Sabtu, 16 Mei 2026

Opini

Generasi Muda Aceh dalam Peradaban Semu

POTRET kehidupan generasi muda Aceh saat ini dalam kondisi yang sangat-sangat memprihatinkan

Tayang:
Editor: bakri

Oleh Ibnu Aswiar Putra

POTRET kehidupan generasi muda Aceh saat ini dalam kondisi yang sangat-sangat memprihatinkan. Generasi berprestasi hanya tinggal sekumpulan kecil dari sebagian besar generasi yang tergerus budaya modernisasi, mereka kini berada dalam peradaban semu. Kehidupan dan pergaulan sebagian besar generasi muda sekarang sudah sangat jauh menyimpang dari norma agama dan nilai budaya Aceh yang islami, mulai dari pakaian (jilbab seadanya dan pakaian ketat) yang masih banyak ditemui di seluruh pelosok Nanggroe. Penyalahgunaan narkoba dan budaya seks bebas, begitu cepat menyebar dan telah mewarnai kehidupan muda-mudi Aceh pascatsunami. Mereka seakan lupa kalau bumi ini pernah mendapat teguran yang sangat keras dari Allah Swt beberapa tahun yang silam.

Islam adalah karakter, budaya islami adalah ruh dan jiwa orang Aceh tapi budaya islami sudah jauh panggang dari api, berboncengan sambil pelukan dengan yang bukan muhrim seakan sudah tidak tabu lagi dipertontonkan disepanjang jalan. Berdua-duaan dan bermesraan di cafe dan pinggiran pantai sudah menjadi budaya baru yang seakan tak ada lagi yang peduli tapi malah mengamini. Inikah yang dinamakan bumi Serambi Mekkah? Nanggroe Syariat?

Atau, apa pun istilah dan namanya, yang jelas fenomena yang terjadi saat ini sudah sangat jauh menyimpang dari slogan-slogan tersebut. Islam sebagai ruh, karakter dan jati diri orang Aceh seakan hilang ditelan bumi. Budaya modernisasi telah mempengaruhi sebagian besar generasi muda kita dari berbagai aspek. Bila ini kita biarkan maka karakter dan budaya Aceh yang islami akan hilang dengan sendirinya, Aceh akan memasuki peradaban semu (suatu peradaban yang rapuh, yang jauh dari norma agama dan nilai budaya).

Bahasa sebagai sarana komunikasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan jati diri dan menunjukkan identitas suatu peradaban. Bila tidak kita lestarikan, maka peradaban ini akan hilang. Sungguh sangat menyedihkan manakala masyarakat Aceh sekarang, terutama generasi muda merasa ‘minder’ berbahasa Aceh. Bahkan sebagian ada yang merasa malu mengakui diri sebagai orang Aceh. Banyak saya temui generasi muda merasa gengsi berbahasa Aceh dan berlogat Aceh dianggap kampungan, disepelekan dan sering menjadi ejekan di antara teman-temannya, terutama yang putri. Seharusnya ini tak boleh terjadi, entah dari mana awalnya sehingga mereka merasa malu berbahasa dan berlogat Aceh. Kalau kita sudah tidak bangga lagi dengan keacehan kita, siapa lagi yang akan melestarikan bahasa ini? Siapa lagi yang akan menyelamatkan peradaban ini?

 Identitas dan karakter
Sikap yang ditunjukkan sebagian besar generasi muda Aceh terkesan mulai menjauh dari budaya, adat dan bahasa Aceh. Sikap ini sangat bahaya dan tidak bisa dibiarkan begitu saja, bila kita tidak ingin identitas dan karakter dari nilai-nilai adat Aceh terkikis dari jiwa generasi muda kita secara total di kemudian hari. Minimnya pengetahuan dan penghayatan terhadap nilai-nilai adat tanpa disadari telah membuat mereka lupa akan adatnya sendiri secara perlahan tapi pasti. Keanehan semakin terasa manakala kita melihat sikap sopan santun, saling menghargai dan menghormati sudah menjadi barang langka yang jarang kita temui pada diri generasi muda kita.

Apa yang terjadi selama ini tentu saja tidak mutlak kesalahan ada pada generasi muda tapi generasi tua juga memiliki andil yang cukup besar. Gap (jurang pemisah) antar generasi ini sangat kental terasa di gampong-gampong, generasi tua terkadang terkesan angkuh dan menyepelekan yang muda.Nasehat yang diberikan sering kali bukan teguran lisan yang sopan, menggugah dan memberi pemahaman tapi lebih cenderung berupa amarah dengan nada sinis.Sikap berlawanan ini justru semakin memperkeruh dan memperumit masalah sosial dalam kehidupan masyarakat Aceh saat ini.

Percaya ataupun tidak, tanpa kita sadari tayangan yang ditonton oleh anak-anak kita telah dijadikan tuntunan oleh sebagian besar generasi muda kita. Pergaulan bebas, narkoba, kekerasan, modernisasi dan westernisasi telah menyeret generasi muda kita ke dalam peradaban semu. Ada beberapa pandangan keliru di antara generasi muda, seperti bukan anak gaul, misalnya, bila belum mencicipi narkoba atau merasa kuno, kampungan dan ketinggalan zaman kalau pacaran cuma sebatas pegangan tangan doang, dan lain sebagainya.

Bila orang tua tidak tanggap dan membatasi tontonan yang tidak bermanfaat, maka tidak tertutup kemungkinan suatu saat nanti tontonan akan dijadikan tuntutan. Sebaliknya, yang seharusnya dijadikan tuntunan malah dijadikan tontonan oleh generasi muda kita. Kalau sudah begini, pasti akan terjadi saling menyalahkan di antara kita; Ada yang mengatakan salah pemerintah, sekolah, balai pengajian, guru dan ulama. Padahal, yang paling bertanggung jawab atas seorang anak adalah orang tuanya sendiri.

Karakter seorang anak terbentuk dari tiga faktor utama: orang tua, institusi pendidikan (sekolah/balai pengajian), dan lingkungan. Dari ketiga faktor ini, orang tua mempunyai peranan 60%, sekolah/ balai pengajian 25%, dan lingkungan 15%. Kalau ditilik dari segi agama, maka orangtua berperan 100% terhadap pembentukan karakter anak sesuai dengan sabda Nabi Muhammad saw: “Setiap manusia dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Waspadalah wahai para orang tua, secara tersirat pada hadis di atas mengandung perintah bagi kita untuk mendidik anak-anak agar senantiasa berada dalam fitrahnya, dan mengandung ancaman bagi orang tua yang mengajarkan atau membiarkan anaknya berada dalam kesesatan. Ada beberapa poin pokok yang menjadi ancaman bagi orang tua dari hadis tersebut: Orang tua yang mengajarkan akidah dan akhlak Yahudi, Nasrani dan Majusi. Orang tua yang memberi contoh kepada anaknya melalui perbuatannya, sehingga anaknya pun mengikutinya. Dan orang tua yang tidak mengajarkan anaknya dan tidak pula mencontohkan. Tidak mendidik dengan akidah dan akhlak yang islami sejak dini, dan tidak menjaga pergaulan anak mereka. Sehingga lingkungan mengubahnya untuk berakidah dan berakhlak seperti Yahudi, Nasrani, dan Majusi.

 Kewajiban orang tua
Maka sudah kewajiban kita sebagai orangtua agar selalu berusaha untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya untuk diri kita sendiri, kemudian mengajarkannya kepada keluarga kita (anak dan istri, terutama anak) agar mereka senantiasa tetap berada di atas fitrahnya dan tidak teracuni oleh akidah, akhlak dan perbuatan seperti Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Na’udzubillaahi min zalik. Semoga Allah menetapkan kita dan keluarga kita agar selalu berada di atas fitrah hingga akhir hayat.

Cara terbaik dalam mendidik adalah dengan memberi contoh, teladan, dan pemahaman bukan hanya dengan menyuruh, melarang, apalagi memaksakan. Setiap orangtua pasti menginginkan anak yang shalih, shalihah, berakidah dan ber-akhlaqul karimah, tapi sangat sedikit orang tua yang menyadari kalau sesungguhnya itu semua ada dan dimulai dari dirinya sendiri (orang tua), bukan dari sekolah dan balai pengajian. Sekolah dan balai pengajian hanya sarana yang bersifat membantu orangtua mewujudkan keinginannya.

Institusi pendidikan sebagai sarana perpanjangan tangan orangtua juga memiliki peranan dalam membentuk karakter dan jati diri generasi muda. Perlu penambahan kurikulum ekstra: Bahasa dan Budaya Aceh, Alquran dan Tajwid, Akidah dan Akhlak, dan Tahfidz Quran, terutama untuk tingkat sekolah SD-SMA. Pelajaran Bahasa-Budaya Aceh mutlak diperlukan supaya generasi muda Aceh tidak kehilangan karakter dan identitas seperti sekarang ini. Pelajaran Alquran-Tajwid, Akidah-Akhlak, dan Tahfidz Quran merupakan dasar untuk membentuk generasi Qurani yang mempunyai landasan agama yang kuat untuk kemajuan dan tegaknya syariat Islam di Aceh pada masa yang akan datang.

Pemerintah sebagai pemegang kekuasaan memiliki wewenang dan tanggung jawab dalam menjaga dan melestarikan agama, budaya dan bahasa melalui qanun dan kebijakan-kebijakannya. Diperlukan beberapa qanun khusus yang mengatur kurikulum baru (Bahasa-Budaya Aceh, Alquran-Tajwid, Aqidah-Akhlak, dan Tahfidz Quran) di sekolah dasar dan menengah. Dan qanun tentang kewajiban berbahasa Aceh sebagai bahasa sehari-hari masyarakat. Kita juga mengharapkan agar pemerintah memberikan perhatian khusus pada masalah pendidikan, agama, akhlak, budaya dan bahasa. Jangan hanya fokus pada pembangunan infrastruktur saja. Semoga generasi muda Aceh bisa menemukan kembali karakter dan identitasnya, tidak terseret arus modernisasi dalam peradaban semu. Amin!

* Ibnu Aswiar Putra, SE, Aneuk Aceh Peduli Nanggroe, yang menjadi Mahasiswa tugas belajar di Yogyakarta. Email: ibnuaswiar@gmail.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved