Sabtu, 11 April 2026

Citizen Reporter

Tanpa Sepmor pun Beijing Macet

KETIKA mendengar nama Beijing, maka yang pertama sekali melintas di pikiran saya adalah sebuah kota metropolitan dengan tata kota

Editor: bakri

OLEH YULI FHIRMARIJAL, pemenang Kompetisi Tulis Nusantara 2014 yang diadakan Kemenparekraf RI, melaporkan dari Beijing

KETIKA mendengar nama Beijing, maka yang pertama sekali melintas di pikiran saya adalah sebuah kota metropolitan dengan tata kota yang apik dan mengagumkan. Pertimbangan saya tentu saja karena ibu kota RRC ini sedang bersiap “menguasai” dunia melalui kemajuan perkenomiannya. Tapi semua anggapan itu lenyap seketika begitu saya injakkan kaki di ibu kota Negeri Tirai Bambu ini.

Bersama dua orang panitia, satu orang juri, dan dua staf Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI, saya dan dua pemenang Kompetisi Tulis Nusantara (KTN) 2014 mengikuti Writing Getaway ke Beijing yang digelar pada 29-30 Agustus 2014. Saya memenangi kategori novel, sementara dua orang lainnya juara cerpen fiksi dan cerpen nonfiksi.

Writing Getaway adalah hadiah utama dari KTN. Beberapa agenda di dalamnya adalah ikut seminar kepenulisan, menghadiri Beijing International Book Fair 2014, dan mengunjungi tempat wisata di Beijing. Seminar kepenulisan dan BIBF menjadi agenda yang kami ikuti pada 29 Agustus, sementara hari selanjutnya fokus kami adalah berwisata ke tempat-tempat peninggalan peradaban Cina yang bersejarah.

Kami tiba di Bandara Internasional Beijing sekitar pukul 07.30 pagi waktu setempat, satu jam lebih cepat dibandingkan Jakarta. Jadi, waktu di Beijing sama dengan waktu di Indonesia Bagian Tengah (WITA). Sempat ada kekhawatiran ketika awak pesawat mengumumkan bahwa suhu di bandara mencapai angka 19 derajat Celcius. Tapi entah karena terlalu bersemangat, perbedaan cuaca tidaklah menjadi masalah.

Di bandara, sempat ada cerita menarik. Saya mengira hanya toilet di Indonesia saja yang kondisinya ‘memprihatinkan’. Ternyata toilet di Beijing juga begitu. Begitu memasuki toilet, kita akan ‘disambut’ oleh bau khas toilet yang sangat menyengat. Ali, guide kami, sempat berceloteh, “Kalau mau mencari toilet di Cina cukup dengan mengendus saja baunya, maka Anda akan menemukannya!”

Menggunakan van, kami ke luar dari bandara. Seperti kota-kota besar lainnya, tak jauh dari bandara kami langsung disambut oleh masalah yang dialami oleh hampir semua kota besar di dunia: kemacetan. Parahnya lagi, beberapa orang yang berasal dari Jakarta sempat berkomentar, “Ini macetnya melebihi Jakarta!” Dan memang benar, dari jendela kamar hotel di Beijing Wuhuan Hotel saya bisa saksikan kemacetan sejak pagi dan baru berakhir pukul 10 malam lewat.

Meskipun pemerintah sudah menerapkan berbagai cara untuk mengatasi hal ini, sepertinya itu belum cukup berhasil. Alasannya, iklim persaingan bisnis mobil pribadi di Cina yang begitu hidup. Akibatnya, harga mobil di Cina menjadi sangat murah, berkisar di antara 20.000 hingga 30.000 yuan. Jika dirupiahkan, maka itu sekitar 40 hingga 60 juta saja! Bandingkan dengan harga mobil baru di Indonesia yang paling murah berada di kisaran angka Rp 105 juta.

Rendahnya kesadaran pengguna jalan juga berperan terhadap kemacetan, meskipun ini terjadi hanya di ruas jalan tertentu. Misalnya, parkir yang semrawut di bahu jalan, terutama di ruas jalan di depan area perkantoran. Hampir setengah lebar jalan dijadikan lahan parkir. Selain itu, isu “hati-hati menyeberang jalan di Beijing” ternyata memang bukan isapan jempol. Lagi pula, meski lampu hijau sudah menyala, bisa saja ada kendaraan yang melintas dengan kecepatan tinggi!

Ada beberapa solusi yang coba diterapkan Pemerintah Beijing di kota yang dihuni lebih dari 20 juta jiwa ini. Pertama, menarik minat warga untuk naik bus. Caranya adalah dengan menekan tarif hingga 40 sen (lebih kurang Rp 800) untuk jarak dekat dan 60 sen (lebih kurang Rp 1.200) untuk jarak jauh. Namun, solusi ini belum cukup berhasil. Terbukti perusahaan bus terus merugi dari tahun ke tahun. Demi menghindari kebangkrutan perusahaan bus yang tentu saja akan menambah masalah, pemerintah kota terpaksa membayar kerugian itu.

Solusi kedua yang diterapkan Pemko Beijing adalah melarang penggunaan sepeda motor (sepmor). Alasannya, sepmor berperan besar terhadap kemacetan jalan. Harganya yang sangat murah serta pergerakannya yang lebih dinamis dari mobil—terutama ketika berada di lokasi kemacetan—menjadi pertimbangan pemerintah untuk meniadakan alat transportasi jenis ini di pusat kota. Makanya jangan heran jika Anda tak menemukan satu sepmor pun di sepanjang ruas jalan Beijing. Yang ada hanyalah sepeda listrik atau sepeda motor berdaya baterai yang tak boleh dipacu melebihi kecepatan 30 km/jam.

Adapun sepeda, jumlahnya lebih banyak lagi, sebab di Beijing disediakan jalur khusus untuk pesepeda di sebelah pejalan kaki.

Well, meski belum cukup berhasil, tapi solusi terakhir ini sepertinya layak jadi alternatif untuk diterapkan di Indonesia, terutama di kota-kota besar. Selain memperkecil risiko kemacetan, juga mengurangi polusi udara. Tentu saja diimbangi dengan peningkatan kualitas bus umum dan pembangunan infrastruktur jalan yang lebih baik. Tanpa dua hal terakhir ini, sepertinya pelarangan penggunaan sepmor akan sia-sia belaka. Semoga pemerintahan baru Indonesia mampu melakukan perubahan ke arah yang lebih maju, termasuk di bidang transportasi.
[email penulis: yulifhirmarijal@gmail.com]

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke redaksi@serambinews.com

Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved