaan. Pada tingkat yang lebih ekstrem, bahasa bahkan dianggap identik dengan agama. Itulah sebabnya mengapa dalam masyarakat kita banyak orang memiliki kecenderungan menggunakan istilah-istilah bergenre Arab atau bergaya arabi dalam berkomunikasi baik formal maupun informal. Singkat kata, satu hal yang mesti diingat: Orang boleh saja multilingual (berbahasa lebih dari satu), tetapi tak seorang pun boleh mengklaim dirinya sebagai orang yang multireligius (beragama lebih dari satu).

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved