Jumat, 27 Februari 2015
Home » Opini

Fenomena 'Politik Rente'

Selasa, 30 April 2013 09:24 WIB

SEMUA bidang kehidupan kemasyarakatan, termasuk infrastruktur politik yang berfungsi sebagai sarana kedaulatan rakyat dan hukum, dengan sendirinya juga harus ikut dan tunduk pada strategi ini. Dimana strategi ini membawa harapan pada rakyat untuk meningkatkan taraf hidup ekonominya, termasuk modal asing yang sangat diperlukan juga mulai berdatangan walaupun di awalnya tidak pernah terseleksi jenis investasinya, apakah vital atau tidak vital. Yang penting rupanya adalah ada modal masuk untuk menggerakkan kegiatan ekonomi, menyerap tenaga kerja yang memberikan kehidupan, dan akhirnya juga memberikan masukan pendapatan kepada negara atau pemerintah.

Selanjutnya elite politik yang berpengaruh melakukan rekayasa politik, ini sebetulnya sadar sepenuhnya bahwa strategi itu adalah pilihan yang harus dilewati lebih dulu supaya ada hasil konkret kepada rakyat berupa peningkatan kesejahteraan. Karena rakyat harus diberi bukti tentang keberhasilan, agar momentum meraih kepercayaan menjadi tidak hilang. Kemudian baru nanti secara bertahap katup-katup yang dipasang untuk menutup kebebasan dibuka secara perlahan-lahan seraya mendorong pembaharuan infrastrukur politik yang berwawasan nasional dan lokal.

Perjalanan pembangunan dengan asumsi seperti itu, walaupun membawa kemajuan pesat di berbagai bidang kehidupan utamanya di bidang ekonomi, tetapi dari segi kemandirian masyarakat ternyata kurang berhasil. Ini yang harus jujur diakui. Yang terjadi adalah sifat ketergantungan kepada pemerintah, khususnya Aceh kepada pemerintah pusat, menjadi semakin mengedepan. Dan, ini juga mendorong menguatnya praktik sentralisasi kekuasaan di pusat-pusat kekuasaan dengan berbagai macam ekses dan penyimpangannya.

 Mengejar rente

Di sini mulai semakin tampak dan terlihat jelas bahwa para elite politik, utmanya di Aceh, mulai mengejar rente yang merupakan fenomena kawasan sedang berkembang yang proses ekonominya relatif dipengaruhi oleh proses politik. Di mana ekonomi dan bisnis dalam masyarakat yang semakin berkembangnya praktik rente, hal ini diwarnai usaha untuk mendapatkan legitimasi non-ekonomi. Fenomena perkembangan mengejar rente inilah yang mempunyai andil berkembangnya bisnis yang tidak efisien, sehingga rakyat terbebani oleh kerugian publik dan risiko politik.

Dalam pengertian secara umum, rente dimaksudkan sewa atas penggunaan faktor produksi seperti, gedung, tanah, modal, tenaga kerja yang mendukung proses produksi dalam ekonomi. Di mana atas pengorbanan berupa tenaga kerja, seorang pekerja mendapatkan upah, Kemudian atas pengorbanan penggunaan modal atau kapital, pemiliknya akan mendapatkan bunga. Sementara itu atas penggunaan tanahnya, pemilik tanah akan mendapatkan imbalan berupa bunga sewa (rente).

Berdasarkan kepada ketiga imbalan di atas tersebut, rente dianggap sebagai perolehan yang paling mudah dan tanpa risiko di antara dua yang lainnya tadi. Yang mana tanah merupakan karunia Allah swt, sesuatu yang natural ataupun sunnatullah, yang secara kebetulan dikuasai seseorang, sekelompok orang bahkan negara.

Selanjutnya atas sumber daya alam (natural resources) ini, kepada penguasa yang menyerahkan untuk proses produksi akan mendapatkan imbalan untuk sesuatu yang dia sendiri tidak mengusahakannya. Dengan usaha yang sangat mudah, juga sangat murah. Hal ini tampak sangat berbeda bilamana dibandingkan dengan imbalan terhadap pemilik tenaga kerja dan pemilik modal atau kapital, dimana untuk mendapatkan imbalan memerlukan pengorbanan yang cukup besar.

Sejalan dengan fenomena yang berkembang pada akhir-akhir ini di bidang politik, ekonomi dan sosial-budaya, di mana pengertian rente sebagai imbalan yang paling tidak berisiko serta paling mudah. Oleh karena itu rente dalam analisis ekonomi politik dimaksudkan sebagai sifat pelaku bisnis untuk memudahkan cara memperoleh keuntungan, baik untuk kepentingan politik, ekonomi, sosial-budaya dan lain sebagainya, dengan menggunakan modal yang menjadi hak milik publik dan kekuasaan politik bagi kepentingan sendiri serta kelompoknya.

Halaman123
Editor: bakri
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas