Selasa, 19 Mei 2026

Berita Komunitas

Komunitas Meja Kopi 87 Pindah Tempat Nongkrong dari Solong ke Cut Nun

Komunitas Meja Kopi 87 menggelar silaturahmi dan makan malam bersama di Warung Kopi Cut Nun, Pango, Banda Aceh, Sabtu (16/5/2026).

Tayang:
Penulis: Masrizal Bin Zairi | Editor: Saifullah
Serambinews.com/HO
KOMUNITAS MEJA KOPI - Sejumlah tokoh Aceh yang tergabung dalam Komunitas Meja Kopi 87 melakukan silaturahmi yang disertai makan malam bersama dalam rangka syukuran dan peresmian lokasi baru tempat ngopi warga Meja 87 yaitu di Warung Kopi Cut Nun di kawasan Pango, Banda Aceh, Sabtu malam (16/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Komunitas Meja Kopi 87 menggelar silaturahmi dan makan malam bersama di Warung Kopi Cut Nun, Pango, Banda Aceh, Sabtu (16/5/2026).
  • Acara ini sekaligus peresmian lokasi baru setelah sebelumnya rutin berkumpul di Warung Kopi Solong, Simpang 7 Ulee Kareng, yang sedang direnovasi.
  • Komunitas ini dikenal sebagai ruang diskusi santai lintas profesi dan generasi, menjadikan angka “87” sebagai semangat kritis dalam membahas isu sosial, politik, hingga pemerintahan di Aceh.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Masrizal | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Warga Komunitas Meja Kopi 87 yang berlatar belakang dari berbagai unsur, mulai politisi, akademisi, pemerintahan, aktivis, hingga pegiat media sosial serta warga biasa melakukan silaturahmi dan makan malam bersama pada Sabtu malam (16/5/2026).

Kegiatan ini dirangkai dengan acara syukuran dan peresmian lokasi baru tempat ngopi pada para tokoh Aceh ini, yaitu di Warung Kopi Cut Nun yang beralamat di kawasan Pango, Banda Aceh

Sebelumnya, Komunitas Meja 87 rutin berkumpul di Warung Kopi Solong, Simpang 7 Ulee Kareng. 

Keuchik Meja 87, Fadil menerangkan, bahwa kegiatan ini dilakukan karena tempat lama sedang dilakukan renovasi total. 

"Kami butuh ruang yang tetap hangat dan terbuka. Cut Nun Pango adalah pilihan yang tepat," ujar pria yang disapa Bapak ini.

Fadil menjelaskan, bahwa Meja 87 bukan sekedar meja kopi. Di sinilah para tokoh politik, akademisi, pegiat sosial, hingga warga biasa dari lintas generasi dan profesi duduk bersama.

“Tempat ini telah menjelma menjadi ruang diskusi santai yang merajut silaturahmi, tempat mengalir beragam percakapan dari obrolan ringan hingga diskusi serius tentang isu sosial, politik, agama, hingga pemerintahan,” sebutnya.

Baca juga: Razia Penertiban di Warkop, Petugas Temukan ASN hingga Siswa Sedang Asyik Nongkrong

Belakangan, Meja 87 juga kerap menjadi lokasi kumpul tokoh publik, pejabat daerah bahkan nasional, serta tempat penyelenggaraan kegiatan sosial seperti syukuran, makan bersama, hingga hajatan keagamaan.

Yang menarik, angka "87" pada nama meja tersebut sengaja dipilih karena konotasi lokalnya sebagai "angka gila" atau "angka keramat untuk orang gila" (pungo). 

Alih-alih malu, komunitas ini justru mengangkatnya sebagai semangat.

"Kami ingin berani bicara gila dalam arti kritis, di luar kebiasaan, dan tak takut melawan arus saat membahas isu-isu sosial," ujar Cutnen, warga 87.

Pemerhati isu sosial politik, Shaivannur M Yusuf yang ikut hadir dalam acara peresmian, menilai bahwa Komunitas Meja 87 telah menjaga tradisi panjang warung kopi Aceh sebagai ruang publik alternatif.

Baca juga: Satpol PP-WH Aceh ‘Warning Siswa-ASN di Warkop saat Jam Sekolah-Kerja, Gencarkan Penertiban

“Dengan semangat angka keramat, kita berharap Komunitas Meja 87 bisa terus merawat tradisi diskusi Aceh yang kritis, egaliter, dan penuh kehangatan secangkir kopi,” ucapnya.(*) 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved