Köhler
Hari menjelang sore. Jenderal Hermen Rudolf Kohler mendekati geladak. Laut biru Selat Malaka terhampar. Berkali-kali ombak bergulung menghantam
***
PAGI itu api berkobar. Asap hitam pekat membumbung di angkasa. Prajurit Belanda telah membakar Masjid Raya Baiturrahman. Untuk kedua kalinya tentara Belanda menyemut, menggandeng senjata di sekitar masjid. Mereka siaga menghadapi lawan. Tak ada musuh yang muncul, Willems menghela nafas. Di halaman masjid, ia melepas penat. Willems berharap tugasnya segera selesai dan pulang hidup dengan Anke dan anaknya. Hidup di Belanda tentu jauh lebih menyenangkan ketimbang di sini.
Kohler datang dengan beberapa petinggi lain. Mereka berdiri di bawah pohon geulumpang depan Masjid Raya. Ia mengambil teropong. Melalui kaca bulat itu ia melihat kebakaran yang sempurna. Bibirnya tersenyum. Pipinya naik. Ia geserkan teropong ke arah lain. Saat itulah, dari jarak seratus meter, ia lihat moncong senjata mengarah padanya.
Dalam hitungan detik, sebutir peluru bersarang di jantung Kohler. “Oh God ik ben getroffen’ (Oh Tuhan, aku kena)” erangnya. Willems melihat sang jenderal tersungkur bersimbah darah. Dalam panik ia teringat sesuatu, “Sejengkal ke depan dalam keadaan lalai adalah kematian… Tak bisa kubayangkan … terkulai seperti kambing kehabisan nyawa…” Sang Jenderal telah termakan kata-kata sendiri.
“Ganas bukan buatan,” batin Willems. Tak lama kemudian ia merasai sesuatu menembus lambungnya. Darah pekat memuncrat. Willems roboh dengan gagang rencong terpancang di perutnya.
* Putra Hidayatullah; penikmat seni dan sastra, alumnus TEN IAIN Ar-Raniry