KUPI BEUNGOH
Darurat Iklim: Ancaman Nyata bagi Sistem Kesehatan Global
Perubahan iklim perlu dipahami sebagai determinan kesehatan yang bekerja melalui kerusakan ekosistem, gangguan terhadap ketersediaan air dan pangan
Oleh: Ns. Dara Rizkasary, S.Tr. Kep*)
Perubahan iklim semakin diakui sebagai salah satu ancaman utama bagi kesehatan masyarakat global, bukan sekadar persoalan lingkungan fisik seperti kenaikan suhu, banjir, atau naiknya permukaan air laut.
Berbagai perubahan iklim meliputi peningkatan frekuensi gelombang panas, perubahan pola curah hujan, kekeringan, dan bencana hidrometeorologi secara langsung maupun tidak langsung mengancam kualitas hidup dan derajat kesehatan manusia, terutama pada kelompok yang secara sosial dan ekonomi berada dalam posisi paling rentan.
Baca juga: Banda Aceh Masuk Daftar Daerah Terpanas di Indonesia, Bogor dan Papua Barat Pimpin Suhu Tertinggi
Dengan demikian, perubahan iklim perlu dipahami sebagai determinan kesehatan yang bekerja melalui kerusakan ekosistem, gangguan terhadap ketersediaan air dan pangan, serta tekanan terhadap sistem pelayanan kesehatan.
Laporan The Lancet Countdown 2024 menunjukkan bahwa sejumlah indikator kesehatan terkait iklim menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, antara lain meningkatnya paparan penduduk terhadap gelombang panas, meluasnya risiko penyakit menular, serta memburuknya ketahanan pangan dan air.
Kondisi ini menandakan bahwa perubahan iklim telah mengubah pola beban penyakit di berbagai wilayah, bukan hanya melalui peningkatan penyakit infeksi, tetapi juga melalui kenaikan kasus penyakit pernapasan, gangguan nutrisi, dan kematian terkait suhu ekstrem.
Baca juga: VIDEO - Sembilan Jamaah Haji Aceh Meninggal Dunia di Tanah Suci
Temuan tersebut memperkuat pandangan bahwa krisis iklim telah menjadi krisis kesehatan yang berlangsung saat ini, bukan ancaman masa depan yang abstrak.
World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa pada periode 2030–2050, perubahan iklim akan menyebabkan sekitar 250.000 kematian tambahan per tahun akibat malnutrisi, malaria, diare, dan stres panas.
Baca juga: Haji Uma Bantu Pulangkan Warga Langsa yang Terlantar di Malaysia Setelah Lari dari Kejaran Agen
Proyeksi ini disusun secara konservatif dan hanya mencakup sebagian dari keseluruhan dampak kesehatan yang mungkin terjadi, sehingga beban sebenarnya berpotensi lebih besar bila tidak diimbangi dengan upaya adaptasi dan mitigasi yang efektif.
Selain itu, WHO menegaskan bahwa perubahan iklim mengancam “bahan dasar” kesehatan, yaitu udara bersih, air minum yang aman, pangan bergizi, dan tempat tinggal yang layak, serta berpotensi mengikis capaian pembangunan kesehatan selama beberapa dekade terakhir.
Meskipun urgensinya terus meningkat, respons sistem kesehatan di banyak negara masih didominasi pendekatan kuratif.
Perencanaan dan pembiayaan kesehatan cenderung berfokus pada layanan pengobatan setelah penyakit muncul, pembangunan rumah sakit, dan pengadaan teknologi medis, sementara integrasi perspektif iklim dan lingkungan dalam kebijakan kesehatan masyarakat berkembang lebih lambat.
Baca juga: Awak Beutong Ijoe Racing Team Borong Gelar Juara pada Grasstrack Piala Kapolres Nagan Raya
Pola ini menyebabkan fasilitas kesehatan mudah kewalahan ketika terjadi bencana iklim atau lonjakan penyakit terkait perubahan cuaca, karena sistem belum dirancang untuk mengantisipasi dan menyerap guncangan secara berkelanjutan.
Dalam konteks ini, perubahan iklim mengungkap kelemahan struktural sistem kesehatan global yang kurang menempatkan pencegahan dan ketangguhan (resilience) sebagai prioritas utama.
Dampak perubahan iklim terhadap kesehatan juga tidak bersifat merata; kelompok rentan menanggung beban yang lebih berat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Ns-Dara-Rizkasary-STr-Kep.jpg)