Köhler

Hari menjelang sore. Jenderal Hermen Rudolf Kohler mendekati geladak. Laut biru Selat Malaka terhampar. Berkali-kali ombak bergulung menghantam

Editor: bakri

Karya Putra Hidayatullah

Hari menjelang sore. Jenderal Hermen Rudolf Kohler mendekati geladak. Laut biru Selat Malaka terhampar. Berkali-kali ombak bergulung menghantam badan kapal. Tak seperti perahu kayu, ini kapal perang modern yang bernama Citadel van Antwerpen. Inilah buah ilmu pengetahuan Eropa nan canggih. Jangankan oleng, goyah pun tak.

Dari saku celananya, jenderal berkumis putih dan tebal itu mengeluarkan lipatan kertas, sebuah kalender kecil tahun 1873. Ia membulatkan angka 10 pada bulan April dan mencatat sesuatu di bawahnya. Lalu memasukkan kertas itu kembali ke saku. Ini hari pertama mereka berangkat dari Pulau Jawa. Angin berhembus. Sepotong bendera Belanda berkibar-kibar di pucuk kapal.

Di bawah matahari rambut Kohler tampak lebih pirang. Ia berdehem dan mengeluarkan sebatang cerutu. Pangkat berwarna emas di bahu dan saku baju militer membuat tubuh tambunnya kelihatan gagah. Ia menghembus asap pertama. Dari jarak jauh terlihat tiga perahu nelayan menjaring ikan. “Sumatra sudah dekat,” pikirnya. Angin laut berhembus kencang. Tak dapat menikmati cerutunya, Kohler kembali ke bilik. Di dinding dekat ruangannya ia berdiri bersandar.

Willems, seorang prajurit muda berambut petak, sudah di sana lebih dulu. Ia salah satu ketua regu. Berada dekat jenderal, ia sedikit gugup. “Berapa hari lagi kita sampai, jenderal?” tanya Willems. Muka tirusnya kelihatan kusut. Di dalam sana ribuan tentara lainnya duduk berselonjor. Sebagiannya bermain kartu. Sesekali terdengar gelak tawa mereka yang  pecah.

“Tanggal 10 April kita duduki Missigit Raya. Sebelum itu,” jawab Kohler. Sejenak terdiam. “Tak bisa kubayangkan melihat pribumi terkulai seperti kambing kehabisan nyawa,” jenderal tergelak. Ia menghembus asap cerutu. “Pribumi yang melawan mesti disekolahkan!” kata Kohler. “Dengan peluru atau meriam. Vuile inlander, pribumi tolol!” lanjutnya. Willems hanya terdiam. Pikirannya mencari-cari pertanyaan lain.

“Kenapa kau diam saja?” sorot mata Kohler tajam. “Tidak, Jenderal” suara Willems tergetar. “Jadi, kenapa gugup? Jangan mempermalukan Belanda. Kita bangsa terhormat. Kau paham?” Willems mengangguk. Ini kesekian kalinya ia dibentak. Mukanya merah. Ingin sekali Willems membalas jenderal yang temperamen itu: Menampar atau memaki di wajah Kohler dari jarak dekat. Sampai air liurnya muncrat. Tapi hanya bisa dikhayalnya saja.

Kapal terus bergerak. Giliran Willems keluar menuju geladak. Dingin malam merambat. Ia menatap gunung-gunung biru mulai ditelan gelap. Ikan lumba-lumba masih menyaingi laju kapal. Terbayang oleh Willems hari ia meninggalkan negaranya. Di pelabuhan, Anke, istrinya yang cantik dan berambut blonde, berderai air mata. Perempuan muda itu berdoa Willems dapat pulang selamat membawa kemenangan, atas nama gold, glory dan gospel.

Riuh gelombang laut makin terdengar. Kian terkenang olehnya Anke yang nun jauh. Baru setahun Willems menikah saat mendapat perintah tugas ke Hindia Belanda. Berbeda dengan para perwira, selama perang perwira dibolehkan membawa istri atau memilih gadis pribumi yang menarik mata untuk dijadikan nyai, gundik. Dalam pada ini, rasa iri terpatri dari hati Willems.

Angin berhembus. Willems menghela nafas. Firasatnya tak enak. Pernah ia dengar dari seorang teman, senjata pribumi itu tak canggih. Hanya bambu runcing, parang, rencong atau sejenis. Tapi sekali waktu ia juga dapat kabar, orang-orang di ujung Sumatra itu ganas bukan buatan.  Beda dari pribumi tempat lain. Mereka gila perang, Aceh Pungo.

Seseorang menyentuh bahu Willems. Ia berbalik, didapatinya seorang prajurit bertubuh tegap, anggota regunya, memberi hormat. “Ada rapat sebentar lagi, Pak,” katanya. Willems berbalik ke dalam kapal. Ia memberi tahu ke setiap komandan regu lain.

***

Perjalanan semakin dekat. Jenderal Kohler berdiri dalam kapal memberi aba-aba. Raut wajahnya serius. Setiap ketua regu berbaris seperti robot. Mereka mendengar perintah. “Besok, 8 April 1873, kita berlabuh di Pantai Ceureumen. Semua siaga. Tak ada tempat aman di Aceh. Setiap orang patut dicurigai. Mereka licik! Sejengkal ke depan dalam keadaan lalai adalah kematian. Kalian mengerti?!” tegas Kohler. “Siap!” jawab prajurit serentak. “Jangan mempermalukan Koninklijk Nederlands Indisch Leger  (tentara Belanda, red)!”

Kohler mondar-mandir. “Mereka bergerilya. Kita tak tahu yang mana di antara pribumi yang ganas. Kita pancing mereka.” Kohler berdehem. Ia membuka sebuah peta dan menempelnya di dinding. Di sana terlihat peta Kuta Raja berwarna hijau. Dengan santai ia menjelaskan beberapa keterangan. “Di sini letak Missigit Raya Baiturrahman,” Kohler menyeringai, “Kita akan membakarnya.”

***

Pantai Ceureumen lengang. Ombak bergemuruh. Seperti semut, 3.198 prajurit Belanda turun dari kapal. Mereka turuni pula alat perang: Puluhan meriam, mesiu, dan peti senapan. Willems terlihat di antara mereka. Senapan laras panjang bergantung di bahunya. Ia melihat Kohler lewat dengan mobil mengontrol gerak prajurit. Mereka akan menduduki masjid raya. Tapi untuk kali pertama ini rencana mereka gagal total. Prajurit pribumi terlampau ganas menerjang.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved