Rabu, 8 April 2026

Sapi Mati Seusai Diterpa Sinar Matahari

Tujuh ekor sapi bantuan kepada petani yang dilaporkan mati, diduga akibat terkena terpaan sengatan sinar matahari seusai diserahkan

Editor: bakri

* Dinkeswannak Agara Telah Melarang

KUTACANE - Tujuh ekor sapi bantuan kepada petani yang dilaporkan mati, diduga akibat terkena terpaan sengatan sinar matahari seusai diserahkan. Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan (Dinkeswannak) Aceh Tenggara (Agara) sebelum menyerahkan, telah meminta para penerima bantuan untuk mengandangkan sapi dan tidak boleh di bawah terik matahari.

Hal itu diutarakan Kepala Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan (Dinkeswannak) Agara, Ir M Sragafa MPd kepada Serambi, Sabtu (22/6). Dia juga menegaskan, ternak sapi bali atau kambing kacang yang telah diserahkan seusai dengan spesifikasi dan pihaknya tidak akan menerima jika rekanan menyerahkan sapi atau kambing yang tidak sesuai speks sebelumnya.

Disebutkan, jumlah ternak sapi bali yang disalurkan sebanyak 941 ekor yakni 85 ekor jantan dengan harga Rp 6,7 juta/ekor dan 856 ekor betina dengan harga 11 juta/ekor. Dia menyatakan harga tersbut sudah termasuk biaya angkut dari Pulau Jawa dan karatina selama sepekan.

Sedangkan, kambing kacang yang berjumlah 1.100 ekor yakni 1.000 ekor betina yang dibeli dengan harga 700 ribu/ekor dan 100 ekor jantan dengan harga Rp 1 juta/ekor. Dikatakan, harga tersebut sudah termasuk ongkos angkut dari Pematang Siantar, Sumatera Utara dan karantina selama sepekan di Kutacane.

M Sragafa mengatakan ternak sapi bantuan yang telah disalurkan sebanyak 530 ekor ke Kecamatan Darul Hasanah, Ketambe, Bambel dan Lawe Alas, serta tujuh ekor di antaranya mati. “Sapi yang mati akibat terkena langsung sengatan sinar matahari, sehingga mengalami infeksi saluran pernafasan, berdasarkan visum yang telah dilakukan pihaknya,” katanya.

Padahal, sebutnya, saat penyaluran ternak sapi telah disosialisasikan agar untuk sementara waktu tidak boleh langsung terkena sinar matahari. Prihal ternak sapi yang sakit akan tetap diberikan pengobatan selama setahun dan penyaluran ternak bantuan juga dilakukan secara bertahap karena dipasok dari Pulau Jawa dan Pematang Siantar.

Dia kembali menegaskan, jika ternak bantuan itu diperjualbelikan atau dipotong, maka penerima tidak ada rasa memiliki untuk mengembangkannya. Karena, sebutnya, pembagian ternak ini dalam rangka meningkatkan populasi ternak di Agara, seperti yang telah berkembang baik di Desa Lawe Loning Aman dan lainnya, termasuk pemberian hadiah karena berhasil mengembangkan ternak.

M Sragafa juga ingin memberi klrafikasi atas laporan pada Kamis (20/6/2013), bahwa sebagian ternak bantuan Pemkab Aceh Tenggara (Agara), berupa sapi dan kambing mulai mati dan sakit-sakitan. DRPK Agara akan segera melaporkan insiden tersebut ke Polda Aceh untuk segera diselidiki, karena ternak bantuan yang disalurkan juga terlalu kecil dan tidak sesuai dengan spesifikasi semula.

Demikian dikatakan salah seorang anggota DPRK Agara, M Yunir, Kamis (20/6) dalam konferensi pers di ruang kerjanya. Dia menilai, sapi dan  kambing yang dilakukan Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan (Dinkeswannak) Agara, terlalu kecil dan tidak sesuai dengan speks dalam pagu yang dianggarkan per ekor.

Dia mengungkapkan, berdasarkan penelusuran pihaknya, harga sapi yang disalurkan berharga sekitar Rp 5 jutaan/ekor, begitu juga dengan kambing, berkisar Rp 600 ribu/ekor. Bahkan, sebutnya, ternak-ternak tersebut kurang sehat, sehingga sulit dikembangbiakkan oleh penerima bantuan.(as)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved