Opini
Peran Agama dalam Pembangunan Ekonomi
SEBESAR apakah peran agama dalam pembangunan ekonomi? Bagaimanakah nilai-nilai spritual menggerakkan roda ekonomi
Oleh Ichsan M. Ali Basyah Amin
SEBESAR apakah peran agama dalam pembangunan ekonomi? Bagaimanakah nilai-nilai spritual menggerakkan roda ekonomi? Selama berabad-abad, pergumulan manusia untuk bertahan hidup, melawan kemiskinan, dan meningkatkan kesejahteraan, senantiasa bertemu dan berdialog dengan keyakinan, agama dan pemahaman yang dibentuk atasnya.
Filsuf ekonomi terkemuka Amerika, Kenneth Boulding (1970), menyatakan agama memberikan pengaruh yang tak dapat diabaikan dalam perekonomian. Agama menentukan keputusan jenis komoditas yang diproduksi, kelembagaan ekonomi, dan perilaku ekonomi. Meskipun ilmu pengetahuan dan teknologi, investasi, serta sumber daya alam, merupakan faktor-faktor yang sangat berpengaruh dalam perkembangan ekonomi, agama juga dipertimbangkan sebagai elemen penting karena berperan membentuk etos kerja masyarakat.
Pada abad pertengahan, puncak peradaban umat manusia berada di dunia Islam. Bangsa-bangsa muslim dipandang memiliki perekonomian yang lebih unggul dibandingkan dengan negeri-negeri lainnya. Dalam konteks Aceh, Mohammad Said, dalam bukunya Aceh Sepanjang Abad (1981), mencatat pada abad ke-13 Kerajaan Islam Pasai telah memiliki perekonomian yang ekspansif. Di bawah raja Islam pertamanya, Sultan Malik Al-Salih, kerajaan ini mampu mengembangkan perdagangan internasional dengan menjual komoditas-komoditas seperti timah, kapur barus, cengkeh, dan pala.
Beberapa abad kemudian, Kerajaan Islam Aceh di bawah Sultan Iskandar Muda juga telah memiliki hubungan dagang yang luas dengan Cina, Siam, Campa, India, dan beberapa negara Eropa. Kemajuan perekonomian dunia Islam dan Aceh di masa lalu tidak terlepas dari world view (pandangan hidup) masyarakatnya yang berakar dari nilai-nilai transformatif dan kewirausahaan Islam.
Sayangnya, dewasa ini perekonomian masyarakat Islam di banyak tempat menunjukkan kemunduran nyata. Kemiskinan dan keterbelakangan menjadi potret umum kehidupan masyarakat Islam. Nilai-nilai profetik keagamaan kian berjarak dari kehidupan dan perilaku ekonomi, sebuah fenomena yang juga berlangsung dalam masyarakat Aceh kontemporer.
Agama dan perekonomian
Dalam relasi agama dan perekonomian, ajaran Islam lebih ditempatkan pada dua kutub pilihan. Pada kutub pertama, Islam diletakkan pada dimensi ritual yang terpisah dari dimensi sosial-ekonomi. Aktifitas ekonomi tak lagi terkait dengan moralitas keagamaan. Tidak mengherankan jika kemudian maraknya ibadah shalat, puasa, dan haji dalam masyarakat tumbuh bersama meluasnya ketimpangan dan penyimpangan ekonomi (kesenjangan ekonomi, korupsi, kolusi, dll). Pada kutub lainnya, Islam lebih ditekankan pada ibadah yang berorientasi pada akhirat semata. Kemakmuran ekonomi dianggap bukanlah agenda penting kerja kehidupan. Agama pun lantas menjadi seperti kata Marx, “candu bagi masyarakat”. Akhirat adalah pelarian atas kegagalan dan derita kehidupan.
Agama dan pembangunan ekonomi merupakan kisah yang menarik perhatian banyak ilmuwan. Max Weber, sosiolog dan ekonom ternama Jerman, dalam bukunya yang termashur, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1974), menyimpulkan agama merupakan faktor penyebab kemunculan kapitalisme di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Weber mengungkapkan kemajuan ekonomi beberapa negara di Eropa dan Amerika Serikat di bawah kapitalisme disebabkan terutama oleh Etika Protestan yang dikembangkan Calvin.
Calvinisme mengajarkan seseorang sudah ditakdirkan untuk masuk surga atau neraka. Tetapi, yang bersangkutan tidak mengetahui takdir mana yang akan menimpanya. Satu cara mengetahuinya adalah melalui kerjanya di dunia. Kalau seseorang berhasil dalam kerja dunia, dia berpeluang besar masuk surga. Sebaliknya, kegagalan di dunia besar kemungkinan mengantarkannya ke neraka. Kepercayaan ini medorong penganut Calvinisme bekerja keras. Mereka bekerja giat meraih kesuksesan bukan demi kekayaan material semata, melainkan lebih untuk menghalau kecemasannya.
Robert N Bellah, yang terpukau dengan kemajuan ekonomi Jepang, melakukan kajian mengenai pengaruh agama Tokugawa terhadap kehidupan ekonomi masyarakat negeri matahari terbit ini. Senada dengan Weber, dalam bukunya Tokugawa Religion: The Values of Pre-Industrial Japan (1985), Bellah menyatakan nilai kerja keras meraih kesuksesan di dunia juga terdapat dalam agama Tokugawa. Menurut Bellah, nilai tersebutlah yang menjadi pondasi bangunan kapitalisme Jepang dengan perkembangan ekonominya yang menakjubkan. Lebih jauh Bellah juga menganggap kewirausahaan Cina, yang kini masih kita rasakan hantamannya di seluruh dunia, tumbuh dan berkembang dalam pelukan Confusianisme.
Cerita gemilang berbagai penganut agama dan keyakinan dalam mengarungi kehidupan ekonomi semestinya melecut umat Islam. Kebenaran Islam, dengan segenap dimensi ajarannya, mestinya tidak hanya bermakna “kejayaan akhirat” semata, tetapi juga “kejayaan dunia”. Keselamatan akhirat haruslah bertautan dengan pencapaian prestasi ekonomi di dunia. Bukankah Islam menganjurkan kita menjadi pemberi (orang yang mampu)? Karena dalam papa dan sengsara, iman gampang goyah dan tercerabut dari jiwa?
Menyemai etos kerja
Sebagai wilayah penyebaran Islam pertama di Nusantara dan daerah yang menerapkan syariat Islam, Aceh semestinya menjadi pelopor pembangunan ekonomi yang berorientasi pada nilai-nilai Islam. Etos kerja yang merupakan kekuatan kemajuan perekonomian Aceh masa lampau perlu disemai kembali di tengah kehidupan masyarakat. Untuk itu, diperlukan revitalisasi doktrin-doktrin ajaran Islam seperti ibadah, amal shalih, amanah, dan ta’aruf.
Ibadah, misalnya, masih banyak dibahas dalam makna sempit, yaitu menyangkut aspek ritual seperti shalat, puasa dan hubungan lainnya antara manusia dengan Allah. Ibadah dalam makna luas, misalnya mencari rizki dan menuntut ilmu, perlu lebih dikembangkan. Amal shalih, dalam kehidupan sehari-hari, juga masih banyak dihubungkan dengan kegiatan bersifat derma, seperti membantu korban bencana, menyumbang pembangunan masjid, atau menolong fakir miskin. Semestinya, membuka lapangan pekerjaan dan memberdayakan ekonomi masyarakat, misalnya, sepanjang diniatkan sebagai pengabdian kepada Allah, juga merupakan amal saleh utama.
Amanah, mesti lebih banyak lagi dikaitkan dengan tanggung jawab pemimpin atau pemegang otoritas publik. Tanggung jawab mereka semestinya melayani masyarakat dan bekerja meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan memburu keuntungan pribadi, keluarga, atau kelompok. Sementara itu, ta’aruf (saling mengenal dan memahami) dapat menjadi doktrin bagi perlunya interaksi dan kerjasama dengan berbagai pihak dalam perdagangan. Keberhasilan ekonomi kaum muslimin dan masyarakat Aceh di masa lalu dibangun dari hubungan perdagangan dengan berbagai negara, agama, ras dan suku bangsa.
Dalam hiruk pikuk upaya individu, masyarakat, dan bangsa memburu nafkah dan kekayaan di abad 21 ini, modal agama (spiritual capital) telah ditempatkan sebagai sumber daya ekonomi yang menentukan. Mencapai kemakmuran dipandang banyak keyakinan sebagai penggerak dan misi suci (sacred mission) mewujudkan pesan-pesan Ilahiah. Di tengah perkembangan mondial ini, doktrin-doktrin Islam yang progresif dan transformatif mestinya dapat mengambil ruang lebih luas. Para ulama, umara, dan cendekiawan diharapkan berada di garda terdepan mengumandangkan doktrin-doktrin tersebut dan mendorong perwujudannya dalam perubahan ekonomi, politik, sosial dan budaya. Dengan demikian, Islam akan lebih dapat memenuhi panggilan sejarahnya membangun peradaban dan meningkatkan kemakmuran umat manusia.
* Dr. Ichsan M. Ali Basyah Amin, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh (Unimal), Lhokseumawe. Email: ichsan28@yahoo.com